GoWir Target Bebas Kantong Plastik 2025

KURANGI PLASTIK: Dari kiri ke kanan, VP Corporate Affairs Food Ecosystem Gojek Rosel Lavina didampingi VP Regional Gojek Jawa Barat dan Banten Becquini Akbar melakukan sesi foto bersama dengan mitra merchant GoFood serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung Dr Kamalia Purbani MT dan Koordinator PlastikDetox Luh De Dwi Jayanthi usai menggelar program Gojek Wirausaha (GoWir) di Bandung, Selasa (3/12).FOTO: GOJEK FOR RADAR CIREBON

BANDUNG – Guna mendorong mitra merchant kuliner menerapkan praktik bisnis yang ramah lingkungan, Gojek menggelar program Gojek Wirausaha (GoWir) di Bandung, Selasa (3/12). Menurut VP Corporate Affairs Food Ecosystem Gojek, Rosel Lavina, GoWir merupakan bagian dari inisiatif #GoGreener di tingkat nasional yang diluncurkan pada bulan Agustus lalu.

“Langkah ini dilakukan untuk memfasilitasi ekosistem yang ada di Gojek agar bisa bergaya hidup ramah lingkungan,” tuturnya.

Dia mengatakan, GoWir yang dilaksanakan di Bandung diikuti oleh ratusan pebisnis kuliner. Para peserta memeroleh pelatihan tentang upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai untuk penunjang kegiatan bisnis.

“Gerakan ini membantu bisnis kecil mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Selain memberikan pemahaman dan pelatihan mengenai bisnis yang ramah lingkungan, Gojek juga kembali mengedukasi mitra tentang fitur di GoFood yang menyediakan pilihan bagi pelanggan untuk tidak memesan alat makan plastik,” katannya.

Rosel Lavina juga menjelaskan, sebagai layanan pesan-antar makanan terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, GoFood menyadari pentingnya berkontribusi dalam upaya pengurangan sampah plastik yang menjadi salah satu isu utama lingkungan di Indonesia saat ini.

“Melalui program Gojek Wirausaha ini, kami memfasilitasi mitra merchant dengan pelatihan sadar lingkungan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Salah satu inovasi yang kami lakukan adalah memfasilitasi mitra merchant untuk menyediakan pilihan bagi pelanggan untuk tidak memesan alat makan plastik sekali pakai ketika memesan makanan dari merchant yang berpartisipasi,” jelasnya.

Ditambahkan, sejak diluncurkan secara nasional pada Agustus lalu, program ini mendapat sambutan yang sangat positif. “Di Bandung sendiri, 99 pesen pelanggan GoFood memilih untuk tidak memesan alat makan plastik sekali pakai ketika memesan GoFood,” imbuh Rosel.Sementara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, Dr Kamalia Purbani MT mengatakan bahwa Pemerintah Kota Bandung terus mempertegas komitmennya untuk mengurangi penggunaan kantong plastik hingga 100 persen di tahun 2025. “Kami mengapresiasi Gojek sebagai layanan pesan-antar makanan pertama yang memfasilitasi mitra merchant-nya agar dapat mengambil peran aktif untuk tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai ketika memenuhi kebutuhan kuliner masyarakat kota Bandung,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, pengurangan penggunaan alat makan plastik sekali pakai merupakan salah satu program yang sejalan dengan program Kang Pisman melalui pengurangan sampah di hulu sebelum menjadi sampah sebagai bentuk upaya preventif. Sehingga, jumlah timbulan sampah plastik dapat dikurangi,” katanya.

“Sampai dengan saat ini, Gojek juga mendukung program Kang Pisman lainnya dengan melakukan sosialisasi pemilahan sampah dan program ‘nabung sampah plastik’ yang ditukar dengan saldo GoPay di beberapa sekolah di Bandung,” ungkapnya.

Co-Founder PlastikDetox, Anna Sutanto mengatakan, sejak tahun 2012, PlastikDetox mendampingi para pengusaha kecil untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Contoh nyata dari anggota PlastikDetox merupakan bukti pelaku usaha dapat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. “Kami senang berkolaborasi dengan GoFood yang memiliki misi sejalan dengan PlastikDetox. Kami yakin mitra merchant GoFood dapat semakin mendorong perubahan perilaku konsumen kuliner di Bandung,” katanya.

Dia menambahkan, selain berdampak positif terhadap lingkungan dan mendapat brand image yang bagus dari pelanggan, banyak merchant kuliner yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya menyediakan alat makan dan sedotan plastik sekali pakai justru membuat biaya operasional semakin tinggi.

“Pelatihan kali ini fokus pada empat hal utama, yaitu mulai dari meningkatkan kesadaran para mitra merchant untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hal praktis yang bisa dilakukan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, pentingnya menghindari greenwashing (jenis produk plastik yang dikatakan ramah lingkungan tapi belum tentu begitu) dan keuntungan-keuangan yang bisa dinikmati merchants ketika mereka mengurangi penggunaan jenis produk plastik tertentu,” pungkasnya. (jun)

Berita Terkait