Bahan Baku Sulit, Produksi Perajin Batu Bata Turun

LESU: Perajin batu bata tradisional mengaku kesulitan mendapat pasokan bahan baku pembuatan batu bata, lantaran harganya yang kian mahal.FOTO: NUR VIA PAHLAWANITA/RADAR CIREBON

CIREBON – Para perajin batu bata tradisional mengeluhkan sulitnya bahan baku seperti tanah liat dan jerami (dedek gabah). Padahal, musim kemarau yang masih terjadi hingga saat ini, seharusnya membuat produksi batu bata merah (batu bata tradisional) makin banyak.

“Bahan bakunya terus mahal. Lempung (tanah liat) yang biasanya 1 dum Rp300 ribu, sekarang Rp600 ribu. Begitupun dengan dedak gabah yang dijadikan media pembakarannya juga mahal. Lempung ini saya dapat dari areal pesawahan di Indramayu. Kalau lempung gunung hasil cetakan kurang bagus, nanti batanya jadi merongkol gitu enggak halus dan padat,” ungkap Umar Bakri, perajin bata di Desa Danawinangun, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, saat dijumpai Radar Cirebon, kemarin (17/11).

Menurutnya, para perajin batu bata harus membatasi produksi, lantaran minimnya bahan baku berupa tanah lempung yang khusus digunakan sebagai bahan batu bata yang kuat dan tahan banting. Selain itu, regenerasi perajin batu bata kian sulit ditemui.

“Bahan baku batu bata yang menggunakan tanah sawah yang baik, semakin sulit didapat karena tanah di wilayah ini sudah semakin menurun. Setelah puluhan tahun terus dikeruk untuk pembuatan batu bata,” tuturnya.

Selain kesulitan bahan baku tanah liat dan jerami, pihaknya juga menyebutkan pasokan air juga sulit didapat. “Bikin batu bata memang cocoknya lagi kemarau. Tapi ya itu tadi kan tetap butuh air. Tapi airnya juga sulit. Jadi ya disyukuri sajalah. Batu bata ini dihargai Rp1.000/buah kalau ambil sendiri. Kalau diantar Rp1.200/buah. Satu bata panjangnya 25cm dan lebar 12cm,” ungkap Umar.

Senada dengan itu, perajin batu bata lain, Kaerudin juga menuturkan, produksi batu bata tradisional tengah menurun lantaran bahan baku yang semakin sulit. Kelesuan ini akibat langkanya stok tanah liat setelah penutupan sejumlah tambang galian C yang selama ini beroperasi untuk memenuhi kebutuhan logistik bahan baku batu bata.

“Iya belinya susah, terus mahal. Jerami juga susah. Adanya pas lagi panen. Sudah gitu harganya mahal,” singkatnya. (via)

 

Berita Terkait