Bencana Abrasi Ancam Majalengka Utara

Abrasi-sungai-ciwaringin
CEK KONDISi: Pemdes Panjalin Kidul didampingi Bhabinkamtibmas Polsek Sumberjaya dan Babinsa Koramil Sumberjaya meninjau kondisi terakhir abrasi sungai Ciwaringin yang mengancam keselamatan masyarakat di Blok Senin. FOTO: ONO CAHYONO/Radar Majalengka

MAJALENGKA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka berencana menanggulangi abrasi sungai di beberapa wilayah dengan penanganan pendekatan alam. Menanam rumput di lokasi rawan, menjadi salah satu upaya untuk mencegah level kerawanan terus bertambah.

Manajer Pusdalops Penanggulangan Bencana (PB) BPBD Kabupaten Majalengka Indrayanto mengatakan, sejumlah titik di Kabupaten Majalengka masuk ke dalam daerah rawan bencana longsor dan abrasi. Untuk kategori pertama, sebagian besar terjadi di wilayah Majalengka selatan. Adapun ancaman abrasi, lebih didominasi oleh Majalengka bagian utara.

“Penanganan dengan pendekatan alam, menanam rumput vetiver digabung dengan rumput gajah dan kaliandra. Itu sudah masuk rencana. Insya Allah awal tahun depan sudah dilakukan,” katanya, Selasa (5/11).

Disebutkan, ada beberapa pertimbangan pemerintah hingga akhirnya memutuskan melakukan pendekatan alam untuk penanganan bencana tanah longsor dan abrasi. Biaya yang relatif kecil dibanding membuat senderan menjadi salah satu alasan memilih rumput untuk penanganan bencana itu.

Selain relatif lebih murah dan ketahanan lebih lama dibanding senderan, akar tanaman bisa sampai 6 meter. Untuk tahap pertama, sebagai pilot project akan dilakukan di enam titik, yakni Desa Liangjulang (Kecamatan Kadipaten), Ampel (Kecamatan Ligung), Sindangpano (Kecamatan Rajagaluh), Cingambul (Kecamatan Cingambul), Sukamenak, dan Desa Bantarujeg (Kecamatan Bantarujeg).

Terkait lokasi yang masuk ke dalam tahap awal, atas pertimbangan tingkat kerawanan yang dinilai sudah cukup kritis. Ke depan, jika cara itu efektif, akan dilakukan di daerah lain.

“Pertimbangannya, kondisinya sudah kritis, terutama dekat dengan pemukiman dan mengancam. Tiap titik sekitar 100 meter persegi. Nanti mungkin dikembangkan ke tempat lain untuk menahan abrasi dan longsor,” paparnya.

Indra mengaku, penanganan bencana longsor dan abrasi dengan cara demikian terinspirasi dari program Citarum Harum.(ono)

Berita Terkait