JAKARTA-Menjelang Lebaran, agen travel online Traveloka membuat heboh terkait harga tiket pesawat hingga mencapai Rp21 juta. Berbagai pihak bereaksi, mulai dari masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga pengamat. Mereka mendesak pemerintah memberikan teguran terhadap Traveloka.

Diketahui, Rabu  (29/5) di Traveloka, harga tiket pesawat untuk penerbangan 31 Mei dari Bandung ke Medan yang termurah adalah Rp13.400.700 dan termahal Rp21.920.800. Harga yang tertera itu kemudian menyebar dengan cepat dan menjadi pro kontra di masyarakat.

Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, angkat suara. Ia mendesak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memberikan sanksi terhadap Traveloka. “Traveloka harus ditegur keras dan diberi sanksi,” ujar Tulus kepada Fajar Indonesia Network (FIN).

Tulus menilai harga tiket pesawat yang tidak masuk akal itu ‘kerjaan’ Traveloka yang ingin mengambil untung di momen menyambut Lebaran. Ulah Traveloka ini dianggap menyesatkan konsumen. “Yang membanderol Rp21 jutaan bukan maskapai tapi Traveloka dengan membuat rute yang muter-muter tidak masuk akal. Masa dari Bandung ke Medan putar dulu ke Bali dan Jakarta? Ngawur itu. Lagi pula konsumen jangan naik kelas bisnis dong, ya pasti mahal,” kata Tulus.

Pengamat Penerbangan, Alvin Lee mengatakan harga tiket pesawat selangit lantaran maskapai mengurangi frekuensi atau menghentikan beberapa rute yang tidak menguntungkan atau sepi penumpang.  Selain itu, lanjut Alvin, hal itu dampak dari keputusan Kementerian Perhubungan yang menurunkan tarif batas atas (TBA). “Untuk mencapai titik impas, makaspai harus raih tingkat keterisian pesawat (load factor/LF) hingga 890 persen. Naik dari sebelumnya 65-70 persen,” ujar Alvin kepada FIN.

Nah, menurut Alvin, jika tidak mencapai LF, maka maskapai akan mengalami kerugian. Menurut Alvin, terkait rute transit maskapai, yang merangkai adalah agen travel online, bukan maskapai. Tentu ulah penjualan daring tersbeut membuat harga tiket pesawat menjadi mahal.

“Yang merangkai rute transit tersebut adalah online travel agents, bukan maskapai. Hal ini yang membuat keruh pendapat publik. Otomatis harga menjadi mahal karena rute menjadi muter-muter menempuh jarak yang secara signifikan lebih jauh. Tentu ongkos angkut naik signifikan,” tutur Alvin.

Alvin menjelaskan, pemerintah hanya mengatur TBA dan TBB hanya untuk kelas ekonomi rute domestik. Artinya tidak untuk kelas bisnis dan rute internasional yang bebas mengikuti mekanisme pasar. “Bebas mau banting-bantingan atau saling bunuh sesuai mekanisme pasar,” ucap Alvin.

CEO Transport Traveloka Caesar Indra akhirnya buka suara. Dia mengklarifikasi bahwa harga tiket yang tertera itu bukan dari Traveloka sendiri, melainkan dari harga pihak maskapai.  “Harga yang tertera di platform kami merupakan harga yang kami dapatkan langsung dari maskapai,” ujar Caesar di Jakarta.

Ia menjelaskan, harga tiket pesawat dari Bandung ke Medan mencapai Rp21 juta itu adalah kelas bisnis. “Iya harganya lebih tinggi dibandingkan kelas ekonomi,” katanya. Caesar menuturkan, untuk harga tiket pesawat rute Bandung-Medan kelas ekonomi sudah habis, begitu pula kelas bisnis yang transit dari Jakarta. Makanya, Traveloka menawarkan opsi lain di kelas bisnis lewat transit.

“Opsi tiket yang tersedia dan ditawarkan oleh maskapai adalah kelas bisnis untuk rute Bandung ke Medan, melalui transit Denpasar, lalu dari Denpasar menuju Jakarta hingga kemudian dari Jakarta menuju Medan,” kata Caesar.

Klarifikasi Traveloka mendapat bantahan dari pihak maskapai Garuda Indonesia. Vice President Corporate Secretary Garuda Indoenesia Ikhsan Rosan mengatakan bawah pihaknya tidak menjual tiket Bandung-Medan seharga Rp21 juta. “Kita memasang harga sesuai TBA yang ditetapkan pemerintah. Kita juga tidak punya rute Bandung-Medan,” tukas Ikhasan. (din/fin)

Berita Terkait