Cirebon Penghasil Kerajinan Rotan Dunia

INGIN EKSIS LAGI: Perajin mebel rotan di Tegalwangi, Kabupaten Cirebon. Foto: Okri Riyana/Radar Cirebon

CIREBON – Kabupaten Cirebon merupakan wilayah penghasil kerajinan rotan terbesar di Indonesia. Sentra kerajinan rotan tersebut hampir tersebar di sejumlah kecamatan.

Kecamatan Weru, tepatnya di Desa Tegalwangi merupakan salah satu sentra penghasil kerajinan rotan. Kini Tegalwangi juga ditetapkan menjadi sebuah kampung wisata.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon Erry Ahmad Husaeri mengatakan, kerajinan dan furnitur rotan merupakan salah satu produk unggulan di Kabupaten Cirebon. Produknya sebagian besar di ekspor ke Amerika Serikat, Eropa, dan sejumlah negara di Asia.

“Semua kerajinan yang berbahan dasar rotan ada di Desa Tegalwangi, mulai dari proses produksi sampai pemasaran. Ya sekitar 85 persen kerajinan dan furnitur rotan di dunia ini berasal atau di pasok dari Kabupaten Cirebon,” jelasnya.

Erry menjelaskan, kerajinan yang berbahan rotan selama ini dikelola masyarakat. Kualitas produk yang dihasilkannya sangat baik. Sehingga kerajinan rotan asal Kabupaten Cirebon ini terkenal hingga mancanegara.

“Untuk meningkatkan produksi furniture rotan, Pemerintah Kabupaten Cirebon gencar melakukan pameran ke luar negeri. Termasuk pemerintah daerah telah menerbitkan surat edaran Bupati Cirebon Nomor 1550/573/Indag tentang Penggunaan Mebel dan Kerajinan Rotan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cirebon,” jelas Erry.

Surat edaran tersebut, tambah Erry, ditujukan kepada para Kepala SKPD, Direktur BUMN/BUMD, lurah/kuwu dan kepala sekolah se-Kabupaten Cirebon. Hal ini dimaksudkan untuk peningkatan pemasaran produk lokal kepada masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri oleh dinas teknis terkait.

“Surat edaran itu merupakan anjuran kepada kepala SKPD, Direktur BUMN/BUMD, lurah/kuwu dan kepala sekolah untuk menggunakan produk itu dalam belanja modal pengadaan mebeler dan keperluan pemberian cenderamata dalam momentum terntu. Sekaligus menyosialisasikan kepada masayarakat luas,” ucapnya.

Mendindaklanjuti surat edaran tersebut, kata Erry, Disperindag mengusulkan mebeler rotan ke dalam standar belanja barang tahun 2017. Hal itu sebagai bahan acuan dalam belanja modal pengadaan mebeler.

Spesifikasi barang dalam belanja barang meliputi, jenis, tipe dan ukuran, harga (termasuk PPN, antisipasi keuntunga penyedia), komponen produk (kandungan rotan75persen) dan pengiriman produk sampai dengan tujuan.

“Kami melakukan kerja sama dengan DPD Cirebon Raya HIMKI, Komunitas Desainer Rotan Cirebon (RADEC), Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK). Secara priodik juga kita lakukan pertemuan grup diskusi untuk mencari solusi dalam menghadapi permasalah pelaku industri,” tuturnya.

Erry menambahkan, Disperindag juga bersama Setia Kawan Motor telah menyelenggarakan lomba design rotan pada 26-27 September 2016 di Hotel Aston Cirebon. Temanya, ”Akulturasi Kursi Rotan Dengan Budaya Cirebon”.

Hal ini dimaksudkan untuk merangsang adanya inovasi dalam membuat design industri mebel berbahan baku rotan. Kriterianya meliputi kursi tamu, mengandung nilai kearifan lokal (budaya Cirebon), mengandung unsure rotan 75 persen, ramah lingkungan, tes beban 150 kg, fungsi (dapat sesuai dengan design) dan ekonomis.

“Tentu harus mengikuti trend design dan berorientasi pasar (bernilai ekonomis, red),” pungkasnya. (sam)

Berita Terkait