Kalau One Way Diterapkan di Kota Cirebon Rute Angkot Bagaimana?

Angkot
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cirebon akan melakukan kajian terkait rencana one way di sejumlah ruas jalan. Namun ada permasalahan lain yang juga patut menjadi pertimbangan. Salah satunya trayek angkot.FOTO: OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cirebon akan melakukan kajian terkait rencana one way di sejumlah ruas jalan. Namun ada permasalahan lain yang juga patut menjadi pertimbangan. Salah satunya trayek angkot.

Sekertaris DPD Organda Cirebon Karsono SH mengapresiasi ada upaya dishub untuk mengurai kemacetan. Sebab, di Kota Cirebon mulai tumbuh beberapa titik kemacetan baru. Dan itu menjadi indikator kota yang sedang berkembang.

Namun demikian, berkaca dari penerapan kebijakan one way yang pernah diberlakukan sebelumnya, ia berharap tidak sampai terulang. Misalnya di Jl RA Kartini. Yang ternyata hanya memindahkan kemacetan ke titik yang baru.

“Jadi harus diurut dulu masalahanya. Jl Kartini dibikin one way, buanganya kemana? Karena itu sangat berdampak bagi masyarakat. Jadi harus dilihat dulu, jangan sampai kebijakan one way hanya memindahkan kemacetan,” ujarnya.

Dirinya berharap, dishub atau pemerintah untuk segera membicarakan rencana kebijakan ini dalam Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (FLLAJ). Dalam forum itu, terdapat stake holder mulai dari dishub, Polres Cirebon Kota, Organda, pengusaha angkutan hingga pelaku angkutan. “Kalau misalkan diterapkan one way, angkotnya dilarikan kemana? Kan harus ada dasar hukumnya. Tidak bisa angkot beroperasi di trayek yang bukan rutenya,” kata dia.

Saat ini, kata Karsono terdapat 10 trayek yang bisa melayani hampir seluruh ruas jalan di wilayah Kota Cirebon. Trayek tersebut merupakan trayek yang telah bertahan sejak tahun 1997. Hal itu berdasarkan Keputusan Walikota Cirebon 05/1997, tentang penetapan jaringan trayek angkutan.

Namun kemudian, Trayek D9 yang melayani wilayah selatan Cirebon sudah tidak beroperasi lagi karena armada yang dimiliki sudah tua dan tidak ada peremajaan lagi. Kondisi serupa juga terjadi pada Trayek D10. Dirinya mengusulkan agar dilakukan revisi untuk trayek yang sudah ada. Selain untuk meminimalisasi terjadinya gesekan dengan akan beroperasinya Bus Rapid Transit (BRT), hal tersebut juga untuk mengoptimalisasi peran angkot dan juga BRT.

Ketua FLLAJ Kota Cirebon Prof Dr Adang Djumhur MAg juga sepakat dengan pernyataan Organda. Penerapan jalan satu arah tidak berdampak signifikan selama masalah kemacetannya tidak diselesaikan. Penerapan one way juga harus diiringi dengan kebijakan lain. Dirinya pun menyinggung pembuatan flyover perlintasan kereta api yang pernah digadang-gadang akan dilakukan. Kemudian parkir di badan jalan yang secara signifikan mengurangi lebar jalan.

Sementara itu, Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub, Gunawan, ATD DEA mengungkapkan, dishub baru akan melakukan kajian komperehensif terkait pemberlakuan one way. Sebab, penerapan one way akan berimbas pada evaluasi jaringan jalan lainnya yang ada di Kota Cirebon. “Pastinya waktu tempuh jaringan jalan harus lebih singkat dibanding dengan kondisi saat ini jika one way itu diberlakukan,” katanya.

Sedikit gambaran yang disebut Gunawan, bahwa one way hanya diberlakukan di jam tertentu. Yakni di jam sibuk di mana saat itu kendaraan banyak yang melintas. Pada kasus tertentu, one way juga bisa menjadi tidak efektif. Misalnya di depan Asia dan Surya. Ini dikarenakan adanya parkir badan jalan, persimpangan dan bottle neck lalu lintas. Semua kendaraan yang hendak menuju Jl Bahagia, Jl Karanggetas dan Jl Pagongan, semuanya melewati jalan di depan Asia dan Surya. (awr)

Berita Terkait