Dapatkah Hewan Memprediksi Gempa Bumi?

Credit: Patrick Feindeiss

GEMPA bumi terjadi pada hari Jumat, (2/8) pukul 19:03:21 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dengan magnitudo M 7,4 pada kedalaman 10 km, berjarak 137 km baratdaya Sumur, Banten.

Demikian dalam narasi pertama yang dikeluarkan BMKG, gempa pukul 19.03 WIB tadi itu berkekuatan M 7,4 dengan pusat di 147 km arah barat daya Sumur, Banten. Narasi yang dikeluarkan tersebut juga menuliskan bahwa kedalaman gempa 10 km dengan potensi tsunami.

Namun, setelah dilakukan sejumlah pemutakhiran, terdapat sejumlah revisi mengenai keterangan gempa tersebut.

“Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa ini memiliki magnitudo awal M 7,4 selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi magnitudo M 6,9,” ungkap Kepala Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono.

Tak hanya kekuatannya yang berbeda, Daryono juga menyebut kedalaman gempa yang berbeda dari hasil analisis awal. Dalam analisisnya, Daryono mengatakan kedalaman gempa 48 km.

Getaran yang ditimbulkan oleh gempa ini sendiri dirasakan oleh warga Jakarta, wilayah Jawa Barat, hingga Jawa Timur.

Rasa panik tersebut dipastikan muncul, karena gempa tersebut datang secara tiba-tiba tanpa bisa diprediksi.

Tapi, konon hal serupa tidak terjadi pada hewan. Sebab beberapa hewan dianggap mampu memprediksi datangnya gempa.

Benarkah hewan bisa memprediksi kedatangan gempa?

Kini, sebuah penelitian terbaru mencoba menganalisis kembali data dari penelitian-penelitian sebelumnya. Peneliti yang berasal dari GFZ German Research Centre for Geosciences ini menghubungkan pengamatan pada hewan peliharaan dan ternak dengn skala dan lokasi gempa.

“Banyak makalah kajian tentang potensi hewan sebagai prekusor (pertanda) gempa, tetapi sejauh pengetahuan kami, ini adalah pertama kalinya pendekatan statistik digunakan untuk mengevaluasi data,” ungkap Heiko Woith, penulis utama penelitian ini dikutip dari Science Alert, Kamis (19/04/2018).

Untuk itu, Woith dan timnya mengumpulkan 180 penelitian yang menganalisis 729 laporan perilaku aneh hewan terkait dengan 160 gempa bumi. Mereka menganalisis meta-data penelitian-penelitian tersebut dengan memperhatikan rician seperti besar gempa, jarak, ativitas foreshock (gelombang sebelum gempa utama), dan kualitas penelitian tersebut.

Secara keseluruhan, para peneliti mencatat perilaku yang diamati berasal dari 130 spesies berbeda. Mulai dari anjing, sapi, bahkan ulat sutera.

Meski datanya terbilang melimpah, para peneliti menyimpulkan bank bukti ini mengalami keterbatasan kritis. Itu karena hampir semua penelitian, kecuali 14, didasrkan pengamatan tunggal.

Selain itu, tak adanya jadwal membuat mereka sulit mengevaluasi secara obyektif bagaimana perilaku khusus ini berbeda dengan perilaku normal. Ini membuat para peneliti tidak bisa menyingkirkan biar konfirmasi tentang pola perilaku.

Namun, penelitian yang dipublikasikan dalam Bulletin of the Seismological Society of America ini menyarankan bahwa perilaku aneh para hewan mungkin dipengaruhi getaran awal. Dengan kata lain, hewan mungkin lebih sensitif pada getaran awal.

” Hewan-hewan itu mungkin merasakan gelombang seismik – gelombang P (primer) atau S (permukaan) – yang dihasilkan oleh foreshick,” ujar Woith. 

“Pilihan lain, bisa jadi merupakan efek sekunder yang dipicu oleh foreshocks, seperti perubahan air tanah atau pelepasan gas dari tanah yang mungkin dirasakan oleh hewan,” imbuhnya.

Kita juga tak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa hewan punya “super-sense”.

Dengan mencatat aktivitas populasi hewan dalam jangka panjang, jauh sebelum gempa bumi, kita mungkin bisa mendpaat informasi yang lebih baik bagaimana perubahan perilaku mereka terkait dengan sifat gempa.

“Sampai saat ini, hanya sedikit seri waktu yang terkait dengan perubahan perilaku hewan. Paling lama hanya satu tahun,” kata Woith. (*)

Berita Terkait