Jalan Perjuangan Satu Arah Patut Dicoba

Dishub Kaji Masalah Lalu Lintas Secara Komprehensif Tahun Depan

Persinggungan kendaraan di simpang Untag Jl Perjuangan, Kamis (28/11). Penerapan satu arah di sebagian Jl Perjuangan diyakini dapat mengurangi kepadatan kendaraan.FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Penerapan satu arah di Jl Perjuangan patut dicoba. Pemisahan akses di persimpangan Jl Yudhasari, diyakini dapat mengurangi persinggungan kendaraan. Dalam skema yang dibuat Radar Cirebon, pemisahan akses di Jl Perjuangan dilakukan dengan membagi akses masuk melalui Jl Brigjen Dharsono (By Pass).

Sementara akses keluar dari Jl Perjuangan menggunakan Jl Yudhasari III ke arah Jl Terusan Pemuda. Pemisahan arus kendaraan ini, mengurangi persinggungan kendaraan dari dan menuju Jl Perjuangan di simpang Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Cirebon.

Ketua Forum Lalu Lintas Angkutan Jalan (FLLAJ) Prof Dr Adang Jumhur mendorong alternatif ini dibahas stake holder lalu lintas. Ia mendorong dilakukan kajian terkait solusi penanganan kemacetan secara komprehensif. “Kita tahu banyak kawasan yang menjadi titik rawan baru kemacetan,” tuturnya.

Namun, khusus untuk Jl Perjuangan, sementara ini pembahasannya masih pada pengadaan alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) atau lampu merah. Adang mengungkapkan, pemasangan APILL ini sudah dibahas dalam FLLAJ.

Tantangan mengatasi kemacetan di Kota Cirebon di tahun mendatang diprediksi akan lebih kompleks. Pertumbuhan jumlah kendaraan yang tidak disertai penambahan jalan raya, membuat kemacetan tidak terelakan.

Selain itu, tumbuhnya pusat pusat kegiatan ekonomi baru juga menciptakan titik kemacetan baru. Untuk itu, Dinas Perhubungan (Dishub) akan melakukan kajian komprehensif terhadap permasalahan lalu lintas di Kota Cirebon.

Kepala Dishub Kota Cirebon Ir H Yoyon Indrayana MT mengungkapkan, studi dan kajian lalu lintas di seluruh wilayah di Kota Cirebon akan melibatkan banyak pihak. Mulai dari pemerintah, pelaku transportasi, masyarakat hingga akademisi dan sebagainya. “Kita merencanakan tahun 2020, akan melakukan kajian komprehensif terhadap jalur terhadap jalur lalu lintas di kota. Kota mulai padat sudah mulai macet,” ujarnya.

Kajian ini nantinya akan mencakup beberapa hal yang bertujuan untuk melihat permasalahan lalu lintas.  Sehingga sudut pandangnya bukan hanya dari persepsi pengambil kebijakan saja. Sehingga permasalahan lalu lintas dapat diketahui secara komprehensif dan menyeluruh.

Yoyon tidak menampik, beberapa ruas jalan dimungkinkan diterapkan menjadi satu arah saja. Hal tersebut, dilakukan demi ketertiban dan mengurangi angka insiden di jalan raya. “Dalam kajian ini tidak hanya berfokus pada Jl Kartini dan Siliwangi atau Pagongan saja. Tapi di seluruh ruas jalan. Di mana intinya adalah kendaraan itu harus nge-flow, supaya dia bisa bergerak lebih cepat dan mengurangi insiden,” tukasnya.

Pemerhati keselamatan lalu lintas, Ade Danu sepaham dengan kajian komprehensif ini. Sebab, penanganan permasalahan lalu lintas mesti berkesinambungan untuk mengurangi kemacetan. Bukan sepenggal-sepenggal dan main coba-coba. “Barangkali mungkin efek pejabat yang menanganinya ganti-ganti,” kata Ade Danu.

Solusinya, menurut Ade Danu, harus dibuat maping berdasarkan data dan analisa. Apa saja penyebab kemacetan saat ini, data traffic saat ini dan proyeksi kedepan bagaimana. Termasuk tentang rencana tata kota ke depan, analisa dampak lingkungan (amdal) lalin dan lain sebagainya.

Yang paling prioritas saat ini, adalah mengembalikan fungsi jalan dan trotoar ke fungsi yang seharusnya di seluruh ruas jalan. Upaya pemerintah menetapkan kawasan tertib lalu lintas (KTL) harus dipelihara dan dijaga. (awr)

Berita Terkait