JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan melaksanakan Olimpiade Sains Nasional (OSN) XII 2013 pada 2-8 September di Bandung. Ajang ini diikuti 814 siswa SMA, pemenangnya akan masuk dalam program pelatnas (pelatihan nasional) menghadapi rangkaian olimpiade internasional 2014 nanti.

Direktur Pembinaan SMA Kemendikbud Harris Iskandar menuturkan, OSN tahun ini juga diikuti pelajar berprestasi mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA dan SMK. Selain itu juga ada dari pendidikan khusus (SMA/SMK) dan para guru. “Jadi total pesertanya adalah sekitar 3.600 orang. Khusus untuk jenjang SD dan SMP sudah dilaksanakan lebih dulu,” tandasnya kemarin.

Harris mengatakan untuk semua jenjang pendidikan, lomba OSN ini sama-sama bergengsinya. “Tetapi untuk SMA dan SMK, pemenangnya akan langsung kita garap untuk masuk di pelatnas, dan disiapkan menjadi kontingen olimpiade sains internasional,” kata mantan Sekretaris Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud itu.

Menurut Harris saat ini Indonesia sudah memiliki relasi dengan sepuluh jenis olimpiade internasional yang sudah mendapatkan pengakuan dari seluruh ilmuan dunia. Kesepuluh jenis olimpiade itu mewakili bidang-bidang keilmuan. Seperti International Mathematical Olympiad (IMO), International Physics Olympiad (IPhO), International Chemistry Olympiad (IChO), dan International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA).

Kemudian ada International Biology Olympiad (IBO), International Earth Science Olympiad (IESO), International Olympiad in Informatics (IOI), International Geography Olympiad (iGeo), International Astronomy Olympiad (IAO), dan World Skills Competitions (WSC/khusus siswa SMK).

Harris mengatakan untuk seluruh ajang itu, Indonesia sudah memiliki nama. “Medali emas untuk IMO baru pecah pertama kali tahun ini,” katanya. Dia mengatakan saat ini pelajar-pelajar berprestasi Indonesia tidak hanya dari perkotaan atau ibukota provinsi. Tetapi juga sudah mulai menjalar di kota-kota pedalaman. Ini menunjukkan kualitas pendidikan sudah mulai menyebar.

Untuk teknis pelatnas sendiri, Harris mengatakan masih dalam pembahasan lebih matang. Selama ini sistem yang dipakai adalah, masing-masing cabang keilmuan diberi wewenang penuh untuk menyusun konsep pelatnas. Misalnya ada yang baru dimulai ketika dua bulan menjelang olimpiade internasional, dan sejenisnya.

Pada prinsipnya Harris mengatakan pelatnas persiapan olimpiade internasional ini berbeda dengan pelatnas olahraga yang harus dikarantina dalam jangka waktu lama. “Para siswa peserta pelatnas tetap sekolah di sekolah asalnya, itu idealnya. Jadi menjelang olimpiade, tinggal kita tarik saja,” katanya.

Harris menegaskan bahwa motivasi utama pengiriman kontingen dalam olimpiade sains internasional bukan semata untuk merebut medali emas. Tetapi lebih penting adalah, menumbuhkan semangat keilmuan siswa. Selain itu juga mengerek posisi Indonesia di kancah internasional.

Dia mengaku sempat merasakan imbas dari seringnya Indonesia mendapatkan medali emas di olimpiade sains internasional. “Ketika sedang berada di Amerika misalnya, saya itu dikira jago sains. Karena banyak siswa Indonesia juara olimpiade sains,” ujarnya. (wan)

Berita Terkait