Banjir Bertahan Lama, Warga Karanganom Minta Ada Perbaikan Drainase

DRAINASE MAMPET: Banjir di wilayah Karanganom, kemarin. Air di wilayah itu lama surut karena drainase tak berfungsi. FOTO: OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON- Selain Kelurahan Kalijaga, salah satunya wilayah terdampak banjir adalah kawasan RW 08 Karanganom, Kelurahan Lemahwungkuk. Berbeda dengan banjir di wilayah lain yang cepat surut, banjir di Karanganom justru bertahan cukup lama. Hingga sore kemarin, air belum surut. Khususnya berada di RT 01 dan 02.

Ketinggian bervariasi. Mulai dari 20 hingga 50 cm. Air bahkan masuk ke dalam rumah rumah warga, meskipun di pintu rumah mereka telah ditambak untuk menghalau air. “Yang bikin repot itu akses jalan. Kebanjiran semua. Bikin warga susah beraktivitas,” ujar Bunari, warga RT 01 RW 08 Karanganom, kemarin (14/1).

Dikatakan, saat turun hujan yang terjadi Senin malam (13/1), sebenarnya air masih belum masuk ke rumah rumah warga. Namun setelah hujan mereda, air justru masuk. Air disebutnya datang dari limpahan saluran air atau drainase yang mengelingi wilayah tersebut. Wilayah tersebut memang dikelilingi oleh jalan.

Karena berada di dalam persimpangan Karanganom. Tak jarang, saat terjadi cuaca ekstrem, banjir bisa bertahan hingga 3 hari. “Memang saluran drainase untuk keluarnya air Cuma ada satu satunya. Itupun kondisinya sudah tidak mendukung. Karena terlalu kecil,” kata Bunari.

Senada juga diungkapkan oleh warga lainya, Misra. Ia menyebut, tak kurang dari 87 rumah tergenang di lokasi tersebut. Ia berharap ada perhatian dari pemerintah untuk mengatasi kondisi drainase yang menjadi penyebab terjadinya banjir. Terlebih, di dalam drainase tersebut terdapat kabel-kabel yang menyumbat keluarnya air.

Sementara itu, Gunawan, Ketua RW 08 Karanganom mengungkapkan, keluhan warga soal drainase itu sebelumnya sudah sering disampaikan. Namun hingga sekarang, belum ada penanganan yang berarti. Banjir yang kerap terjadi seringkali membuat aktivitas warga menjadi lumpuh.

Sementara itu, banjir yang melanda beberapa tempat di Kota Cirebon dissebut akibat curah hujan yang tinggi. Bukan hanya di Cirebon saja, wilayah Kuningan sebagai hulu juga terjadi hujan lebat. Sehingga volume air banjir yang melalui sejumlah sungai dan anak sungai tidak bisa tertampung.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUPR) Kota Cirebon Syaroni ATD MT didampingi Kabid SDA Agung Kemal Hasan ST mengatakan di Sungai Kalijaga yang sudah dilakukan normalisasi tak mampu menampung debit banjir kiriman. Sehingga banjir meluap ke rumah penduduk disekitarnya.

“Sungai Kalijaga ini juga bertemu dengan Sungai Cikalong yang lebih besar. Sehingga bila Sungai Cikalong penuh, Sungai Kalijaga tidak bisa mengalirkan air banjir. Bahkan malah dari Cikalong yang masuk ke Kalijaga,” ujarnya, Selasa (14/1).

Syaroni menyampaikan, dari hasil evaluasi dengan pihak BBWS Cimancis, titik krusial yang harus diperbaiki adalah pada Sungai Cikalong yang mengalami sedimentasi dan penyempitan. Lokasinya di dekat Jembatan Larangan Kecamatan Harjamukti. Di lokasi ini ketinggian banjir sudah pada posisi kritis.

Untuk itu, hari ini satu unit backhoe dari BBWS diturunkan untuk mengeruk lokasi itu. Diharapkan setelah pengerukan, air banjir dari Sungai Cikalong dan anak sungai lainnya bisa mengalir lancar. “Besok (hari ini, red) BBWS meminjamkan backhoe, kita yang sediakan operator dan operasionalnya,” imbuhnya.

Pantauan di lapangan, sisa-sisa banjir sudah diatasi. Seperti di situs petilasan Kalijaga yang menjadi wilayah terparah, puluhan warga dibantu oleh personel TNI dan Polri, KPBD, Tagana, Satpol PP, Damkar dan SAR serta komunitas lainya melakukan aksi bersih-bersih endapan lumpur bekas banjir.

Berdasarkan data dari Kantor Penanggulangan Bencana Daerah (KPBD) Kota Cirebon, warga terdampak banjir di Kelurahan Kalijaga mencapai 320 KK dengan 164 rumah. Sedangkan di Kelurahan Pegambiran, tercatat ada 98 KK dengan 87 rumah yang terdampak banjir. Akibatnya, ratusan orang sempat dievakuasi dan diungsikan ke tempat yang lebih aman.

“Di KPBD kita sudah menyiapkan bencana banjir dengan kapasitas 50 orang lebih. Untuk menampung warga yang ingin mengungsi. Namun, sampai saat ini warga lebih memilih mengungsi di rumah saudaranya yang aman. Airnya juga sudah surut,” ungkap Aji Akbar, Koordinator Pusdalops KPBD Kota Cirebon.

Sementara Kepala Bidang Sosial Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSPPPA) Kota Cirebon, Aria Dipahandi, menjelaskan untuk mengantisipasi masalah pasca bencana, pihaknya telah membangun dapur umum untuk membantu korban banjir. Dapur umum di bangun di belakang Kantor DSP3A untuk menjamin ketersediaan air bersih.

Bantuan berupa makanan pun sudah disalurkan kepada korban banjir sejak pagi kemarin. “Untuk bantuan sudah kita salurkan kepada warga di Keluarahan Kalijaga sejak pagi. Termasuk untuk siang dan sore juga kita akan menyiapkan masing-masing 250 nasi bungkus,” ungkapnya. (awr/gus)

Berita Terkait