Garam Melimpah tapi Tidak Ada Pembeli

GARAP LAHAN: Seorang petani terlihat menggarap lahan garam di Desa Rawaurip, kemarin. Dislakan mangklaim anjloknya harga garam karena overstock dan kualitas produksi garam yang di bawah standar. FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON
GARAP LAHAN: Seorang petani terlihat menggarap lahan garam di Desa Rawaurip, kemarin. Dislakan mangklaim anjloknya harga garam karena overstock dan kualitas produksi garam yang di bawah standar.FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON – Musim kemarau yang panjang, membuat hasil produksi garam petani di Kabupaten Cirebon melimpah. Namun, garam para petani ini tidak ada yang membeli. Garam hasil produksi mereka menumpuk di gudang dan sepanjang jalan dekat lahan tambak.

Kondisi tersebut sudah beberapa bulan terakhir. Petani garam pun hanya pasrah dan tetap menjalankan aktivitas mereka memproduksi garam. Hanya saja, hasil produksinya mayoritas tidak dijual, hanya ditumpuk dan ditutupi terpal. Sebab, selain harganya anjlok, tengkulak pun hanya satu-dua orang saja yang masih membeli garam mereka.

Salah seorang petani garam di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Tohari (45) mengaku, sudah hampir dua bulan ini hasil produksi garam para petani di desanya sepi pembeli. Ia pun tidak tahu persis kenapa bisa demikian.

“Sudah hampir dua bulanan tidak ada penimbang (tengkulak, red) yang membeli garam. Garam hanya ditumpuk, kita timbun saja, barangkali nanti nemu harga mahal,” kata Tohari.

Terakhir, lanjutnya, harga garam yang dijual tengkulak per kilogramnya hanya Rp 100. Itu pun hanya satu-dua tengkulak saja yang membeli, tidak seperti pada awal-awal panen ketika harganya masih Rp 500 sampai Rp 700 per kilogramnya.

Bahkan, lanjut pria yang akrab disapa Toto ini, harga Rp 100 per kilogram itu masih kotor. Artinya, belum dipotong untuk upah kuli panggul jika garam yang akan dijual ke tengkulak itu tidak di bawa sendiri oleh pemiliknya.

Jika dibawa sama kuli panggul, pemilik garam tidak mendapatkan apa-apa. Sebab, bayar kuli panggul satu karung Rp 4 ribu dan yang satu karung itu paling dapatnya hanya Rp 5 ribu.

“Jadi lebih besaran kuli panggul daripada harga garamnya. Solusinya saya simpan saja garamnya di gudang. Untuk makan sehari-harinya ya cari pendapatan lain, kadang hutang,” tukasnya. (via)

Berita Terkait