Buku dan Absurditas Mahasiswa Milenial

Oleh: Wahab Abdul

SETIDAKNYA, setelah saya hitung urut secara manual, berderet 56 warung nasi, 89 lapak jajanan, 41 lapak minuman, 28 rental komputer dan fotokopi, 2 toko buku dan 1 lapak buku klemprakan di seperempat Jalan Perjuangan. Tidak ada yang tidak laku, kecuali toko buku. Lapak makanan dipastikan akan semakin bertambah. Sementara toko buku, faktanya, kian berguguran.

Data penjualan toko buku Restu di Gang Kampus menunjukkan, dalam satu bulan, sekitar 100 buku terjual. Tapi jangan salah,  yang terjual itu hampir seluruhnya buku pelajaran sekolah atau mata kuliah. Itu pun hanya berlangsung di awal tahun ajaran baru.

Nasib lapak buku Umar (di depan Kampus IAIN Syekh Nurjati), lebih memprihatinkan. Setelah melewati masa bahagia di awal tahun ajaran baru, dia harus pindah ke tempat lain yang peminat bukunya lebih baik. Sedangkan toko buku Toha Putra, hanya menjual alat tulis dan kitab-kitab bernapaskan Islam. Di jalan ini juga, sudah tidak ada lagi lapak koran dan majalah. Mungkin karena tidak ada pembelinya.

Apa yang bisa dibayangkan dari situasi semacam itu? Sebuah lingkungan ilmiah yang justru lebih mengedepankan isi perut. Maka, tidak berlebihan kiranya, sastrawan Cirebon, Edeng Syamsul Ma’arif, berseloroh: tidak lama lagi, mahasiswa di kampus Jalan Perjuangan beramai-ramai membuat skripsi dengan salah satu judulnya “Pertumbuhan Cilor dalam Perspektif Fenomenologi Edmund Husserl”.

Jika sebuah kampus menetapakan masa studi sampai 12 semester, maka, mahasiswa semester paling akhir yang sedang menggarap skripsi saat ini, dipastikan lahir pada 1995. Artinya, usia tersebut masuk ke kategori generasi milenial. Sebuah periodisasi usia yang menandai pertumbuhan watak dan karakter oleh pengaruh teknologi. Meski sebenarnya, milenial tidak semata urusan rentang waktu 1980 sampai 2000-an. Dia lebih menunjukkan fenomena berkembangnya watak baru secara masif menembus ruang-ruang paling sempit sekalipun.

Dan karena tumbuh oleh gempuran  teknologi itulah, kebiasaan mencari dan memperoleh informasi sekaligus pengetahuan pun bergeser. Laman virtual menjadi pilihan utama bagi hampir seluruh proses kehidupan. Tradisi membaca buku berubah jadi membaca e-book atau pdf yang dianggap jauh lebih murah, ringkas, dan cepat. Bahkan, seolah menjadi sah dan benar dalam setiap penyusunan makalah mahasiswa. Buku kian terasing dan mendekati titik nadir. Kelas menengah terpelajar (mahasiswa) yang diharapkan menjadi ujung tombak pertahanan tradisi membaca buku, runtuh.

PARADOKS KELAS MENENGAH TERPELAJAR

Tengok misalnya, lewat wawancara personal dan identitasnya minta dirahasiakan, seorang mahasiswa aktivis sebuah perguruan tinggi negeri di kawasan itu meyakini, buku adalah pilihan utama untuk kebutuhan nalarnya dibanding e-book dan pdf. Tapi anehnya, dia menempatkan buku di posisi terakhir setelah prioritas makan dan kuota. Setiap bulannya juga tidak pernah menganggarkan untuk membeli buku. Bahkan, jadwal membaca buku pun tidak pernah ada. Baginya, buku dibutuhkan dan dipikir hanya ketika menggarap skripsi. Paradoks yang tumbuh subur  dan diberikan pemakluman terus-menerus.

Situasi ini juga diamini oleh salah satu dosen, Wakhit Hasim M.Hum, minat baca mahasiswa memang kurang  bagus. Mereka mau membaca buku hanya ketika ada tugas wajib dan dianggap berpengaruh terhadap nilai mata kuliah. Mungkin seratus banding dua antara mahasiswa yang suka dan tidak suka membaca buku. Ia menilai, medsos menjadi faktor yang lebih berpengaruh bagi hilangnya budaya membaca buku ketimbang warung makanan. Medsos telah mengganti ngobrol sosial menjadi mind personal. Tapi yang lebih mengejutkan, adanya fakta bahwa minat baca dosen juga sangat kurang. Dan ini menular kepada mahasiswa.

Menurutnya, jika dosen kuat membaca dan memberi tugas baca dengan kuat, mahasiswa akan tertular juga. Diskusi serius masih sangat jarang. Kalau pun ada diskusi rutin, hanya berlangsung di jurusan Aqidah Filsafat Islam (AFI). Tawaran Wakhit adalah mendorong budaya riset, menulis, dan membaca. Medsos dapat digunakan sebagai media tulisan kritis. Menyusun jadwal diskusi rutin, dan tulisan-tulisan mahasiswa dapat diterbitkan bersama dosen. Tapi pertanyaannya, siapa yang memiliki power untuk menggerakkan semua itu?

Di lain pihak, pengelola jurnal jurusan AFI, Naila Farah, M.Ag mengungkapkan, sangat sedikit dosen yang membuat karya tulis. Hanya ada 3 dosen dari dalam dan sebagian kecil lainnya dari luar kampus. Sebab, dosen tidak dikenai kewajiban untuk membuat karya tulis, dan jurnal hanya bersifat fasilitas. Jurnal yang terbit 2 kali dalam setahun dan isinya mengenai filsafat, tasawuf, sosial dan budaya itu, pada akhirnya, seperti formalitas belaka.

Senada dengan Wakhit Hasim, Naila juga merasa prihatin mendapati kenyataan rendahnya minat baca mahasiswa hari ini. Ia mengklaim, mahasiswa yang rajin membaca dan bisa menulis, berada di kisaran seratus banding satu. Menurutnya, cara yang paling mungkin untuk menumbuhkan kesadaran minat baca dan menulis bagi mahasiswa adalah dengan metode penekanan untuk rajin membaca atau diberi tugas untuk me-resume buku, dan diadakan kompetensi menulis secara formal oleh pimpinan jurusan.

Sementara, data perpustakaan institut menunjukkan, pada 2018 pengunjung berjumlah 62,618 orang dan peminjam buku 26,681 orang. Progresi pengunjung paling banyak tercatat di awal Februari sampai Mei, bertepatan dengan berakhirnya ujian tengah semester. Dan di akhir tahun, antara September sampai Desember, setelah ujian akhir semester. Begitu pula progresi peminjaman.

Sedangkan, pada 2019, data baru tervalidasi sampai Agustus. Jumlah pengunjung sebanyak 17,730 orang dan peminjam buku 10,193 orang. Data pengunjung paling banyak tercatat di bulan Maret, sejumlah 4333 orang. Peminjam buku terbanyak juga tercatat di bulan ini, yakni 3356 orang. Buku pokok mata kuliah jadi favorit para peminjam.

DATA SPASIAL DAN MAHASISWA ABSURD

Tulisan ini bukanlah data global. Bukan pula representasi kecenderungan seluruh mahasiswa di Cirebon. Tidak juga sedang membuat komparasi negatif antara kampus satu dengan lainnya. Lebih mengerucut lagi, ini sebatas data spasial yang disusun secara acak. Karena boleh jadi, ada data lain yang lebih lengkap dan menunjukkan iklim positif atau, lebih dari itu, membatalkan data dan fakta di atas secara keseluruhan. Hanya saja, hingga saat ini, saya belum menemukan data komprehensif yang menjelaskan persoalan ini.

Justru, saya mendapati kenyataan yang lebih mengerikan. Suatu malam seusai diskusi rutin mingguan, kami didatangi seorang mahasiswa yang mengaku sudah menerbitkan buku kumpulan puisi dan sedang menunggu buku keduanya dicetak. Ia juga menunjukkan foto cover buku pertamanya yang terpampang pada Instagram. Benar, namanya tertulis di situ dan penerbitnya memberikan testimoni. Tapi lucunya, ia mengklaim bahwa Kahlil Gibran adalah penyair Indonesia. Sejak kapan penyair kelahiran Lebanon itu pindah status kewarganegaraan ke Indonesia?

Dia juga meyakini betul, Raditya Dika adalah sastrawan hebat. Anehnya, ketika ditanya apakah dia mengenal WS Rendra, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Ayu Utami, Maman S Mahayana, dan sejumlah sastrawan nasional lainnya, dia menjawab tidak tahu. Dia hanya tahu Sujiwo Tejo, Cak Nun, Mahfud MD, yang dikenalnya lewat channel YouTube.

Ini benar-benar absurd! Bagaimana mungkin seorang penulis, lebih-lebih  penulis buku puisi, mengabaikan syarat wajib dan tak bisa ditawar dalam proses kepenulisannya (membaca buku sastra dan mengenali sastrawannya)?

Apakah ia terobsesi paranoia orisinalitas dan sindrom kebebasan berekspresi? Atau, satu jalur syaraf di otaknya ada yang putus? Saya tidak akan menyimpulkan dan memvonis. Lagi pula, itu bukan urusan saya. Tapi setidaknya, itu bisa jadi cerminan, betapa banal dan ngawurnya konstruksi pikir yang sedang berlangsung pada diri mahasiswa itu.

Betapa rendahnya penghargaan mahasiswa terhadap buku. Maka, benarlah apa yang diyakini Mang Kamid—penjual gorengan di depan kampus yang kutu buku, dirinya tidak akan meminjamkan buku-bukunya lagi kepada mahasiswa. Karena pasti rusak, tidak dibaca, atau bahkan tidak dikembalikan. Tabik, Mang Kamid! (*)

 *) Penulis bergiat di Ngopi Rabu Malam, Komunitas Sastra Lingkar Jenar

Berita Terkait