Desain Ibukota Diumumkan Tim Juri 23 Desember

IKUT MENILAI: Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menjadi salah satu dari 13 juri untuk melakukan penilaian terhadap 257 desain ibukota baru dalam gelaran Sayembara Gagasan Desain Kawasan Ibukota Negara di di Hotel Grand Sahid Jakarta, Kamis (12/12).FOTO: BIRO HUMAS DAN KEPROTOKOLAN SETDA PEMPROV JABAR.

JAKARTA – Penjurian sayembara gagasan desain ibukota baru Indonesia memasuki tahap pertama. Sebanyak 257 usulan desain telah dinilai oleh 13 juri. Salah satunya adalah Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Ditemui usai penjurian, Ridwan Kamil yang seorang arsitek, telah diminta panitia untuk menilai secara profesional dan keilmuan desain ibukota Indonesia yang baru.

“Saya adalah satu dari 13 juri yang diminta untuk memberikan penilaian secara profesional dan keilmuan. Kebetulan saya arsitek perencana kota dulunya. Jadi, paham hal-hal teknis yang harus dimiliki oleh desain kota terbaik,” tuturnya saat berada di Hotel Grand Sahid Jakarta, Kamis (12/12).

Dia mengatakan, dari 257 desain yang masuk, terpilih lima besar pada tahap pertama ini. Para arsitek yang masuk lima besar akan kembali memaparkan desainnya pada 19 Desember mendatang.

“Dari situ lalu dipilih tiga besar untuk dipresentasikan ke Bapak Presiden. Jadi, presiden sendiri yang nanti memilih di antara tiga itu, mana yang kira-kira semangatnya dan visi misinya cocok,” katanya.

Pada penjurian tahap pertama ini, para juri memberikan penilaian. Setiap usulan desain harus memiliki nilai-nilai sustainability, terdapat simbol kenegaraan dan budaya, serta smart city. “Ini kan ibukota negara. Jadi semua nilai itu harus ada,” ucap pria yang biasa disapa Emil.

Emil dan juri lainnya mengaku cukup kesulitan menilai 257 desain itu karena semuanya baik. Namun, karena dipercaya menjadi juri adalah tugas penting negara. Dia bertekad akan menjalankannya dengan baik, di sela tugasnya sebagai Gubernur Jawa Barat.

“Sangat melelahkan karena 257 peserta dikali empat lembar, per lembarnya banyak informasi. Tapi ini tugas negara, harus dijalankan dengan baik,” ujarnya.

Emil sendiri memiliki kriteria khusus yang berbeda dari juri lainnya. Pertama, yang harus ada pada desain ibukota adalah bentuk geometrinya harus bagus.

“Kalau kriteria dari saya ada empat nilai yang harus ada. Pertama, bentuk geometrinya harus bagus apakah miring, lurus atau lengkung,” ucap Emil.

Kedua, lanjut dia, harus monumental, seperti ada alun-alun besar dan jalan utama untuk parade. Kemudian yang ketiga harus kontekstual, karena wilayah ibukota baru ini bersuhu tropis, banyak sungai dan bukit.

“Keempat, sistemnya harus berjalan. Artinya, kotanya harus workable, orangnya bisa berjalan kaki, kotanya tidak panas, jaraknya berdekatan. Itu kriteria yang saya tetapkan. Tapi tiap juri kan beda-beda, ada yang background-nya akademisi, lanskap, insinyur teknik, kalau saya kombinasi sebagai gubernur yang paham tata negara dan kota,” pungkasnya.

Selain Emil, juri lain yang ditugasi untuk ikut menilai antara lain, Iman S Ernawi, Prof Gunawan Tjahjono, Prof Wiendu Nuryati, dan Nyoman Nuarta. Para juri akan menyeleksi desain terbaik ibukota negara baru dan akan diumumkan 23 Desember mendatang. (jun)

Berita Terkait