Begini Bacaan Niat Salat Idul Fitri Jamaah Maupun Sendirian, Hukum dan Tata Caranya

oleh -584 views

HASIL Sidang Isbat Kementerian Agama menetapkan Hari Raya Idul Fitri 2020 jatuh pada Minggu (24/5). Sebagian besar umat Islam di Indonesia akan merayakan Idul Fitri setelah sebulan penuh menunaikan ibadah Ramadan.

Namun Idul Fitri tahun ini berbeda karena pandemi corona (Covid-19). Terkait salat Idul Fitri 2020, pemerintah menganjurkan untuk melaksanakannya di rumah.

Lalu apa hukumnya salat Id? Diansir dari nuonline, hukum salat id adalah sunnah muakkadah. Artinya, sunnah yang dianjurkan.

Sejak disyariatkan pada tahun kedua hijriah, Rasulullah tidak meninggalkan Salad Id hingga wafat. Kemudian ritual serupa dilanjutkan para sahabat Rasulullah.

Baca juga:

PSSB Jabar Tunjukkan Hasil Positif, Pemdaprov Rekomendasikan Salat Idul Fitri di Rumah

Salat Idul Fitri di Rumah Minimal Empat Orang

Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri, Tarawih di Rumah dan Salat Id Ditiadakan

Secara global syarat dan rukun salat Id tidak berbeda dari salat fardu lima waktu, termasuk soal hal-hal yang membatalkan. Tapi, ada beberapa aktivitas teknis yang sedikit berbeda dari salat pada umumnya. Aktivitas teknis tersebut berstatus sunnah.

Waktu salat Id dimulai sejak matahari terbit hingga masuk waktu Duhur. Berbeda dari salat Idul Adha yang dianjurkan mengawalkan waktu demi memberi kesempatan yang luas kepada masyarakat yang hendak berkurban, salat Idul Fitri disunnahkan memperlambatnya. Hal demikian untuk memberi kesempatan mereka yang belum berzakat fitrah.

Salat id dilaksanakan dua rakaat secara berjamaah dan terdapat khutbah setelahnya. Namun, bila terlambat datang atau terjadi halangan seperti saat ini karena pandemi Covid-19, boleh dilakukan secara sendiri-sendiri (munfarid) di rumah ketimbang tidak sama sekali.

Berikut tata cara salat id secara tertib. Penjelasan ini bisa dijumpai antara lain di kitab Fashalatan karya Syekh KHR Asnawi, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama asal Kudus; atau al-Fiqh al-Manhajî ‘ala Madzhabil Imâm asy-Syâfi‘î (juz I) karya Musthafa al-Khin, Musthafa al-Bugha, dan ‘Ali asy-Asyarbaji.

Pertama, terkait bacaan niat salat Id;

  1. Salat Idul Fitri berjamah

أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًاإِمَامًا) لِلهِ تَعَــــالَى

“Ushallî rak‘ataini sunnatan li ‘îdil fithri (mâman/ma’mûman) lillahi ta’ala”

Artinya: Aku berniat salat sunnah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala.”

  1. Niat Salat Idul Fitri sendirian

أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَــــالَى

“Ushallî rak‘ataini sunnatan li ‘îdil fithri lillahi ta’ala”

Artinya: Aku berniat salat sunnah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala.”

Hukum pelafalan niat ini sunnah. Yang wajib adalah ada maksud secara sadar dan sengaja dalam batin bahwa seseorang akan menunaikan shalat sunnah Idul Fitri.

Salat Id dimulai tanpa azan dan iqamah (karena tidak disunnahkan), melainkan cukup dengan menyeru “ash-shalâtu jâmi‘ah”.

Kedua, takbiratul ihram sebagaimana salat biasa. Setelah membaca doa iftitah, disunnahkan takbir lagi hingga tujuh kali untuk rakaat pertama.

Di sela-sela tiap takbir itu dianjurkan membaca:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Artinya: Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang.

Atau boleh juga membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Artinya: Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar.

Ketiga, membaca Surat al-Fatihah. Setelah melaksanakan rukun ini, dianjurkan membaca Surat al-A’lâ. Berlanjut ke ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti shalat biasa.

Keempat, dalam posisi berdiri kembali pada rakaat kedua, takbir lagi sebanyak lima kali seraya mengangkat tangan dan melafalkan “allâhu akbar” seperti sebelumnya. Di antara takbir-takbir itu, lafalkan kembali bacaan sebagaimana dijelaskan pada poin kedua.

Kemudian baca Surat al-Fatihah, lalu Surat al-Ghâsyiyah. Berlanjut ke rukuk, sujud, dan seterusnya hingga salam.

Sekali lagi, hukum takbir tambahan (lima kali pada pada rakaat kedua atau tujuh kali pada rakaat pertama) ini sunnah. Sehingga apabila terjadi kelupaan mengerjakannya, tidak sampai menggugurkan keabsahan shalat id.

Kelima, setelah salam, jamaah tak disarankan buru-buru pulang, melainkan mendengarkan khutbah Idul Fitri terlebih dahulu hingga rampung. Kecuali bila salat Id ditunaikan tidak secara berjamaah.

Hadis Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah mengungkapkan:

السنة أن يخطب الإمام في العيدين خطبتين يفصل بينهما بجلوس

Artinya: Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk. (HR Asy-Syafi’i)

Pada khutbah pertama khatib disunnahkan memulainya dengan takbir hingga sembilan kali. Sedangkan pada khutbah kedua membukanya dengan takbir tujuh kali. Wallâhu a’lam. (hsn/nuonline)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *