K-Radja, Kopi Asli Majalengka

kopi-sukaraja
Enceng Memperlihatkan kemasan kopi yang diproduksinya. Foto: Baehaqi/Radar Majalengka

MAJALENGKA -‎ Kopi K-Radja asli Majalengka cukup dikenal di luar daerah. Namun siapa sangka jika pemiliknya, Enceng (38) tak pernah tertarik pada kopi pada awalnya. Pasalnya ia tidak mempunyai kenalan yang mengenal kopi ataupun tahu komunitas kopi.

Enceng kala itu berjualan kaos hingga akhirnya ikut pelatihan Wirausaha Baru di Bandung. Dari situlah, ia dekat dengan pengusaha muda di bidang kopi, hingga akhirnya tertarik menggeluti bisnis kopi.

“Di Bandung waktu itu, dekat stadion Siliwangi saya kenalan dengan peserta dari Bandung Selatan, Kuningan dan Ciamis. Setelah pelatihan, kami berlima komitmen bertemu sebulan sekali di Ciawi. Bahasannya tentang kopi,” ungkapnya, saat ditemui di rumahnya di wilayah Sukaraja Wetan, Kecamatan Jatiwangi, Minggu (1/12).

Ia lantas tak pernah absen mengikuti jadwal pertemuan lima sekawan alumni pelatihan WUB Bandung itu. Ia mengikuti  pelatihan pada Mei Tahun 2016 lalu yang mayoritas pesertanya adalah pengusaha kopi.

“Kami komitmen membuat semacam grup komunikasi, dan komitmen kumpul di Ciawi, Ciamis,”ungkapnya.

Dari situlah Enceng mulai mendatangi Gunung Wangi Argapura, Saderhe Rajagaluh, Jahim Cingambul, Gunung Sirah Kecamatan Darma di Kuningan. Dari sana, ia akhirnya optimis untuk mengembangkan usaha kopi Majalengka. Ia pun akhirnya mengembangkan kopi dengan brand K-Radja.

Tidak tanggung-tanggung, kopi asli Majalengka itu sudah tembus ke daerah Bangka Belitung, Jawa Timur, Magelang, Bekasi, Jakarta dan Bogor. Meski ia mengaku kurang begitu paham dengan teknologi, namun pemasaran melalui akun sosial media seperti Facebook dan instagram membuatnya mendapatkan calon pembeli lebih luas.

“Meski begitu, awal-awal terjun ke bisnis kopi, saya sempat rugi. Cerita singkatnya, saya beli kopi tapi menaruhnya begitu saja. Bingung harus roasting ke mana. Saya beli 20 kilogram waktu itu, tinggal 5 kilogram. Itu semua karena ketidaktahuan dalam menyimpan kopi,” ungkapnya.

Belajar dari pengalaman itu, ‎ia pernah ‎menyangrai kopi sendiri, menggunakan kuali dari tanah. Hasilnya gagal total. Dari sana, ‎ia mulai bertanya pada teman.

K-Radja pun awalnya bernama lain. Yakni Wanoja Kopi. Hingga suatu saat, ia ikut pelatihan kopi di Bandung, ada komplain tentang Branding Wanoja. Meski sudah booming waktu itu, dirinya akhirnya menggantinya dengan nama esa kelahirannya, yakni Sukaraja yang disingkat dengan K-Radja.

Dengan bisnis kopinya itu, Kang Enceng mendapat banyak ilmu. ‎Bulan Maret 2019 lalu ia ikuti pelatihan di Bandung selama empat hari. Pelatihan khuusus kopi. Menariknya, selain mendapatkan tentang berbagai hal tentang kopi, ia diajak survei langsung ke pengolahan kopi di Bukit Palasari.

“Disana ada produksi kopi dengan kualitas terbaik. Saya bersama 59 orang peserta se-Jabar tentu saja semakin semangat,” ujarnya.

Kini, omzetnya telah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Bahkan kini, ia akan membeli peralatan sendiri dengan cakupan kapasitas yang lebih banyak. “Minta doanya saja. Intinya, saya semakin yakin dengan usaha kopi. Dan saya siap bersaing. Potensi kopi Majalengka luar biasa,” pungkasnya. (bae)

Berita Terkait