Kampung Kurma Diguncang Masalah, di Cirebon Target 450 Hektare

Label Syariah Jadi Modus Gaet Investor

Kawasan Kampung Kurma di Kecamatan Karangwareng, Kabupaten Cirebon. Investasi berlabel syariah itu kini disorot setelah banyak investor yang meminta uangnya dikembalikan.FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON-Investasi Kampung Kurma saat ini tengah disorot. Hal tersebut terjadi setelah konsep investasi dengan pembelian lahan kavling dan ditanami pohon kurma tersebut sampai dengan saat ini tidak kunjung membuahkan hasil.

Investasi Kampung Kurma juga ada di Cirebon. Bahkan luas lahannya saat ini sudah tersebar di hamparan 9 desa yang terletak di wilayah Kecamatan Karangwareng dan Kecamatan Waled. Di Cirebon, investasi Kampung Kurma sudah berjalan kurang lebih sudah tiga tahun. Cirebon sendiri merupakan pengembangan bisnis dari Kampung Kurma yang ada di wilayah Bogor dan beberapa kota lainnya.

“Kampung Kurma yang di Cirebon ini sama dengan yang ada di Bogor. Satu naungan. Manajemannya ya sama. Cirebon merupakan pengembangan yang dari Bogor,” ujar Darto, karyawan Kampung Kurma Cirebon saat ditemui Radar Cirebon.

Darto sendiri tidak tahu jumlah luas lahan Kampung Kurma yang ada di Cirebon. Namun ia menyebut target pengembang saat itu sekitar 450 hektare. Kawasan tersebut jika terealisasi akan sangat strategis. Terlebih dengan akan segera dibangunnya Waduk Cipanundan, membuat lokasi tersebut sangat cocok untuk investasi Kampung Kurma.

Harga kavling di Kampung Kurma Cirebon, kata Darto, cukup beragam. Dari yang awalnya Rp89 juta sampai ada juga yang harganya Rp120 juta. Luas kavling sendiri untuk satu bidangnya seluas 400 meter persegi sampai dengan 500 meter persegi. “Kalau yang beli di sini sudah banyak. Kalau tidak salah jumlah investasinya sudah sekitar 500 sampai dengan 600 bidang. Tapi detailnya persis kurang tahu. Nanti tiap investasi dapat 5 pohon kurma,” paparnya.

Ia pun tak menampik jika saat ini tengah ada gejolak terkait investasi Kampung Kurma. Menurutnya, Kampung Kurma saat ini tengah menghadapi persoalan yang sebanarnya bukan disebabkan oleh Kampung Kurma itu sendiri. ”Kalau saya masih optimis ini bisa terealisasi tahun depan, meskipun saat ini ada sedikit masalah. Masalah sebenarnyakan bukan ada pada Kampung Kurma, tapi ada pada makelar tanah atau pihak ketiga,” tegas Darto.

Darto sendiri menyebut hampir setiap hari banyak investor yang datang meminta penjelasan kepadanya terkait kelanjutan serta kejelasan investasi Kampung Kurma. Bahkan tidak jarang ada investor yang datang sampai marah-marah menuntut kejelasan investasi Kampung Kurma. “Kalau ada investor yang datang saya hadapi, saya sampaikan sesuai keadaan. Alhamdulillah ada yang mengerti, tapi ada juga yang marah-marah. Ya saya tidak bisa apa-apa, saya di sini kan hanya kerja,” paparnya.

Ditambahkan Darto, selain keberadaan tanaman kurma yang menurutnya bisa tumbuh sampai berbuah di Cirebon, di lokasi tersebut pernah ada beberapa bisnis. Di antaranya budidaya lele dan budidaya cacing. Tapi saat ini budidaya lele dan cacing sudah dihentikan dan tak lagi dijalankan karena tidak efisien.

“Tinggal kurma saja di sini. Kita rawat dan kita jaga agar tumbuh dan bisa berbuah. Memang tidak semuanya berbuah, tapi ada yang sudah berbuah dan diambil warga. Kebanyakan baru tumbuh kembang terus kering dan mati kembangnya,” tukasnya.

Halaman: 1 2

Berita Terkait