Dua Siswa SMPK Penabur Bertinggi Badan Hampir 2 Meter

Kesulitan Cari Ukuran Sepatu, Harus Impor dari Amerika

Zihad (kiri) dan Terrell (kanan) berfoto dengan wakil kesiswaan dan kepala BPK Penabur. FOTO:ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Zihad Visabilillah (14) dan Terrell Eayers (15) terlihat paling menonjol di banding yang lain. Dua Siswa SMPK Penabur itu, memiliki tinggi hampir 2 meter. Kondisi fisiknya, membuat mereka kesulitan mencari ukuran baju dan sepatu.

Dengan tinggi badan di kisaran 170 cm, saya hanya sepundak ketika berdiri di antara Terrell dan Zihad. Begitu juga guru dan teman-teman satu sekolahnya. Meski banyak keuntungan, tapi ukuran tubuh yang sedemikian tinggi untuk ukuran orang Indonesia, membuat keduanya mesti punya usaha lebih dalam urusan pakaian dan alas kaki.

Terrell harus selalu impor dari Amerika Serikat, hanya sekedar untuk mendapatkan sepatu yang dikehendaki. Baju seragam yang dikenakan, juga tidak seperti ukuran anak-anak lainnnya. Terrell mengenakan baju dengan ukuran 7L. Lebih rincinya, Zihad memiliki tinggi 197 cm dengan berat badan 90 kilogram.

Sementara Terrell, tingginya mencapai 192 cm, dengan berat badan 95 kilogram. Selain di sekolah, mereka berdua juga paling tinggi di keluarga. “Ayah sama ibu juga tinggi. Cuma tetap, dikeluarga yang paling tinggi saya,” kata Terrel, didamping Kepala SMPK Penabur, Puspa Dewi Handjojo SSi dan Wakil Kesiswaan Suprapti, di ruang Kepsek, Selasa (15/10).

Ayah Terrell tingginya sekitar 180 cm dan ibunya sekitar 170 cm. Tubuh jangkungnya, juga pernah jadi bahan ledekan teman. Tapi, itu semua berlalu begitu saja. “Saya menganggapnya itu hanya bercanda,” kata Terrell .

Sejak kecil, anak bungsu dari tiga bersaudara itu gemar meminum susu murni. Kemudian untuk hobi, siswa kelas 9 gandrung dengan olahraga basket. Terrell asli dari Semarang. Ia tinggal di asrama selama berada di Cirebon. “Untungnya jadi orang tinggi itu mudah lihat orang lain saat di keramaian,” ujar Terrell, polos.

Tubuh jangkung mempunyai keuntungan dan kesulitannya sendiri. Sekedar menyalurkan hobi melalui olahraga basket, tentu tidak ada masalah dan justru mempermudah. Lawan sulit merebut bola, ring standar basket setinggi 3,05 meter, lebih dekat dijangkau.

Namun tidak hanya itu, mereka yang masih pelajar kerap mengalami kendala tersendiri. Terlebih saat berada di dalam kelas. Mengingat bangku sekolah, di desain menyesuaikan postur tubuh siswa lain pada umumnya. Zihad harus memiringkan kakinya ketika belajar. Tidak nyaman, itu pasti.

Ternyata, hal tersebut juga baru disadari Puspa selaku kepala sekolah. Puspa saat itu berucap, akan segera mencarikan solusi. Entah meja ditinggikan, atau dengan cara lain. “Kalau di kelas miring duduknya. Kaki di lurusin juga tidak bisa,” ujar Zihad.

Zihad baru merasakan berbeda dengan yang lain, saat ia duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Di sana, tumbuh kembangnya kelewat cepat disbanding teman sebaya. Namun anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku, tidak merasa minder apalagi malu. “Pernah ada yang bilang orangnya tinggi dan seram. Ya kalau ada yang bilang begitu, dicuekin aja,” katanya.

Berbeda dengan Terrell, Zihad mengenakan sepatu dengan ukuran yang lebih kecil. Yakni 47 cm. Siswa kelas 8 ini memiliki hobi bermain basket. Beragam kompetisi pernah diikuti. Salah satunya adalah Sumedang Cup. Zihad juga bersyukur memiliki postur tubuh tinggi. Dengan polosnya ia mengatakan, postur tubuh tinggi dapat lebih mudah membantu orang tua ketika memasang lampu.

“Main basket juga lebih mudah. Kalau lari nggak ada kendala. Susahnya, nyari baju dan sepatu harus pesan dulu di Bandung. Kalau di sekolah, duduk di depan diprotes sama teman. Makannya kalau duduk selalu dibelakang. Kemudian naik mobil atau angkot juga susah, harus nunduk,” bebernya.

Zihad sangat gemar mengonsumsi sayur. Ia juga belum lama bersekolah di SMPK Penabur. Ya, Zihad merupakan anak pindahan dari SMPN 3 Sumedang. Kurang dan lebih, baru satu minggu ia menimba ilmu di SMP yang berlokasi di Jl dr Cipto Mangunkusumo itu. “Kalau ayah mah biasa, tingginya sekitar 170 cm. Kalau ibu 168 cm,” cakapnya.

Dalam kesehariannya, Zihad dan Terrell sama dengan siswa lainnya. Namun dengan posturnya yang melebihi rata-rata orang Indonesia, tetap saja kehadiran mereka cukup menarik perhatian. (ade)

Berita Terkait