Begini Penjelasan Karopenmas Polri soal Kasus Penyerangan Wiranto Diserang

Pelaku Berbagi Tugas, tapi Ngaku Tak Kenal Target

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo (kanan) memimpin konferensi pers, menjelaskan perkembangan pemeriksaan terhadap pelaku penusukan terhadap Monkoplhukam Wiranto.FAJAR:FAJAR INDONESIA NETWORK

JAKARTA-Penusukan terhadap Menkopolhukam Wiranto pada Kamis siang (10/10) di Pandeglang, Banten, dilakukan secara spontan. Kedua pelaku, Syahril Alamsyah alias Abu Rara (31) dan istrinya Fitri Diana (21) tidak mengenal Wiranto. Pasutri ini hanya tahu target yang diserangnya adalah pejabat tinggi negara.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan para pelaku melakukan serangan secara spontan atau tak direncanakan. Begitu melihat ada helikopter mendarat di lapangan Alun-alun Menes, Pandeglang, dan banyak warga berkumpul, keduanya baru menyiasati penyerangan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, saat melihat helikopter mendarat membawa pejabat negara, barulah Abu Rara dan istri terpikir untuk melakukan aksi penyerangan. Keduanya kemudian mempersiapkan segala sesuatunya, serta berbagi tugas di rumah yang berjarak sekitar 300 meter dari alun-alun.

“Yang punya ide spontan ini pelaku SA alias Abu Rara. Dia mengatakan kepada istrinya, kalau akan menyerang orang yang ada di kapal (helikopter) itu, lalu minta istrinya siap-siap ikut dan memberi tugas untuk menyerang polisi yang paling dekat dengannya, setelah dia melakukan penyerangan,” kata Dedi saat konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta.

“Untuk persiapan aksi, keduanya itu masing-masing membawa senjata tajam. Abu Rara yang membawa pisau kunai dan istrinya membawa gunting. Senjata itulah yang akan digunakan untuk melakukan aksinya itu,” sambungnya.

Keduanya lalu berangkat ke lokasi untuk melakukan apa yang disebut kelompok teroris itu sebagai bagian dari amaliyah. Dan saat itu, mereka turut membawa anaknya yang masih kecil. Tujuannya untuk mengelabui aparat agar bisa mendekat seperti warga lain yang ingin selfie dan berjabat tangan dengan Wiranto.

“Jadi keduanya ikut kumpul bareng warga lain di lokasi untuk bisa mendekat dengan Pak Wiranto. Sempat juga dihadang petugas agar tak mendekat, tapi yang namanya pejabat, biasa kan menyapa warga dan berfoto. Jadi akhirnya, mereka bisa mendekat bersama warga lainnya. Dan ketika itu juga serangan dilakukan keduanya,” terangnya.

“Tapi korban yang kena duluan adalah H Fuad, baru Pak Wiranto. Sedangkan Kapolsek Menes yang melakukan istri Abu Rara dengan menggunakan gunting. Bahkan, istrinya kembali mau menyerang Kapolda, tapi sama Kapolda ditangkis dengan tongkat komando hingga dia pun ditangkap,” ujarnya.

Ketika melihat sang istri ditangkap, Abu Rara yang sudah diamankan lebih dulu berontak. Saat itu, pisau kunai masih melekat di sela-sela jarinya dan sempat melukai ajudan Dandim, sebelum akhirnya kembali berhasil diredam dan diamankan petugas. Selanjutnya, keduanya pun dibawa ke Polres Pandeglang. “Saat ini keduanya sudah dilimpahkan ke Densus 88. Kini mereka pun masih diperiksa dan dikembangkan,” imbuh Dedi.

Dikatakan Dedi, aksi nekat Abu Rara dan Fitri merupakan buah dari doktrin dan pembelajaran yang didapatkan dari sosok Amir JAD Bekasi Abu Zee. Pasangan suami istri itu diketahui sempat direkrut Abu Zee. Bahkan Abu Zee menjadi tokoh panutan keduanya. Mereka juga dinikahkan oleh Abu Zee.

“Abu Rara ini sempat direkrut oleh Abu Zee dan sempat dibina untuk masuk jaringannya. Namun belum sempat masuk karena dia tak mengikuti tahap berikutnya, yakni Idad atau latihan lapangan seperti perang. Hal itu karena dia pergi ke Menes setelah dinikahkan dengan Fitri oleh Abu Zee. Jadi, Abu Rara ini baru sebagai simpatisan saja,” jelas Dedi.

Untuk motif, Dedi menyebut Abu Rara dan istrinya stres dan takut karena tahu Abu Zee ditangkap bersama 8 orang lainnya ditangkap pada 23 September 2019 lalu. Dia berpikir, akan segera ditangkap Densus 88. Hingga kemudian dia pun telah lama menanti momen untuk merencanakan amaliyah.

Ya, motif penyerangan oleh Abu Rara in, karena stres dan takut ditangkap setelah sosok tokoh JAD yang dianggap amirnya itu tertangkap. Dan sejak itu juga dia merencanakan lakukan amaliyah. Kemarin itulah, dia menganggap momen yang tepat. Dengan harapan yang tadi kami sampaikan, bisa ditembak mati petugas sehingga dianggap mati syahid setelah melakukan amaliyah,” tuturnya.

Terakhir, Dedi mengatakan kasus ini tak ada kaitannya dengan ancaman pembunuhan yang sempat disematkan ke Wiranto dan didalangi Kivlan Zen. Namun, kasus ini murni tindakan kelompok teroris dalam rangka menciptakan kegaduhan dan ketidakamanan kamtibmas secara nasional.

“Aksi kelompok ini pun berafiliasi dengan ISIS, di mana yang menjadi sasaran amaliyahnya itu pejabat negara dan aparat karena menganggap thogut dan kafir. Terlebih, 17 tahun kelompok ini kita berantas dengan tindakan preventif strike yang tentu memicu kebencian kelompok radikal di negeri ini. Oleh sebab itu, kami mengajak semua masyarakat ikut berperan melawan terorisme,” pungkasnya. (mhf/gw/fin)

Berita Terkait