Dulu Pierre Tendean Kini Enzo Allie, Prajurit TNI Berdarah Indo-Prancis

Pierre Andries Tendean

BELAKANGAN ini media sosial tengah dihebohkan seorang anggota taruna Akademi Militer (Akmil) TNI keturunan Prancis. Sosok tersebut diketahui bernama Enzo Zenz Allie. Ia adalah anak dari warga Prancis bernama Jean Paul Francois Allie dan warga Indonesia bernama Siti Hajah Tilaria. Ayah Enzo sudah meninggal pada 2012.

Video Enzo saat mengikuti sidang pemantauan akhir (pantukhir) terpusat di Akademi Militer, Magelang, pada Jumat (2/8/2019) lalu viral di beberapa akun media sosial. Kisah hidupnya ramai dibicarakan.

Seperti Enzo, Indonesia musti ingat di masa lalu pernah memiliki kader kusuma bangsa berdarah Indo-Prancis. Namanya Pierre Tendean. Sejarah mencatat sosok Pierre sebagai satu dari sepuluh pahlawan revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S).

Pierre lahir di Batavia, 21 Februari 1939 dengan nama lengkap Pierre Andries Tendean. Piere berasal dari keluarga ras campuran. Ayahnya Aurelius Lammert Tendean orang Minahasa sedangkan sang ibu Maria Elizabet Cornet, perempuan berdarah Prancis Kaukasian. Pierre anak kedua dari tiga bersaudara dan merupakan anak lelaki satu-satunya di tengah keluarga Tendean.

Dikutip dari biografi resmi Pierre Tendean Sang Patriot: Kisah Seorang Pahlawan Revolusi suntingan Abie Besman, nama Pierre sarat dengan unsur Prancis. Nama lengkap Pierre Andries Tendean diambil dari nama kakek pihak ibu yang berdarah Prancis, Pierre Albert. Pierre dalam bahasa Prancis bermakna “kuat bagaikan batu”, suatu lambang ketegaran hidup.

“Nama ini sekaligus adalah sebuah doa yang disematkan oleh kedua orang tuanya sejak Pierre lahir agar sang putra selalu tegar dan memegang teguh prinsip hidupnya,” tulis tim penulis biografi resmi Pierre Tendean.

Pierre sendiri tumbuh sebagai seorang Jawa medok karena pada 1950, keluarganya pindah ke Semarang. Kendati keluarganya menginginkannya menjadi insinyur lulusan ITB, namun Pierre lebih memilih mengabdi sebagai prajurit TNI. Pada 1958, Pierre mendaftarkan diri di Akademi Teknik AD (Atekad), jalur militer yang membawanya ke satuan zeni tempur.

Di kalangan taruna, Pierre acap kali dirisak karena paras indonya. Wajah bule dan kulitnya yang cenderung putih sesekali jadi bahan olokan. Pertanyaan sindiran berupa, “Indo ya?,” kerap dilontarkan. Mendengar itu, Pierre pernah berang juga.

“Barangkali rasa nasionalismemu lebih rendah daripada nasionalisme saya,” kata Pierre sebagaimana dituturkan karibnya semasa di Atekad, Brigjen (Purn.) Efendi Ritonga.

Setamat dari Atekad, Pierre terjun keberbagai palagan. Mulai dari operasi penumpasan PRRI di Sumatera Barat. Kemudian, dia ikut operasi penyusupan ke Malaysia dalam rangka konfrontasi dari Selat Panjang. Dalam setahun, Pierre telah tiga kali menyusup ke daratan Malaysia. Terakhir, Pierre menjadi ajudan Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal Abdul Haris Nasution.

Dalam masa tugas mendampingi Jenderal Nasution, Pierre malah kerap jadi sorotan, terutama dari kaum wanita. Apalagi kalau bukan karena rupanya yang tampan. Ini biasanya terjadi kalau Nasution sedang memberikan ceramah atau seminar di universitas maupun lembaga tertentu. Ada istilah yang berlaku pada saat itu: “Telinga kami untuk Pak Nas, tetapi mata kami untuk ajudannya.”

Dalam memoarnya, Nasution mengenang kebersamaan terakhirnya dikawal oleh Pierre. Kira-kira tanggal 23 September 1965 atau sepekan sebelum G30S. Saat itu, Nasution sedang memberikan ceramah kepada satu batalion Resimen Mahasiswa Mawarman di kampus Universitas Padjajaran. Pierre yang pangkatnya letnan satu bertugas mendampingi Nasution.

“Ia (Pierre) terhitung pemuda yang ganteng, dan terus menjadi sasaran kerumunan para mahasiswi,” ujar Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru.

Ketika terjadi G30S, Pierre menjadi korban pencidukan pasukan Resimen Cakrabirawa yang semula hendak menjemput Nasution. Pierre menumbalkan diri dengan mengaku sebagai Nasution. Kemudian Pierre diangkut ke kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Sebagaimana dicatat Nasution, menurut penuturan seorang anggota Cakrabirawa bernama Supandi, Pierre disuruh jongkok kemudian ditembak dari belakang sebanyak empat kali. Tubuhnya yang berlumur darah lantas diseret ke sebuah lubang sumur. Pierre gugur saat menjalankan tugasnya. (*)

 

Berita Terkait