100 Pasien DBD Meninggal

oleh -235 views
INFOGRAFIS DBD NASIONAL

JAKARTA- Pemerintah terlalu fokus pada penanganan virus corona (Covid-19). Sementara kasus demam berdarah dengue (DBD) yang lebih berbahaya seakan terabaikan. Sejak awal Januari 2020 hingga 8 Maret sudah 100 pasien DBD meninggal. Terbanyak di NTT dengan 23 orang meninggal, lalu Jawa Barat di urutan kedua dengan 15 pasien tak tertolong.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan kasus demam berdarah di Indonesia, khususnya wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mencapai 2.711 orang dan telah merengut 32 jiwa.“Ini sangat serius,” kata Menkes Terawan di Kemenkes, Jakarta, Senin (9/3).

Dikatakannya, selain wabah virus corona yang menyita perhatian banyak pihak, kasus DBD justru semakin merenggut banyak korban dan harus menjadi fokus penanganan.“Kalau ini tidak diatasi dengan baik, akan membuat hal yang tidak nyaman. Kita terlalu sibuk dengan corona. Inilah yang justru mematikan, bayangkan dalam berapa hitungan bulan dan hari,” tegas Menkes Terawan.

Dari 2.711 kasus di NTT, 32 orang di antaranya meninggal, dengan kasus kematian terbanyak tercatat di Kabupaten Sikka 14 kasus.Menkes Terawanmengatakan masih belum mengetahui secara pasti faktor lingkungan seperti apa yang meningkatkan jumlah kasus di Kabupaten Sikka.

Terpisah, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan jumlah kasus DBD secara nasional sudah mencapai 16.099 orang dengan kematian 100 orang di 29 provinsi.

“Jumlah kasus terbanyak terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 2.711 kasus dengan kematian 32 orang. Kasus terbanyak dilaporkan dari Kabupaten Sikka sebanyak 1.195 orang dengan kematian 14 orang. Jumlah ini akumulatif dari 1 Januari hingga 8 Maret 2020,” terangnya.

Dibeberkannya, selain NTT, daerah yang berada pada zona merah yaitu Jawa Barat dengan jumlah pasien meninggal 15 orang, dan Jawa Timur 11 orang.Untuk zona kuning di antaranya tujuh kasus kematian akibat DBD di Lampung, empat di Jawa Tengah, tiga di Bengkulu dan tiga di Sulawesi Tenggara.

Kemudian masing-masing dua kasus kematian di Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah.Selain itu, masing-masing satu kasus kematian di Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Barat.

Meski demikian, Siti Nadia mengatakan total kasus tersebut mengalami penurunan dibandingkan 2019 di mana terdapat 436 kematian akibat DBD dari keseluruhan 51.400 kasus pada rentang waktu yang sama.“Kalau sepanjang 2019 Kemenkes mencatat terdapat sebanyak 137.761 kasus DBD dengan angka kematian mencapai 917 orang,” ungkapnya.

Dikataka, saat ini yang dilakukan pemerintah adalah terus mendorong peningkatan kegiatan pencegahan dengan cara memberantas sarang nyamuk baik di rumah, sekolah, tempat ibadah, dan tempat umum lainnya. Selain itu, pemerintah juga memastikan logistik tes DBD, termasuk abate, insektisida, dan larvasida mencukupi dan tersedia di daerah tersebut.

“Rumah sakit juga disiagakan untuk mengantisipasi peningkatan kasus DBD dan memastikan cairan serta alat kesehatan infus tersedia cukup di rumah sakit daerah,” katanya.

Data untuk Jawa Barat, disampaikan juga Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Berli Hamdani Gelung Sakti. Ia mengatakan sejak Januari hingga awal Maret 2020, sudah 15 warga Jawa Barat meninggal akibat DBD. Angka korban jiwa akibat DBD pada periode yang sama di tahun 2019 mencapai 49 orang. “Januari 2019 terdapat 26 orang dan Februari 2019 sebanyak 23 orang. Kalau 2020, ada 15 orang meninggal periode Januari-awal Maret 2020,” kata Berli, dikuti melalui laman jpnn.com, Senin (9/3).

Ia mengatakan, apabila dilihat dari jumlah kasus, korban jiwa akibat penyakit DBD saat ini jauh lebih sedikit dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun sesuai definisi operasional KLB (kejadian luar biasa), maka kasus DBD di tahun 2020 ini juga masuk kategori KLB, karena sudah ada yang meninggal dunia. “Biar pun misalkan yang meninggal hanya satu orang, apalagi ini sudah 15 orang,” kata dia. (gw/fin/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *