Cirebon Menanti Efek BIJB Kertajati, Penumpang Pesawat Baru Sebatas Transit

Maskapai Air Asia dari Denpasar mendarat di BIJB Kertajati FOTO:DOK.RADAR CIREBON
Maskapai Air Asia dari Denpasar mendarat di BIJB Kertajati FOTO:DOK.RADAR CIREBON

CIREBON-Sejak 1 Juli, setidaknya 56 penerbangan yang meliputi 13 rute domestik dipindahkan ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Tentu diharapkan adanya peningkatan kunjungan wisata ke Cirebon. Namun hingga saat ini dampak belum terlihat.

Pembeli datang nyaris tak berhenti. Selepas makan, salah seorang karyawan nasi jamblang legendaris tersebut datang menghampiri. Dengan gaya menghitungnya yang khas. Memijit tombol plus berulang pada kalkulator.

Sementara Fitri (48) sibuk memerhatikan catatan karyawanannya. Di kertas itu, tercantum pesanan juga angka-angka dan tulisan. Bak kode-kode tertentu. Hanya mereka yang paham. Di akhir pekan, rumah makan Nasi Jamblang Mang Dul memang lebih ramai dari biasanya.

Fitri ada generasi kedua yang mengelola. Ia paham betul pasang surutnya. Belakangan, memang dirasa persaingan lebih ketat. Pembelinya agak menurun. “Kalau dibanding tahun-tahun kemarin agak menurun ya. Nasi Jamblang sekarang di mana-mana,” ujarnya, kepada wartawan Radar Cirebon.

Meski diklaim agak sepi, tapi pembeli toh masih berjubel datang. Untuk akhir pekan saja, rumah makan ini bisa menghabiskan 2 kuintal dalam sehari. Belum lagi dengan bahan lain seperti daging yang bisa sampai 30 kilogram, cabai sekitar 40-50 kilogram. dalam sehari dimasaknya. Jumlah tersebut dimasaknya untuk satu hari setiap akhir pekan.

Aneka menu Nasi Jamblang Mang Dul. Aktivitas penerbangan di BIJB Kertajati belum memberi dampak signifikan pada pariwisata Kota Cirebon. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Aneka menu Nasi Jamblang Mang Dul. Aktivitas penerbangan di BIJB Kertajati belum memberi dampak signifikan pada pariwisata Kota Cirebon. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

Fitri mengaku tak tahu berapa porsi yang terjual. Ia tak pernah menghitung. Ramai atau tidaknya pembeli diketahui dari berapa banyak bahan yang dimasak dan dihabiskan. Untuk tetap mempertahankan usahanya, Nasi Jamblang Mang Dul mengandalkan langganan.

Juga menjalin kerja sama dengan pemandu wisata ataupun agen perjalanan. Tapi, kebanyakan tamu yang didatangkan menggunakan moda transportasi kereta api atau bus. Sementara dampak dari beroperasinya BIJB Kertajati, dirasa belum nampak. “Kalau guide biasanya ngegaetnya kesini. Yang dari kereta itu pasti pada ke sini. Ini alhamdulillah masih banyak,” ungkapnya.

Ketua ASPI DPC Wilayah III Jabar Abdul Rozak mengungkapkan, pengalihan penerbangan memang sangat menguntungkan bagi sektor pariwisata terutama bagi Cirebon. Namun hingga saat ini belum terasa lonjakan pengunjung ke Cirebon. Khususnya wisatawan. Ia memprediksi hal tersebut baru bisa dilihat setelah tiga bulan ke depan. Atau bahkan bisa lebih dari itu. “Sekarang belum kelihatan dampaknya, dua atau tiga bulan kita lihat,” kata Abdul.

Dengana danya pengalihan penerbangan ini, ia sangat optimis kunjungan wistaan terus meningkat. Namun tentu harus dibarengi dengan sinergitas pemda yang memunculkan berbagai destinasi baru. Bukan hanya destinasi yang ada namun saat ini menurutnya sudah harus dikembangkan berbagai event yang dapat menarik wisatawan baik dalam skala nasional maupun internasional.

“Kalau terpaut dengan wisata itu-itu saja atau belanja dan kuliner saja, bisa kalah dan dikhawatirkan wisatawan ke Bandung. Dari sekarang semua harus disiapkan dengan berbagai event nasional serta internasional,” jelasnya.

Tantangan pariwisata ke depan, memang sangat menggairahkan. Geliat pariwisata Cirebon sangat menjanjikan. Apalagi dengan dibukanya Tol Cisandawu nanti. Akses jalan yang lebih mudah ini seharusnya dimanfaatkan pemerintah daerah. Saat ini saja, di akhir pekan Cirebon bukan lagi jadi kota transit, namun menjadi kota tujuan. Meski begitu kedatangan memang masih didominasi dari barat, seperti Bandung dan Jakarta.

Adapun luar pulau melakukan perjalanan ke Cirebon masih sebatas dalam rangka pekerjaan. Sedangkan daerah timur presentasenya masih sangat sedikit. “Kalau mulai Jumat sampai Minggu pasti banyak wisatawan. Seminggu terakhir kami sulit mencari hotel karena full semua,” terangnya.

Ia pun berharap pemerintah daerah saat ini mulai menjadikan pariwisata menjadi satu sektor yang diperhatikan. Karena sektor pariwisata mampu memberikan efek positif bagi warga Cirebon dan sekitarnya. “Saat ini rasanya pemerintah belum total dalam menggeliatkan pariwisata, warganya pun belum memiliki mindset mengenai potensi pariwisata,” pungkasnya. (myg)

Berita Terkait