Dampak Abrasi Blok Putbar Parah, Jalan Desa Terancam Putus

Abrasi
PENINJAUAN: Anggota DPRD Kabupaten Majalengka dari Fraksi PDIP, saat meninjau lokasi abrasi sungai Cikeruh, didampingi UPTD PPSDA Cilutung Timur, Sabtu (30/11). FOTO: ONO CAHYONO/RADAR MAJALENGKA

MAJALENGKA – Abrasi di Blok Putbar Desa Ligung Lor, mendapatkan perhatian melalui peninjauan oleh Dinas Perumahan Permukiman Sumber Daya Air (PPSDA). Dalam kunjungan tersebut juga didampingi anggota DPRD kabupaten Majalengka asal desa Ligung Lor, H Nono Sudarsono SE, Sabtu (30/11).

Namun sayangnya, sampai hari ini langkah nyata untuk menangani abrasi belum jelas. Pasalnya abrasi yang berada di perbatasan Desa Ligung Lor dengan Desa Wanasalam Kecamatan Ligung itu berlangsung sudah cukup lama.

Masyarakat setempat mengatakan lokasi abrasi sering ditinjau oleh instansi terkait dan wakil rakyat. Padahal warga Ligung ada yang duduk menjadi wakil rakyat, baik di DPRD maupun di DPR RI. Namun hingga saat ini, persoalan abrasi masih belum mendapat solusi konkret dari pemerintah.

“Kami hanya sebatas meninjau lalu mengajukan ke pusat melalui BBWS yang ada di Cirebon. Karena membangun Daerah Aliran Sungai (DAS) ini adalah kewenangan pusat, bukan daerah,” ujar kepala UPTD Cilutung Timur, Udin.

Dikatakan Udin, pihaknya sudah sering mengajukan titik-titik lokasi abrasi yang ada di Kabupaten Majalengka. Namun pengajuan yang sudah empat tahun sampai hari ini belum terealisasi.

“Jadi jangankan yang pengajuannya tahun ini, yang empat tahun kebelakang saja belum direalisasi,” katanya.

Hal senada disampaikan anggota DPRD Kabupaten Majalengka dari Fraksi PDIP, H Nono Sudarsono SE. Dirinya sudah sering mengajukan permohonan perbaikan yang terkena abrasi di Blok Putbar ini. Sampai hari ini tidak kunjung adanya kabar untuk segera dilakukan perbaikan DAS Sungai Cikeruh.

“Bukan tidak mungkin semakin lama area abrasi semakin meluas. Kalau tahun ini tidak segera adanya perbaikan, bisa dipastikan jalan penghubung antar desa di sini terputus. Dampaknya masyarakat terkena imbasnya. Mereka harus memutar ke wilayah Desa Randegan Kecamatan Jatitujuh yang lokasinya cukup jauh,” imbuh Nono.

Sementara itu tokoh masyarakat setempat H Cahyono yang juga mantan kepala UPTD Cilutung Timur menambahkan, abrasi ini diakibatkan Daerah Aliran Sungai (DAS) di sepanjang sungai ini tidak seimbang.

Karena ketinggian DAS Cimanuk dan Cikeruh berbeda. DAS Cimanuk lebih rendah, sehingga arus di bawah sungai dari Cikeruh menuju Cimanuk lebih keras terjangannya.

“Sehingga bibir sungai tidak sanggup menahan terjangan arus sungai yang keras, dan terjadilah abrasi. Jadi sebelum nantinya di bangun Tembok Penahan Tanah (TPT) alangkah baiknya DAS-nya diperbaiki. Ukur ketinggian DAS Cimanuk dan DAS Cikeruh. Kalau hal itu tidak dilakukan, maka abrasi akan terus terjadi,” paparnya.

Jalan penghubung antara Desa Ligung Lor dan Desa Wanasalam terancam putus dikarenakan jalan tersebut sudah tergerus abrasi setengah badan jalan. (ono)

Berita Terkait