Ancam Balik Manuver AS, Iran Segera Laporkan Rencana Busuk Trump ke Sidang PBB

iran-1
WARNING: Presiden Hassan Rouhani memberikan warning kepada Amerika Serikat untuk menghentikan intimidasi keamanan terhadap negara-negara Arab. Karena kehadiran AS selalu membawa kesengsaraan bagi rakyat. Foto: AP

TEHERAN – Presiden Hassan Rouhani mengecam kehadiran pasukan asing di kawasan Teluk Persia, yang terus mengintimidasi keamanan negara-negara Arab. Amerika Serikat dituding menjadi dalang dari skenario ini. Tujuannya, ingin menguasai aset berharga, minyak.

“Pasukan asing dapat menyebabkan masalah dan rasa tidak aman bagi rakyat kita dan bagi wilayah kita. Dan kami tahu tujuannya apa,” kata Rouhani dalam pidatonya di parade militer tahunan, kemarin (22/9).

Rouhani juga mengatakan, Iran akan menyampaikan hal ini pada PBB dalam beberapa hari mendatang. “Dalam momen bersejarah yang sensitif dan penting ini, kami mengumumkan kepada tetangga-tetangga untuk menjaga kewaspadaan,” terangnya.

Ketegangan antara Iran dan AS serta sekutunya terjadi sejak Mei tahun lalu, ketika Presiden Donald Trump secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 dan kemudian mulai menerapkan kembali sanksi dalam kampanye “tekanan maksimum”.

“Kehadiran Anda (AS, red) selalu membawa kesengsaraan bagi rakyat. Semakin jauh Anda menjauhkan diri dari wilayah kami, maka keadaan lebih baik,” tandas Rouhani.

Iran, sambung dia, telah mengabaikan kesalahan AS di masa lalu. Namun ia berharap peristiwa serupa tidak terjadi lagi. “Musuh-musuh Islam adalah Amerika dan Zionisme, yang ingin menyalahgunakan keretakan di antara kami (Bangsa Arab, red) ” kata Rouhani.

Setelah pidatonya, angkatan bersenjata mengarak peralatan terbaru mereka, termasuk tank, rudal dan kendaraan lapis baja ketika Rouhani dan komandan militer top memberi hormat kepada mereka.

Parade militer tahunan menandai dimulainya minggu ini untuk memperingati perang Iran tahun 1980-1988 dengan Irak yang dikenal sebagai “pertahanan suci”.

Rouhani diperkirakan akan melakukan perjalanan ke New York hari ini (23/9), sehari sebelum debat umum dimulai di Majelis Umum PBB. Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif, telah tiba di New York.

Ketegangan makin meningkat setelah serangan 14 September yang menghancurkan instalasi minyak yang mengakibatkan harga minyak global melonjak.

Parahnya, Washington kemudian memperluas daftar panjang sanksi terhadap Teheran dengan lebih lanjut menargetkan bank sentralnya vakum.

Terpisah, Menteri Pertahanan Mark Esper mengatakan, AS telah mengirim bala bantuan ke Arab Saudi atas permintaan kerajaan. Pasukan yang diturunkan akan bertindak defensif dan fokus pada pertahanan udara dan rudal.

Ketegangan berkobar di Teluk sejak Mei, ketika Iran mulai mengurangi komitmennya terhadap perjanjian nuklir dan AS mengatakan pihaknya mengirim pasukan ke perairan dekat republik Islam itu dalam menanggapi “indikasi ancaman yang dapat dipercaya” dari pasukannya.

AS mengerahkan kelompok kapal induk dan satuan tugas pembom ke saluran air yang sensitif, sebelum mengirim pembom B-52. Kapal serbu amfibi dan baterai rudal Patriot. Setelah penyebaran, kapal-kapal komersial diserang secara misterius, drone jatuh dan tanker minyak disita di perairan Teluk.

Ini sejalan dengan langkah Trump pada Juni mengizinkan serangan militer setelah Iran menembak jatuh pesawat tak berawak AS, hanya untuk membatalkan pembalasan pada saat terakhir. Krisis regional semakin dalam dengan serangan 14 September terhadap pabrik pengolahan raksasa Arab Saudi, Abqaiq, dan ladang minyak Khurais di Aramco, yang mengurangi separuh produksi minyak kerajaan.

Pemberontak Huthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab, tetapi AS mengatakan mereka telah menyimpulkan bahwa serangan itu melibatkan rudal jelajah dari Iran dan dianggap sebagai tindakan perang. (ful/fin)

Berita Terkait