Inspirasi Tarini Sorrita, TKW Hongkong yang Penulis Buku

Tarini-Sorrita
INSPIRATIF: Tarini Sorrita, TKW asal Cirebon membacakan puisisnya di SMK Al Hidayah, Jalan Kalitanjung Kota Cirebon. FOTO: NURHIDAYAT/RADAR CIREBON

Cerita soal buruh migran tidak selamanya tentang duka dan soal materi. Contohnya, Tarini Sorrita. TKW asal Cirebon ini aktif menulis dan telah mengeluarkan lima judul buku. Di tengah keterbatasan sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong, ia sempatkan menebar inspirasi melalui karya tulis.

NURHIDAYAT, Cirebon

SUASANA kelas begitu hening. Semua mata tertuju pada sosok perempuan yang begitu menghayati bait demi bait puisi yang dibacanya. Suasana kelas di SMK Al Hidayah, kala itu amat beda. Sekolah yang berada di Jalan Kalitanjung Kota Cirebon tengah mendapat kunjungan tamu istimewa. Seorang TKW sekaligus penulis buku yang cukup produktif.

Tarini sengaja hadir untuk membedah buku yang ditulisnya. Buku berisi kumpulan puisi berjudul Sexy Hongkong Long Adventure. Tarini membacakan dua puisi berjudul Narkoba, yang menjadi salah satu masalah bangsa ini.

“Bersyukur karena para siswa juga tertarik dengan dunia tulis menulis. Jadi kesannya sangat menyenangkan,” ujar Tarini, di hadapan seratusan siswa dan guru.

Sebagai seorang TKW, perempuan kelahiran Cirebon 29 September 1971 itu bisa dibilang sosok istimewa. Di sela kesibukannya sebagai asisten rumah tangga di Singapura dan Hongkong, ia sukses menulis ratusan karya, puisi dan cerpen. Diterbitkan dalam 5 judul buku.

Tarini menceritakan, kegemarannya menuangkan ide dalam bentuk karya tulis berawal ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di Singapura. Sekitar tahun 1998. Kala itu ia memberanikan diri mengirimkan karya puisi untuk disiarkan melalui Radio Batam FM.

Empat tahun berselang, ia kemudian berhijrah ke Hongkong. Tetap sebagai domestic helper atau pembantu rumah tangga. Semangat menulis kian menggebu ketika ia bergabung dengan komunitas menulis bernama Cafe The Costa. Di sana, ia mendapatkan banyak masukan dan saran dari para penulis hebat seperti Ida Arsusi Permatasari dan Bonarina Bonenar dari Jawa Timur.

“Di Hongkong banyak juga TKW yang berhasil jadi penulis dan terkenal juga. Ada banyak seperti Etik Juwita, Wina Karni dan lainnya. Mereka awalnya hobi dan memang di sana fasilitas terjamin dan free seperti komputer dan wifi. Kita manfaatkan itu, jadi banyak teman-teman yang menyalurkan bakatnya, dengan menulis cerpen, artikel dan puisi,” kata Tarini.

Meski terbilang mudah, namun perjuangan menuangkan ide dalam tulisan cukup menantang. Terlebih, sang majikan tidak terlalu memberikan kebebasan untuk melakukan banyak hal. Termasuk menulis. “Kita harus kucing-Kucingan juga,” ucapnya.

Karenanya, setiap mendapatkan ide yang akan menjadi bahan tulisan, ia segera catat, agar tidak lepas. Di mana pun. Ketika di dapur, ia tulis ide tersebut di panic. Begitu pun saat di toilet, atau pun usai berbelanja.

“Ide datang, tangkap. Kalau ada ide, saya langsung tulis di bekas kuitansi, kalender atau di atas panci. Karena ide kan sekali datangnya. Jadi kalau datang lagi kan kadang beda. Jadi saya tulis dulu kemudian ditulis di komputer. Tapi kalau ada bos dimarahin juga, jadi umpet-umpetan juga,” kenangnya.

Menulis, di Hongkong, kata Tarini merupakan kegiatan untuk menghilangkan penat. Ia beruntung, saat itu tengah banyak inspirasi. Ia bisa membuat puluhan cerpen dan puisi dalam waktu beberapa bulan.

“Terus ada penerbit yang bilang, kenapa cerpen kamu nggak dibikin buku Tarini. Terus saya bilang, emang tulisan saya layak untuk diterbitkan. Sempat ragu. Ya coba aja. Katanya, terus kita bikin dan terbit,” ujarnya senang.

Kini, total ia sudah 21 tahun menyandang gelar pahlawan devisa. Lika-liku perjalanan selama itu ia tuangkan dalam setiap buku kumpulan cerpen dan puisi yang dibuatnya. Termasuk buku berjudul Sexy Hongkong Long Adventure ini.

“Hongkong itu indah, tertib dan amazing. Makanya saya sebut sexy. Dan long adventure itu perjalanan panjang selama saya disana. Dan, bagi saya layak dicontoh masyarakat Indonesia. Disiplinnya, tertibnya, rapihnya dan lainnya,” beber Tarini.

“Dan saya ingin pemerintah indonesia tidak menganggap rendah pekerjaan buruh migran, domestic helper. Semua orang kan sama derajatnya. Dan dari menulis ini cukup memperbaiki citra domerstic helper yang dipandang sebelah mata. Di samping itu, adanya buku-buku ini juga memotivasi generasi penerus untuk menyalurkan bakat agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak baik,” sambungnya. (*)

Berita Terkait