BI Cirebon Tahan Uang 14 Hari , Meminimalisasi Peredaran Uang dari Penyebaran Virus Corona

oleh -258 views
bank indonesia
BERI PENJELASAN: Kepala Bank Indonesia Wilayah Cirebon, Bakti Artanta Didampingi Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Cirebon, Sudono, memberikan keterangan pers terkait perkembangan terkini perekonoman di wilayah Cirebon. FOTO: NUR VIA PAHLAWANITA/RADAR CIREBON

CIREBON – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw/BI) Cirebon menerapkan sistem penyimpanan uang masuk dari perbankan dan Penyelenggara Jasa Pengelola Uang Rupiah (RUPR). Sistem penahanan dengan mengarantina uang masuk selama 14 hari ini, selain agar terhindar dari penyebaran virus Corona, juga saat uang sampai ke tangan masyarakat dalam kondisi fresh kembali.

Kepala KPw BI Cirebon, Bakti Artanta menuturkan, sistem penyimpanan uang masuk dari perbankan ini merupakan bagian kebijakan yang sudah lama dilakukan Bank Indonesia.

“Istilahnya bukan karantina. Tapi ini dilakukan guna meminimalisir peredaran uang dari penyebaran virus Corona,” kata Bakti Artata kepada awak media, kemarin.

Menurutnya, berdasarkan kebijakan, untuk setiap uang yang masuk dari perbankan akan diendapkan atau disimpan terlebih dahulu selama 14 hari ke dapan. “Ini kita lakukan agar  uang masuk lebih konservatif. Karenanya, sebelum dikembalikan ke perbankan (drop shot) dan masyarakat, di sini perlu adanya proses pengolahan khusus terlebih dahulu, guna meminimalisir penyebaran virus,” ujarnya.

Selain melakukan penahanan uang masuk, mencermati imbas penyebaran virus Corona yang dikhawatirkan memberikan dampak kemunduran beberapa sektor ekonomi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon juga akan melakukan langkah konkrit untuk menjaga stabilitas perekonomian di daerah.

Ia juga mengungkapkan, untuk mengetahui dampak virus Corona terhadap keberlangsungan perekonomian daerah dan dunia usaha di wilayah Cirebon, diperlukan survei dan masukan dari kalangan dunia usaha. Karenanya, BI Cirebon akan segera melakukan survei dunia usaha (SDU) dan survei liaison dengan mendatangi langsung perusahaan-perusahaan eksportir dan unit usaha biasa.

“Sekalipun ada dari sebagian yang terdampak seperti eksportir buah-buahan, bahan makanan. Akan tetapi pada sektor lainnya itu akan terus kita lakukan survei, imbasnya seperti apa,” tutur Bakti.

Bank Indonesia, lanjutnya, dalam mencermati dampak penyebaran Convid-19 terhadap perekonomian wilayah Cirebon, akan terus melakukan langkah-langkah konkrit. Salah satunya dengan terus meningkatkan sinergitas dengan pemerintah daerah serta lembaga otoritas setempat.

“Selain itu, dalam menjaga stabilitas moneter serta pelayanan sistem pembayaran, BI juga akan tetap memperhatikan dan mempertimbangkan perkembangan penyebaran Convid-19 ini dengan mengumumkan, apabila terjadi penyesuaian dalam kegiatan dan jadwal operasional serta layanan publik,” tandasnya.

Selain itu, dalam rangka menjaga dan menjalankan keberlangsungan tugas dan layanan public, mengedepankan keamanan dan keselamatan masyarakat, BI terus melakukan koordinasi dan sinergi dengan oemerintah dan otoritas terkait, dalam menempuh langkah-langkah kolektif untuk melakukan pemantauan, assessment, pencegahan dan mitigasi implikasi penyebaran Convid-19.

Sementara itu, pengamat ekonomi Cirebon, Moh Yudi Mahadianto SE MM mengatakan, dampak covid 19 membuat seluruh aspek perekomonian hampir lumpuh, terutama bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah. Oleh karena itu, pihaknya berharap wabah tersebut segera berlalu dan berakhir.

Yudi juga berharap masyarakat patuh terhadap ketentuan pemerintah. “Dampaknya sangat besar. Merebaknya virus Corona atau Covid-19 membuat nilai tukar rupiah terus tertekan sejak beberapa pekan terakhir. Masyarakat juga diharapkan patuh terhadap ketentuan pemerintah agar tinggal di rumah. Ini demi kebaikan bersama,” katanya. (via)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *