Dua Bulan Satuan Narkoba Polres Cikab Ungkap 27 Kasus

Kapolres Cirebon Kabupaten AKBP Suhermanto, memperlihatkan sejumlah barang bukti dan menghadirkan beberapa tersangka pada ekspos kasus yang digelar di mapolres, Senin (2/9). Kurun waktu dua bulan Juli-Agustus 2019, Sat Narkoba berhasil mengungkap 27 kasus dan menciduk 32 tersangka. FOTO:CECEP NACEPI/RADAR CIREBON
Kapolres Cirebon Kabupaten AKBP Suhermanto, memperlihatkan sejumlah barang bukti dan menghadirkan beberapa tersangka pada ekspos kasus yang digelar di mapolres, Senin (2/9). Kurun waktu dua bulan Juli-Agustus 2019, Sat Narkoba berhasil mengungkap 27 kasus dan menciduk 32 tersangka.FOTO:CECEP NACEPI/RADAR CIREBON

CIREBON–Peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang di Kabupaten Cirebon semakin mengkhawatirkan. Buktinya, Sat Narkoba Polres Cirebon Kabupaten (Cikab) hanya dalam dua bulan Juli-Agustus 2019, berhasil mengungkap 27 kasus dan menciduk 32 tersangka.

Pada ekspos kasus yang dilakukan Kapolres Cirebon Kabupaten (Cikab) AKBP Suhermanto, Senin (2/9), sebanyak 13 tersangka dihadirkan berikut sejumlah barang bukti. “Jumlah kasus yang berhasil kita ungkap 27 kasus dengan rincian sabu-sabu 11 kasus, ganja 2 kasus, dan obat-obatan terlarang 14 kasus. Adapun jumlah tersangka yang diamankan 32 orang.  Di antaranya terlibat kasus sabu 15 tersangka,  ganja 2 tersangka, dan obat-obatan 15 tersangka,” papar Kapolres AKBP Suhermanto didampingi Kasat Narkoba AKP Joni.

Barang bukti (barbuk) yang disita yakni 4,21 gram sabu, 11,13 gram daun ganja kering, obat-obatan farmasi atau obat keras tertentu sebanyak 8.649 butir, dan uang Rp4.664.000. “Kasusnya sudah sampai perlengkapan berkas, dan ada juga yang tersangkanya sudah dilipahkan ke kejaksaan. Namun, ada beberapa perkara masih pengembangan untuk kita dalami lagi. Yang pasti, dari bulan-bulan sebelumnya, pengungkapan dua bulan sekarang ada peningkatan jumlah kasus,” paparnya.

Kapolres juga menjelaskan, paling banyak modus tersangka yakni sistem tempel yang dianggap paling aman. Caranya mendapatkan pesan dari pengendali untuk melakukan transaksi. Setelah deal, barulah pasien mentransfer uang ke pengendali. Sedangkan barang haram ditempelkan oleh kurir di suatu tempat yang dijanjikannya.

“Modusnya kasus sabu masi banyak menggunakan sistem tempel. Sistem tempel ini ada empat orang yang terlibat dalam sekali transaksi. Yakni pasien atau pembeli, Pengendali yang bisa saja di dalam lapas atau yang berkomunikasi melalui pesan media sosial, ada juga kuda atau biasa disebut kurir, dan yang terakhir adalah bos sumber sabu-sabu tersebut. Sistem tempel ini dianggap paling sulit pengungkapannya, karena penyidik harus benar-benar cermat,” paparnya. (cep)

Berita Terkait