Gandeng Lembaga Atom Internasional, Menristek Kembangkan Pertanian dan Peternakan

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek-Dikti) Mohamad Nasir. (dok radarcirebon.com)

JAKARTA – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek-Dikti) Mohamad Nasir, menerima kunjungan Direktur Jenderal the International Atom Energy Agency (IAEA), Yukiya Amano, di kantornya, Senin (5/2).

Yukiya akan berada di Indonesia pada 5-7 Februari 2018. Salah satu agenda penting dari kunjungannya, adalah penandatanganan Practical Arrangement antara Kemenristekdikti dengan IAEA. Tujuan dari penandatanganan ini adalah untuk memperkuat komitmen kerjasama antara Indonesia dengan IAEA, dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir untuk perdamaian.

Seusai penandatanganan, Menteri Nasir mengatakan bahwa kerjasama ini memang perlu untuk mendorong kerjasama teknis antara negara-negara berkembang dan penguatan South-South Cooperation (kerjasama antar negara-negara di bagian selatan).

“Dengan adanya penandatanganan ini, kita dari Indonesia bisa dapat lebih mendukung IAEA untuk berbagi dan memberikan kapasitas ke negara lain. Ini juga akan memiliki dampak yang berlipat, sesuai dengan mandat utama IAEA, yaitu untuk mengupayakan dan memperluas kontribusi energi nuklir untuk perdamaian, kesehatan dan kesejahteraan di seluruh dunia,” ungkap nasir.

Nasir menambahkan, IAEA memiliki peran sentral dalam mendorong penggunaan dan pemanfaatkan energi nuklir untuk perdamaian. Di antara negara-negara berkembang, Indonesia telah bekerjasama dengan IAEA selama 61 tahun. Tercatat, sebanyak 9 dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs), berkaitan langsung dengan lingkup kompetensi IAEA.

Dirjen IAEA, Yukiya Amano sependapat dengan Menteri Nasir. Dikatakan Yukiya, kerjasama IAEA dengan Indonesia sudah terjalin sejak lama. Indonesia juga sudah menjadi negara teknologi provider untuk menbantu negara berkembang.

Dikatakan Yukiya, kerja sama nuklir di Indonesia selama ini dilakukan di berbagai sektor. Seperti agrikultural, kesehatan, dan lain-lainnya. “Kami sangat mengapresiasi progres yang dikerjakan oleh Indonesia. Ini sangat baik dan membawa manfaat yang nyata,” ujarnya.

Terkait hasil dari kerjasama tersebut, Menteri Nasir mengungkapkan, bahwa Indonesia sudah mencapai swasembada pangan, dan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), Indonesia dengan dukungan IAEA, telah mengembangkan dua proyek penting.

Proyek pertama, kata Nasir, berkaitan dengan mengintensifkan kualitas produksi kedelai untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitas usaha tani kedelai. Proyek kedua, lanjutnya, melibatkan penggunaan teknik nuklir, seperti uji radio immuno dan isotop stabil untuk meningkatkan produksi ternak dan memperbaiki pengelolaan pakan berbasis lokal.

Sasarannya adalah komunitas petani kecil di 74 SPR (Sekolah Petani Rakyat) di seluruh Indonesia. SPR adalah proyek yang dikembangkan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2013.

“Kami menghargai dukungan terus-menerus IAEA terhadap upaya Indonesia dalam pengembangan program energi nuklirnya, baik untuk BATAN maupun BAPETEN,” ujar Nasir.

Acara penandatanganan ini dihadiri oleh Duta Besar Indonesia Untuk Austria yang juga Ketua Board of Governor (BOG) Darmansjah Djumala, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional Indonesia (BATAN) Djarot Sulistio Wisnubroto, Kepala Badan Pengawas Energi Nuklir Indonesia (BAPETEN) Jazi Eko Istiyanto, Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Na’im, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi, Jumain Appe. (zan)

Berita Terkait