Diduga Gunakan Ijazah Palsu, Kuwu Weru Lor Terpilih Dilaporkan ke Polisi

Iqbal Rizki SH dan Irwan Aryanto keluar dari ruang pemeriksaan Unit Jatanras, Mapolresta Cirebon, Senin (9/12).FOTO:CECEP NACEPI/RADAR CIREBON

CIREBON-Polemik Pemilihan Kuwu (Pilwu) Kabupaten Cirebon belum selesai. Salah satunya di Desa Weru Lor, Kecamatan Weru. Kuwu terpilih yang berinisial HB terpaksa dilaporkan oleh Panitia Pemilihan Kuwu Desa Weru Lor ke Polresta Cirebon terkait dugaan pemalsuan dokumen.  Diduga ijazah milik yang bersangkutan palsu.

Kasus tersebut kini dalam pemeriksaan para saksi di Unit Jatanras Satuan Reserse Kriminal Polresta Cirebon. Sebanyak 4 saksi dari panitia pemilihan kuwu sudah diperiksa, Senin (9/12). “Katanya sampai 3 hari, 11 saksi akan diperiksa. Hari ini (Senin, red), ada empat orang, termasuk saya diperiksa. Tadi ada sekitar 15 pertanyaan, terkait ijzah yang diduga palsu,” kata Irwan Aryanto selaku seksi keamanan dalam Panitia Pilwu Desa Weru Lor.

Irwan mengaku, pihaknya pada dua minggu lalu sudah melakukan penelusuran terkait keabsahan ijazah milik HB. Namun, hasil dari penelusurannya itu, HB dinyatakan tidak tercatat. “Dua minggu lalu, setelah kami menerima pengaduan, kita memverifikasi ulang ke MTS negeri, sudah dicari oleh 5 orang anggota tata Usaha (TU). Tapi, hasilnya tidak tercatat,” paparnya.

Diejeskan oleh  Ketua Panitia Pemilihan Kuwu Desa Weru Lor, Akhmad Jaljuli yang disampaikan oleh Iqbal Rizki SH, pihaknya telah mempelajari Ijazah milik HB yang dikeluarkan oleh Kepala MTsN 1 Kota Bekasi. Yang berisi tentang, siswa yang bernama HB dengan nomor induk 423 asal Madrasah As Syafiiyah 03 Jatiwaringin, Pondok Gede tidak tercatat dalam buku induk yang ada di madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Kota Bekasi tahun pelajaran 1987/1988 sesuai yang terlampir. “Kami juga telah melakukan investigasi ke Kementerian Agama kota Bekasi, di mana Kementerian Agama sudah memberikan keterangan kepada kami selaku Panitia Pemilihan Kuwu Weru Lor,” katanya.

Menurut Iqbal, dari dasar Ituah, pihaknya melakukan upaya hukum untuk menyerahkan persoalan tersebut kepada pihak polisi dengan membuat laporan pidana atas dugaan terjadinya tindak pidana pemalsuan, pada 12 November 2019. Dengan tujuan agar persoalan tersebut ditangani secara profesional, dan menjadi terang benderang.

“Kami tidak mempunyai kewenangan untuk menentukan ijazah yang digunakan oleh terlapor adalah palsu. Kami hanya menunggu keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap yang menyatakan ijazah tersebut adalah palsu atau tidak. Kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan dalam proses penyelidikan dan penyidikan. Kami tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah,” katanya.

Pihaknya juga menyampaikan apa yang menjadi keinginan panitia pemilihan kuwu, yang sudah bertindak objektif atas pesta demokrasi di Desa Weru Lor, agar dapat memilih pemimpin di Desa Weru Lor yang jujur bersih berintegritas demi kemajuan desa. “Klien kami sudah bertindak objektif atas pesta demokrasi,” imbuhnya. (cep)

Berita Terkait