Argasunya Memanggil, Memviralkan Wisata Eks Galian C Kopi Luhur

Lahan bekas galian c di Kampung Kopi Luhur, Kelurahan Argasunya, Kota Cirebon, jadi objek wisata. FOTO: JAVA_BOY08/JHAFFAR_JHEFF/RADAR CIREBON
Lahan bekas galian c di Kampung Kopi Luhur, Kelurahan Argasunya, Kota Cirebon, jadi objek wisata.FOTO: JAVA_BOY08/JHAFFAR_JHEFF/RADAR CIREBON

CIREBON-Wisata di lahan kritis eks galian tipe c digadang-gadang bakal digarap Pemerintah Kota Cirebon. Sebelum itu terjadi, masyarakat dengan jeli mengabadikan dari berbagai sudut. Meski di lokasi masih tedapat aktivitas galian yang dilakukan secara manual.

Masyarakat menyuarakan harapan dengan caranya. Ketika pemerintah berlama-lama dengan konsep dan beragam hal yang membuatnya nampak sulit. Tengoklah lini masa media sosial dalam beberapa hari terakhir. Beberapa foto eksotis lahan bekas galian pasir di Kampung Kopi Luhur membuat khalayak bertanya-tanya.

Salah satu yang menarik hati ialah pemandangan kolam berwarna hijau dengan dikelilingi oleh tebing yang tinggi menjulang. Bagja Edi Rohaedy, eks Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (DKOKP) mengakui, potensi wisata alam di Kelurahan Argasunya belum digarap serius. Untuk menggenjot jumlah wisatawan, seluruh potensi yang dimiliki harus dimaksimalkan. Salah satunya potensi yang dimiliki di wilayah selatan kota Cirebon.

Selain itu, masyarakat Cirebon sendiri sebenarnya juga menginginkan adanya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang layak dan bisa menjadi alternatif tempat wisata. “Di wilayah selatan itu semuanya berpotensi menjadi objek wisata. Ada Kampung Benda Kerep, bukit Cadasngampar yang punya view Gunung Ciremai dan ada lahan bekas galian c yang bisa digunakan untuk off road. Itu semua ada,” ungkapnya.

Edi yang baru dimutasi menjadi sekertaris Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menilai, wisata alam di wilayah selatan sangat menjanjikan. Masyarakat mengharapkan adanya objek wisata alam yang jaraknya tidak jauh. Akses menuju daerah tersebut juga sudah bagus. Namun, untuk mewujudkan hal itu masih cukup panjang waktu yang harus ditempuh.

Saat ini lahan dimaksud masih dimiliki oleh perorangan atau swasta. Bukan dimiliki oleh pemerintah daerah. “Kalau tanahnya sudah dimiliki oleh pemda, baru kita bisa buat DED (detail engineering design)-nya. Kita siap sebenarnya kalau diminta membuat DED. Tapi setelah status lahan itu bisa dinaikan,” katanya.

Halaman: 1 2 3

Berita Terkait