Ada Mudik Gratis, kenapa Doni Memilih Jalan Kaki?

Abdi Dalem Keraton Solo, Tiga Rekannya Menyerah

Murid Perguruan Kasepuhan Jati Diri, Doni (48) saat melintas di Jl By Pas Kota Cirebon, Minggu (2/6). FOTO:KHOIRUL ANWARUDIN/RADAR CIREBON
Murid Perguruan Kasepuhan Jati Diri, Doni (48) saat melintas di Jl By Pas Kota Cirebon, Minggu (2/6).FOTO:KHOIRUL ANWARUDIN/RADAR CIREBON

CIREBON-Umat Muslim di seluruh dunia akan segera menyambut Hari Raya Idul Fitri 2019. Menjelang Hari raya lebaran yang dinanti nanti ini, banyak sekali tradisi yang dilakukan oleh masyarakat. Salah satunya adalah mudik. Untuk sampai ke kampung halaman juga rupa-rupa caranya.

Mudik atau pulang kampung merupakan tradisi yang sudah melekat dengan Hari Raya Idul Fitri. Beragam cara ditempuh, mulai dari mengikuti program mudik gratis, menabung emi bisa membeli tiket pesawat yang harganya mahal, atau dengan menggunakan sepeda motor.

Namun, Doni (48) melakukannya dengan cara yang lain. Dari Bogor menuju Solo, pria yang selalu memakai kain lurik ini melakukanya hanya dengan berjalan kaki. Jarak kurang lebih 595 kilometer itu diarungi mulai Jumat (24/5).

Ditemui saat melintas di Jalan By Pass Dharsono Kota Cirebon, Doni bercerita kalau selama mudik dengan berjalan kaki, banyak sekali orang baik yang memberikanya makanan dan juga minuman.  “Saya tidak pernah minta. Tapi banyak yang ngasih. Alhamdulillah,” kata pria yang tidak pernah lepas dari tongkat dan juga bendera merah putih tersebut.

Doni mengaku aksi jalan kaki tersebut merupakan inisiatifnya sendiri. Dia pergi ke Bogor bukan dalam rangka bekerja, melainkan menghadiri acara silaturahmi Perguruan Kasepuhan Jati Diri. Aksi tersebut juga dilakukan dalam rangka kenaikan kelas.

Sehari-harinya, Doni adalah abdi dalem di Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam perjalanan ke Bogor, dirinya datang bersama tiga orang lainya. Sama seperti Doni, tiga temannya juga berjalan kaki. Dari Solo mereka mulai berjalan kaki pada tanggal 26 April dan sampai di Bogor pada tanggal 22 Mei 2019.

Selama dua hari ia berada di kota hujan sebelum akhirnya kembali ke Solo. Namun dalam perjalanan kembali ke Solo, ketiga temanya menyerah dan hanya tinggal Doni seorang. “Awalnya datang berempat orang ya. Ini yang jalan cuma saya. Yang tiga sudah dijemput sama mobil,” ujarnya.

Berjalan dari Bogor ke Solo, tidak hanya dimaknai sebagai mudik atau pulang ke kampung halaman. Bagi pria yang sering dipanggil Ngabehi itu memaknainya sebagai upaya pencarian jati diri. Setiap peristiwa yang ditemuinya selama di perjalanan merupakan pengalaman berharga. Meski tentunya, cukup bahaya karena berhadapan dengan ribuan kendaraan para pemudik. (war)

Berita Terkait