Kasus Korupsi Sunjaya, Saksi Ngaku Nggak Bisa Tidur, Nggak Tenang

Ilustrasi

CIREBON- Sunjaya Purwadisastra menyeret banyak orang untuk diperiksa KPK. Selasa (15/10) misalnya, komisi anti rasuah kembali para saksi, sebagai tindaklanjut Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang menjerat mantan bupati Cirebon itu. Mereka yang diperiksa adalah pemilik tanah di Desa Cisaat, Kecamatan Dukupuntang, yang menjual tanah pada Sunjaya antara tahun 2015-2016.

Total ada enam orang pemilik tanah yang diperiksa. Salah satunya Ani Suhartini. Kepada Radar Cirebon, Ani mengaku perasaannya  sudah tidak karuan sejak menerima undangan pemeriksaan KPK pada Jumat lalu (11/10). “Saya terima undangan Jumat. Waktu terima undangan itu perasaan saya nggak karuan. Ada rasa khawatir, deg-degan,” ujarnya.

Bahkan, karena undangan tersebut, dirinya sempat tak bisa tidur. “Saya nggak bisa tidur, nggak bisa makan. Ya namanya orang kampung kaya kita terima undangan dari KPK, jadi pikiran sudah macam-macam. Saya ini seumur-umur dari lahir sampai sekarang, baru masuk kantor polisi untuk diperiksa KPK,” tuturnya.

Dia mengaku tidak mengetahui sama sekali jika pada akhirnya akan diperiksa KPK terkait dengan kasus TPPU Sunjaya. “Saya nggak tahu sama sekali kenapa saya diperiksa. Saya tahu kenapa saya diperiksa ya setelah diperiksa. Soal tanah, saya menjual tanah sama seperti yang lain. Tidak tahu kalau yang beli adalah Sunjaya, karena memang nggak melalui Sunjaya langsung,” ungkap Ani.

Ani mengatakan dirinya merasa tertipu sekaligus kecewa ketika mengetahui tanahnya ternyata dibeli Sunjaya. “Tahu begini dan ternyata yang belinya Sunjaya, saya nggak mau jual. Seumpamanya saya butuh juga (butuh uang, red) saya nggak mau jual ke Sunjaya. Apalagi harus berurusan diperiksa sama KPK,” ujarnya.

Ani mengungkapkan dirinya menjual tanah di desanya sebanyak sepertiga hektare. “Saya lupa tahun berapa. Saya dapat uang sekitar Rp700 juta dari penjualan tanah itu. Tapi kita dan yang lainnya ada yang mengkoordinir. Yang jelas kita tidak tahu kalau yang beli tanah kita itu Sunjaya,” lanjutnya.

Pemilik tanah lainnya, Rasiman, mengatakan dirinya menjual tanah sebanyak 112 bata. “Satu batanya itu dihargain Rp2 juta. Jadi saya nerima uang Rp200 jutaan lebih,” tuturnya. Sama dengan Ani, Rasiman sama sekali tidak mengetahui pembeli tanahnya tersebut adalah Sunjaya. “Saya nggak tahu siapa yang beli. Cuma kaya ada yang mengkoordinir pembelian tanah di Desa Cisaat ini,” katanya.

Rasiman pun mengakui dirinya sangat gelisah begitu mendapatkan undangan dari KPK. “Sama, saya juga kepikiran. Sudah nggak karuan pasa dapat undangan dari KPK. Saya juga nggak tahu tadinya kenapa saya diperiksa sama KPK. Tahunya masalah tanah dengan Sunjaya ya setelah diperiksa,” ungkapnya.

Warga lainnya, Hasan, mengatakan tanah ibunya yang dibeli oleh Sunjaya. “Tanah punya ibu saya. Dan ibu saya sudah meninggal, jadi pemeriksaan diwakilkan kepada saya. Kami sama sekali nggak tahu tentang proses penjualan tanah itu,” tuturnya.

Dirinya baru sadar jika tanah ibunya dijual saat mendapatkan panggilan dari KPK. “Sama sekali saya nggak tahu. Malah saya sadar tanah ibu saya telah dijual setelah diperiksa sama KPK,” ungkapnya. (den)

Berita Terkait