Antara Akhlak, Adab dan Keyakinan Perjuangan Sultan Saladin

Oleh: Syahbana

SULTAN-SALAHUDDIN-AL-AYYUB

Tangan kanan Shalahudin Al-ayubi atau Sultan Saladin memberikan secangkir gelar berisi air dingin ke tamu spesialnya yang tidak lain Guy de Lusignan, seorang raja fanatik ortodoks yang merupakan Raja Jerussalem saat masih dikuasai tentara Nasrani saat era perang salib (1169-1192).

Bersama panglimanya, Reynauld of Chattilon, kedua pimpinan pasukan tersebut yang diamankan setelah terlibat dalam pertempuran di Bukit Hattin atau yang lebih dikenal dengan istilah The Battle Of Hattin.

Keduanya berhasil diamankan dan dijamu oleh Sultan Saladin layaknya seorang tamu kehormatan, seusai terlibat peperangan yang berat sebelah karena strategi Sultan Saladin yang jitu dan berhasil memporakporandakan kubu lawan.

ANGIN gurun dirasakan kencang. Panas, dan membuat butiran debu tampak menerpa dan menyibakkan tirai tenda dan jubah orang yang ada dalam pertemuan itu. Sebagai seorang raja, Sultan Saladin menganggap Guy de Lusignan, yang juga raja meski berkonflik, menghormati dengan jamuan dan memberikanya minum dingin sekadar pelepas dahaga (digambarkan dalam film minum air es).

Hingga pada satu momen, Guy memberikan air minum tadi kepada Reynauld yang memang saat itu juga sedang diserang haus sangat.

Dalam tradisi Arab, tamu tetap akan diagungkan oleh tuan rumah meski tamunya adalah musuh dalam peperangan. Maka dari itu, Sultan Saladin tetap menghormati dan tidak mengancam sedikitpun kepada Guy. Tetapi alangkah murkanya saat Guy memberikan air minum kepada Reynauld.

Saladin pun bertanya, kepada Reynauld, “Atas ijin siapa anda meminum air di gelas itu?” Yang ditanya tanpa menjawab malah justru menunjukkan gestur tak bersahabat.

Hingga tak sepatah katapun keluar dari mulutnya saat pertanyaan kedua terlontar dari Saladin. Dengan angkuhnya dia balik menantang dengan gestur kesombongannya.

Dan beberapa saat kemudian, Saladin pun mencabut pedang pendek dari balik baju kebesarannya dan langsung memenggal kepala Reynauld.

Perlakuan berbeda jelas diterima Guy de Lusignan. Dirinya yang langsung diberi air minum oleh Saladin tetap menjadi tamu raja.

Penghormatan dan diskusi terus berlangsung hingga pada titik dimana Saladin menyayangkan Guy yang tidak mencontoh raja sebelumnya yakni Baldwin IV. Raja agung yang tetap menjaga hubungan baik dengan keteladanan dan sikap arif dalam perbedaan.

Demikian sebagian scene dari film Kingdom Of Heaven (2005) garapan sutradara Ridley Scot. Penggambarannya dalam film tersebut jelas memberikan sedikit pengagungan akan sifat dari Sultan Saladin dalam kecamuk Perang Salib dalam perebutan Kota Jerusalem.

Berbalik ke sejarah, Sultan Saladin yang hendak mengembalikan kejayaan Islam, dirinya bertekad untuk tetap akan menguasai Kota Jerusalem di Palestina usai menguasai Mesir.

Keyakinannya akan menguasai Kota Jerusalem karena kerajaan Mesir saja yang besar bisa ia taklukan apalagi hanya sebatas kota seperti Jerusalem, walaupun saat itu disokong oleh kekuatan sekutu kerajaan Inggris dan beberapa kerjaan di Eropa lainnya.

Sultan Saladin sendiri bukan berasal dari Arab. Nama sebelumnya Yusuf bin Najmuddin, Suku Kurdi di Damaskus (sekarang Suriah).

Setelah Namun siapa sangka, sosok yang dikira lemah dan terlalu lembek ini malah menjelma jadi sosok yang kuat dan efektif dalam kampanye jihadnya merebut Yerusalem. Dan dirinya pun sebelum menjadi raja adalah sosok panglima perang paling dihormati—sekaligus ditakuti—pasukan musuh.

Sebagai seorang raja yang mantan panglima perang, segala tindak tanduk dalam mewujudkan kejayaan Islam pun terus digaungkan. Seperti narasi film diatas tadi, ini memberikan sinyal penghormatan dari para industri film akan sosok Sultan Saladin semasa perang Salib.

Digambarkan bagaimana dalam strategi perang baik itu dalam pertempuran dan negosiasi kemudian adab dan akhlak baik kepada kawan maupun kepada musuh sekalipun.

Ketegasan dan keberanian menjadi hal yang paling fenomenal dari sosok Saladin, namun adab sebagai seorang muslim tidak ditinggalkan.

Bagaimana dirinya setelah nyaris menguasai Kota Jerusalem, usai perang Hattin (4 Juli 1187), mencoba meyakinkan negosiator Kota Jerusalem agar menyerah dan memberikan kesempatan kepada warga kota baik itu laki-laki maupun perempuan untuk diberi jalan aman meninggalkan kota.

Dan proses penaklukan Kota Jerusalem pun tanpa pembantaian, meski secara akidah dan perlakuan dari kubu lawan sebelumnya berbeda.

Ini lah perjuangan seorang pejuang muslim sebenarnya saat akhir Ramadan tepatnya 27-28, Kota Jerusalem yang merupakan kota simbol terpenting saat itu berhasil ditaklukan dengan adab dan keyakinan perjuangan untuk menjayakan kembali Syiar Islam pada masa itu. (*)

Berita Terkait