Jelajah Hutan Jati Majalengka Tahun 1868

KOMPENI menjadi istilah untuk menyebut nama Belanda ketika menjajah kawasan Hindia Timur, kini Indonesia. Dari mana asal usul kata Kompeni tersebut?

Entah berhubungan atau tidak, asal usul nama kompeni berawal dari kehadiran Vereenigde Oostindische Compagnie(VOC) ke Indonesia untuk mengambil rempah-rempah. Kerap berseteru dengan masyarakat sekitar membuat para tentara atau pasukan VOC yang berasal dari Belanda itu kompeni.

VOC pun bukan sekedar Belanda, tetapi sebuah perusahaan besar yang memiliki lini usaha perdagangan rempah-rempah.

Bahkan, VOC disebut sebagai perusahaan multinasional pertama di dunia. Pasalnya, daerah kekuasaan VOC membentang dari wilayah sebelah timur Tanjung Harapan, Afrika bagian selatan, hingga sebelah barat Selat Magelhaens.

Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda yang didirikan pada 20 Maret 1602 ini tercatat mempunyai pos di Tanjung Harapan, Persia, Benggala, Ceylon, Malaka, Siam, Cina daratan, Formosa, selatan India, dan tentu saja Indonesia.

Cikal bakal ekspansi VOC dengan Nusantara bermula ada 4 kapal ekspedisi di bawah pimpinan Cornelis de Houtman berlayar mencapai Banten pada 1596. Itulah kontak pertama Belanda dengan Indonesia.

Pada saat kompeni Belanda membangun Batavia dibutuhkan banyak kayu, terutama kayu jati untuk keperluan pembangunan kapal dan bangunan. Oleh karenanya hutan dikelola menjadi dua macam, hutan rimba dengan berjenis kayu, dan hutan khusus hutan jati.

Kayu jati itu ditebang di hutan-hutan wilayah Gunung Ciremai dengan menggunakan buruh tebang, ditarik oleh kerbau ke pinggiran sungai, kemudian diikat menjadi rakit kayu jati, dan dihilirkan ke muara sungai. Sungai menjadi jalur tranportasi kayu jati dan kayu-kayu serta hasil hutan dan perkebunan lainnya yang paling efisien dan murah, karena jalan raya darat belum lagi dibangun, belum ada. Di Jawa Barat ada tiga sungai yang dijadikan jalur transportasi hasil hutan dan perkebunan itu, yaitu Citarum, Ciliwung, dan Cimanuk. Pelabuhan besar di daerah Cirebon untuk menyimpan kayu jati itu adalah Indramayu di muara sungai Cimanuk.

Sebelum dihilirkan, kayu jati itu juga perlu diolah terlebih dahulu. Untuk keperluan itu dibuatlah pabrik penggergajian kayu bertenaga air. Salah satu pabrik pengolahan kayu jati bertenaga air itu dibangun Belanda di tepian sungai di daerah Sikaro.

Sikaro yang dimaksud, dalam peta dibawah ini, sering ditulis dengan Tjikro (ada kalanya ditulis dengan Tjikeroeh). Jadi, dapat diduga daerah Sikaro itu berada di sekitar sungai Cikeruh, dalam wilayah Kabupten Majalengka sekarang.

Dalam salah satu peta Belanda, Tjikro (Tjikaro) itu berada di arah selatan jalan, di kaki gunung Ciremay (De Berg Sirmeij ofte Chirboa). Di timur utaranya, utara jalan raya, tercantum Cundanglassi (Sindangkasih). Hutan-hutan jati (jatij bossen) terletak di sebelah timur Tjikro, timur sungai Cikeruh (Tjikaro)–dalam peta perkebunan jati di bawah wilayah itu adalah wilayah TEJA. Tentu wilayah Cikeruh dan pabrik penggergajian kayu jati di Cikeruh itu sebelum ada jalan raya pos yang dibangun oleh paksaan Daendels (tahun 1811-an), ini masih tahun 1487-an, walaupun peta dibuat kemungkinan setelah ada jalan raya pos.

Keterangan foto tidak tersedia.

Setelah jalan raya pos dibangun, Sikaro (Tjikro, Tjikaro, Tjikeroeh) itu dilukiskan berada di jalan raya yang dilalui kereta pos, setelah Batoe rojoe, sebelum Bandjaran (daerah Parapatan), utara Radja Galoe. Dari Bandung ke Cirebon melewati Jalan Raya Pos” dalam artikel ini. Peta ini dibuat sekitar tahun 1842, setelah nama Kabupaten Maja (1811-1840) diubah menjadi Kabupaten Majalengka (1840), dan ibu kota Kabupaten dipindah dari Maja ke Sindangkasih (yang kemudian diganti nama menjadi Majalengka, menyesuaikan dengan nama kabupatennya–Majalengka—lengka–leng dalam lengkap–bahasa Jawa Kawi, artinya pahit).

Dalam peta dua nama itu dituliskan sekaligus untuk menjelaskan perubahan nama dimaksud: Sindanglasi (Majalengka): Tadinya Sindangkasih, sekarang Majalengka. Sindangkasih pada masa Raffles periode 1811-1816 merupakan salah satu kabupaten di wilayah Cirebon. Yang lainnya Talaga, Rajagaluh. Kadongdong, Kuningan, dan Gebang.

Keterangan foto tidak tersedia.

Pengembangan hutan jati, seperti terlihat dalam peta, berada di lereng gunung Ciremay di wilayah Sindang–di selatan Cundanlassi (Sindangkasih) di hulu sungai Cikeruh (Sikaro)  terus ke wilayah Kuningan, selatan Kalitandjoeng (Kali Tanjang), termasuk daerah Tjileboe (Tsilaboe).

Peta berikut lebih menjelaskan letak Cundanlassi (Sindangkasih) yang berada di jalur jalan antrara Karangsambung dan Kali Tanjung serta Cirebon.

Keterangan foto tidak tersedia.

Berdasarkan data tahun 1868 di wilayah Sumedang dan kesultanan Cirebon itu ada empat pusat industri kayu jati yaitu:

  1. Sumedang, dipimpin  Anthony Janszoon van Stockholm, dengan jumlah pekerja 180 orang
  2. Sindang Kasih (wilayah Sultan Anom), dipimpin bernama Thomas Laurenszoon, dengan jumlah pekerja 180 orang
  3. Karesambo (Karangsambung–wilayah Sultan Sepuh), dipimpin Hendrik Hohorst, dengan pekerja sebanyak 150 orang
  4. Sikaro (Tjikaro, Tjikro, Cikeruh–wilayah Sultasn Sepuh dan Sultan Anom), dipimpin bernama Evert Marinisse dan Jan Hendrix Craal, dengan pekerja sebanyak 200 orang.

Menurut Memorie Johannes de Hartog, 24 Oktober 1868/VOC:1455 dapat dibayangkan betapa sangat penting “kota” Cikeruh  pada masa itu, baik sebagai daerah perhutanan jati maupun industri penggergajian kayu jati. Pertanyaannya Di mana itu Cikeruh atau Tjikro, di sekitar Sindangwasa?

Oleh karena sedemikian penting transportasi sungai pada masa itu, termasuk Cikeruh dan Cimanuk (kayu jati dihilirkan lewat Cikeruh, masuk ke Cimanuk, terkait dengan yang dari Sindangkasih, dari Sumedang dan juga dari Karangsambung bertemu di muara Cikeruh-Cimanuk, maka Belanda merancang “benteng perlindungan” (de bescherming) di muara Cikeruh.

Muara Cikeruh tergambar pada sisi kanan atas, di muara itu dibangun tempat perlindungan (benteng pemukiman) yang tata ruangnya tercantum di bagian kanan bawah. Aliran sungai Cikeruh sebagai gambaran dilukiskan di sebelah kiri. Di bawah (arah ke hulu) ada tulisan Nagarij Depokpassir (bisa dipastikan itu sekarang adalah kampung/desa Pasir dan Depok.).

Keterangan foto tidak tersedia.

 

Keterangan foto tidak tersedia.

Berita Terkait