Hikajat Tanah Hindia

Janssens tidak bisa bertahan dari Inggris, maka Hindia Belanda jatuh ke tangan Inggris. Raffles yang diberi kuasa oleh Inggris untuk memerintah Hindia Belanda segera melakukan konsolidasi kekuasaan. Ia menurunkan Sultan Sepuh (HB II) dan mengembalikan posisi HB III sebagai raja di Jogja. Ia membagi keraton Jogja menjadi dua. Ia mengangkat Pangeran Noto Kusumo menjadi Paku Alam. Ia menguasai Surakarta, Banten dan Cirebon. Raffles juga melakukan penaklukan melalui peperangan kepada Palembang, Bone dan Sambas.

Salah satu kebijakan Raffles yang membantu rakyat kecil adalah kebijakan tentang pajak tanah. Jika sebelumnya pajak tanah dibayar oleh desa, dimana kepala desa bisa memeras rakyatnya, maka di era Raffles pajak tanah dibuat sesuai ukuran lahan yang dikerjakan oleh masing-masing keluarga (hal. 89). Raffles juga melarang perdagangan budak antarpulau.

Seiring dengan selesainya Perang Eropa, Hindia Belanda kembali ke tangan Belanda. Raffles masih bercokol di Bengkulu dan akhirnya mendapatkan Singapura yang dibangunnya menjadi sebuah kota yang ramai.

Kehadiran Belanda di Sumatra Barat diawali dengan bantuan militer yang diberikan kepada Kerajaan Minagkabau yang berperang melawan Aceh. Mereka berebut pantai barat.

Perang Paderi diawali dengan kepulangan 3 orang Minagkabau yang berhaji dan belajar paham yang diajarkan oleh Abdul Wahab (paham Wahabi). Haji Miskin berupaya untuk membawa ajaran ini ke Tanah Minang. Bersama dengan Tuanku Nan Renceh dan Harimau nan Salapan (delapan orang) mulai menyebarkan paham baru ini. Mereka mengkafirkan siapa saja yang tidak sepaham (hal. 93). Kelompok ini melakukan penyebaran paham dengan sangat bengis (hal. 94). Maka Belanda diminta untuk membantu Kerajaan Pagarruyung melawan Belanda.

Buku ini juga mengisahkan Perang Palembang dan Perang Jawa (Diponegoro). Informasi yang disampaikan tentang Perang Palembang, Perang Bali, Perang Banjarmasin, Perang Aceh dan Perang Diponegoro tidak berbeda yang sudah dibahas di buku lain yang terbit lebih kemudian. Hanya yang sekarang kita sebut sebagai pahlawan, oleh Biegman disebut sebagai pengacau.

Informasi yang tidak banyak dibahas dalam sejarah kita adalah tentang pemberontakan orang Cina di Montredo, Kalimantan Barat. Buku ini secara khusus membahas peristiwa ini (hal. 104-105).

Setelah pemberontakan mereda, Belanda mulai membangun persekolahan, pemberantasan penyakit cacar dan pengembangan pertanian. Program pembangunan ini diklaim oleh Biegman telah mampu menyejahterakan rakyat Hindia Belanda. (Handoko Widagdo)

 

Judul: Hikajat Tanah Hidnia

Penulis: G. J. F. Biegman

Penterjemah: Koesalah Soebagyo Toer

Tahun Terbit: 1894

Penerbit: Pertjitakan Geobernemen

Tebal: 123

Halaman: 1 2 3

Berita Terkait