Argasunya Perlu Artesis, Kayuwalang dan Kalijaga Minta Pipanisasi

Aspirasi dari Warga Terdampak Kekeringan

Warga di RW 05 Kedung Krisik Utara Kelurahan Argasunya mendapatkan kiriman air bersih, Jumat (1/11).FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Mendung menggelayut di langit Kota Cirebon dalam tiga hari terakhir. Tapi, hujan tak jua turun. Wilayah yang terdampak kekeringan pun, masih harus mengandalkan kiriman air dari sejumlah instansi. Jelang musim hujan, sedikitnya lima RW di Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon masih kesulitan air bersih. Turunya hujan tentunya sangat diharapkan untuk meningkatkan debit air tanah di wilayah tersebut.

Lima RW yang mengalami kekeringan pada tahun ini adalah RW 03 Kedung Mendeng, RW 05 Kedung Krisik Utara, RW 08 Kopiluhur, RW 09 Cibogo dan RW 10 Kedung Jumbleng. Selain itu, di RW 11 Kampung Benda juga dilaporkan mengalami penurunan debit air tanah. Hal itu menjadikan kualitas air tanah yang didapatkan menjadi kurang bagus. Namun begitu, warga masih beruntung karena masih bisa mendapatkan pasokan air dari mata air yang dialirkan ke wilayah itu.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, warga hanya mengandalkan bantuan dropping dari berbagai pihak. baik dari pemerintah maupun dari pihak swasta dan lembaga swadaya. Rata-rata dalam sehari, warga menerima tidak kurang dari 2 mobil tangki air berukuran 4 ribu liter, atau 8000 liter air setiap harinya. Namun jumlah itu masih dirasa belum mencukupi.

Pasalnya area terdampak kekeringan semakin meluas seiring dengan panjangnya musim kemarau.“Alhamdulillah. Bantuan selalu rutin disalurkan kepada daerah daerah yang membutuhkan. Semoga kedepan, semakin banyak yang peduli,” kata Lurah Argasunya Dudung Abdul Barry.

Wilayah Argasunya memang menjadi salah satu daerah yang rawan mengalami kekeringan. Hampir setiap tahun, kekeringan melanda. Khususnya di RW 08 Kopiluhur dan RW 10 Kedung Jumbleng. Untuk mengatasi masalah kekeringan yang selalu berulang, diperlukan solusi jangka panjang.

Salah satunya adalah dengan membuat sumur artesis. Dudung mengatakan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Cirebon sebelumnya telah melakukan sosialisasi terkait revitalisasi sumur bor yang rencanaya akan dilakukan di empat RW di Kelurahan Argasunya. “Di RW 03 sudah mulai perbaikan, RW 04 sudah pengeboran. Kalau RW 06 dan RW 10 baru persiapan persiapan saja,” katanya.

Menurut Dudung, sebelumnya, sumur artesis di RW 03 Kedung Mendeng mengalami kerusakan pompa namun sudah berhasil diperbaiki. Untuk sekarang, perbaikan dilakukan untuk penambahan saluran dan pemasangan meteran untuk pengguna baru. Selain di empat lokasi tersebut, terdapat empat titik lain yang sudah dan akan mendapatkan bantuan sumur bor dari Kementerian Pekerjaan Umum Penataan Ruang (Kemen-PUPR) tersebut, antara lain, RW 08 Kopiluhur kelurahan Argasunya Kecamatan Harjamukti, serta satu lagi titik di RW 04 Sunyaragi di Kecamatan Kesambi.

Sumur artesis memang menjadi ssatu satunya solusi yang paling realisitis dan memungkinkan untuk saat ini. Topografi wilayah Argasunya yang berbukit membuat jaringan pipa air dari PDAM belum bisa menjangkau rumah rumah warga. Lain hal dengan yang dialami oleh warga RW 07 Kayuwalang Kelurahan Karyamulya dan RW 13 Taman Kalijaga Permai.

Kemarau panjang tahun ini juga menyebabkan kekeringan di kedua wilayah tersebut. Warga berharap ada sambungan atau pipanisasi dari Perumda Air Minum. Warga khawatir kedepan kekeringan akan terulang. Terlebih dengan banyaknya pembangunan pemukiman yang berakibat pada konsumsi air bersih juga akan bertambah.

Sementara itu, Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat 365/Kep.733/BPBD/2018, ditetapkan, wilayah Jawa Barat termasuk Kota Cirebon berstatus siaga bencana kekeringan yang berlaku sejak 1 Agustus hingga 31 Oktober. Namun begitu, status tersebut bisa diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan. (war)

Berita Terkait