Dinkes Tetapkan Kasus Keracunan Klangenan KLB

CIREBON-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon menetapkan kasus dugaan keracunan puluhan warga di Kecamatan Klangenan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Selain korban lebih dari tiga orang, peristiwa itu juga baru terjadi tahun ini.

Pihak Dinkes belum bisa mengeluarkan hasil resmi penyebab kasus tersebut. Lantaran sample makanan masih diteliti di laboratorim Dinkes Provinsi Jawa Barat.

“Kami telah mendapat laporan itu dari Puskesmas Bangodua bahwa korban yang diduga keracunan ada 20 orang. Meski semuanya telah bisa pulang, sample makanan masih diteliti di Bandung.

Kemungkinan seminggu ke depan baru bisa diketahui hasilnya,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Edi Susanto di sela kegiatannya kepada sejumlah awak media, (20/3).

Edi mengaku, setelah mendapatkan informasi, pihaknya langsung melakukan  investigasi atas laporan dari puskesmas terhadap 20 orang yang dikabarkan mengalami keracunan makanan pindang deles.

Meski mayoritas korban mengaku telah keracunan lantaran memakan pindang deles, namun pihaknya tetap melakukan observasi atas data yang tengah dihimpun.

Selain pindang deles, ada berbagai macam jenis makanan lain yang dikonsumsi para korban. Seperti tempe, sayur kembang boled, kerupuk dan sambel.

“Kami pun masih menduga karena faktanya masih dalam penelitian. Memang kalau yang berpotensi adalah pada jenis makanan pindang. Yang memang jika makanan yang berasal dari laut, bisa berpotensi demikian,” katanya.

Menurutnya, pihak Dinkes belum bisa mendiagnosa dan tetap merujuk pada status korban dengan alergi yang kadar anti histamine, yang menimbulkan mual muntah.

Dia menyebutkan, penguatan pada pindang deles memang bisa terjadi karena biasanya dari jenis makanan seafood yang menyebabkan alergi. “Ini mungkin juga karena bisa faktor ikan yang disimpan lama.

Kita tahu karena di pasar mungkin ikan tidak langsung dimasak, bisa saja disimpan dulu. Itu makanya perlu informasi edukasi kepada masyarakat.

Makanya, kami di Dinkes juga selalu mengupayakan di tempat-tempat umum memberikan informasi mengenai penyuluhan,” katanya.

Ke depan, tambah Edi, pihaknya akan kembali mengoptimalkan tempat pusat informasi, baik itu yang ada di kawasan ramai hingga pedesaan.

Yakni perihal informasi apa saja yang berhubungan dengan kesehatan makanan seperti kesehatan kandungan gizi dan jenis yang tidak boleh dikonsumsi.

“Jadi, atas kasus ini, sementara masih dugaan anti histamin yang faktor penyebabnya adalah alergi. Sehingga gejalanya mual muntah.

Kalau di Kabupaten Cirebon, kami baru memiliki laboratorium penelitian baku mutu kimia pada air di labkesling. Kalau untuk pemeriksaan makanan masih tetap harus dibawa ke Bandung,” ungkapnya. (ade)

 

Berita Terkait