Diintai Berhari-hari, Pengedar Pil Koplo Dibekuk di Pemakaman Wanasaba

Tersangka RP ditahan Satreskoba Polres Cirebon Kabupaten. Polisi juga menyita barang bukjti berupa sejumlah pil yang dijual tanpa izin.FOTO: HUMAS POLRES CIREBON KABUPATEN FOR RADAR CIREBON

CIREBON Lagi, Satuan Narkoba (Satreskoba) Polres CirebonKabupaten (Cikab) berhasil membekuk pengedar pil sediaan farmasi jenis obat keras tanpa izin. Kali ini pelaku yang dibekuk berinisial RP (25). Pria asal Jl Pancuran, Gg Samsu Jaya, Kota Cirebon, itu dibeluk Satreskoba Polres Cirebon saat hendak transaksi di area pemakaman Desa Wanasaba, Kecamatan Talun.

Kapolres Cirebon Kabupaten AKBP Suhermanto melalui Kasubag Humas Iptu Muhyidin mengatakan penangkapan atas tersangka dilakukan pada Senin (7/10) sekitar pukul 14.30 WIB. Bermula pada saat pihaknya mendapatkan informasi dari masyarakat adanya peredaran pil keras terbatas di wilayah Desa Wanasaba.

Mendapatkan informasi itu, penyidik langsung terjun ke lokasi untuk melakukan pengintaian hingga berhari-hari. Setelah informasi tersebut benar dan identitas tersangka dikantongi, penyidik langsung melakukan penyergapan saat RP diketahui ada di pemakaman Wanasaba. “RP kita gerebek dan diketahui membawa, memiliki, menguasai, menjadi perantara dalam jual beli sediaan farmasi jenis obat keras terbatas. Saat diamankan tersangka akan melakukan transaksi,” katanya.

Dari tangan tersangka, polisi menyita barang bukti berupa pil DMP sebanyak 480 butir, trihex sebanyak 430 butir, tramadol sebanyak 165 butir, pil dobel LL sebanyak 234 butir obat. Obat-obat tersebut disimpan dalam plastik klip warna bening dan sejumlah uang yang diduga dari hasil penjualan sebanyak Rp835.000.

Tersangka dan barang buktinya kemudian langsung digelandang ke Mapolres Cirebon untuk dilakukan penyelidikan dan pemeriksaan lebih lanjut. Di depan polisi, tersangka masih belum menunjukkan identitas tersangka lainnya, terutama untuk mengungkap asal usul barang tersebut.

“Kasus ini masih dalam penyelidikan petugas. Karena perbuatannya, tersangka terjerat Pasal 196 jo pasal 197  UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman kurungan penjara maksimal 15 tahun penjara,” kata Muhyidin. (cep)

Berita Terkait