Kasus Penganiayaan, Polisi Periksa Guru dan Siswa

Korban berinisial KM dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Cirebon, Minggu (8/12). FOTO:AGUS RAHMAT /RADAR CIREBON

CIREBON-Aparat Polres Cirebon Kota (Ciko) mendalami dugaan penganiayaan dan atau pengeroyokan yang dialami siswa MTs berinisial KM. Polisi melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi.

“Masih proses penyelidikan. Dugaannya tentang penganiayaan atau pengeroyokan,” ujar Kapolres Cirebon Kota AKBP Roland Ronaldy melalui Kasat Reskrim AKP Deny Sunjaya saat dihubungi Radar Cirebon, Senin (9/12).

Deny menjelaskan, penyidik telah memeriksa 8 orang yang diduga mengetahui atau terlibat dalam peristiwa penganiayaan tersebut. Para pihak yang diperiksa terdiri dari guru dan siswa. Seluruhnya masih berstatus saksi dan belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. “Ini sementara semuanya masih dalam taraf saksi karena masih penyelidikan,” tuturnya.

Deny menyatakan, hingga kini pihaknya belum dapat menyimpulkan mengenai motif dari peristiwa yang membuat korban KM mengalami sejumlah luka tersebut. Pihaknya masih perlu mendalami keterangan dari pihak lain, termasuk korban yang hingga kini masih dirawat di rumah sakit. “Kita masih mendalami motifnya. Kita lihat nanti hasil penyelidikannya bagaimana, biar utuh, nggak sepotong-sepotong. Korban kan masih dirawat, masih belum bisa diminta keterangan,” ucap Deny.

Begitu pun mengenai kronologi yang masing-masing pihak menyampaikan versinya sendiri-sendiri. Meski begitu, Deny enggan menyebut versi dari terduga pelaku atau saksi lain seperti guru yang diduga mengetahui peristiwa tersebut. “Jadi yang jelas pasti ada sebabnya. Cuma sekarang kalau menyangkut sebabnya masih ada versi masing-masing ya. Nanti kita dalami semuanya,” jelasnya.

Lebih lanjut Deny menyatakan jika dalam peristiwa tersebut tidak ada unsur penyekapan. Peristiwa yang dialami korban terjadi saat itu juga di lingkungan sekolah. Ia juga memastikan jika saat peristiwa tersebut terjadi pintu ruang kelas tidak dalam kondisi terkunci. “Intinya itu tidak ada penyekapan. Jadi kejadiannya langsung hari itu juga di kelas atau di lingkungan sekolah. Kejadiannya langsung. Pintu nggak dikunci,” terang Deny.

Ia memastikan kasus tersebut akan diusut tuntas dan sesuai hukum yang berlaku. Karena terduga pelaku anak di bawah umur, pihaknya pun akan melibatkan dinsos dan Balai Pemasyarakatan (Bapas). “Ini perlu diketahui juga karena anak-anak di bawah umur, sehingga dalam hal kita menangani, harus didampingi dari dinas terkait. Dari dinas sosial kemudian juga dari Bapas untuk proses diversi (pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana),” tandasnya. (day)

Berita Terkait