Terkendala dalam Perawatan Sanimas

oleh -27 views
Kondisi bangunan sanimas di RW 10 Kelurahan Panjunan, Kota Cirebon. Dari 15 titik proyek instalasi limbah, beberapa berakhir mangkrak. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Kondisi bangunan sanimas di RW 10 Kelurahan Panjunan, Kota Cirebon. Dari 15 titik proyek instalasi limbah, beberapa berakhir mangkrak. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Keberadaan sanitasi masyarakat (sanimas) yang memadai di perkotaan sangat penting peranannya. Terutama dalam menciptakan lingkungan yang sehat.

Kota Cirebon sebagai salah satu penerima bantuaan ini, mendapatkan anggaran miliaran rupiah untuk pengadaan instalasi limbah rumah tangga. Sebanyak 6 kelurahan penerima bantuan melalui Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) membangun instalasi dan bak penampungan.

Sekretaris RW 10 Kelurahan Panjunan, Heri Pramono mengatakan, di wilayahnya ada tiga unit sanitasi umum. Yakni di dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) RT 08, disebelah Bapermas dan disebelah Puskesmas RT 10. Dari ketiga sanitasi itu, sepengetahuannya didanai bantuan provinsi melalui BKM senilai masing-masing Rp425 juta. Namun dia tidak mengetahui jelas terkait pembangunannya dan permasalahan lainnya.

Untuk yang dua lainnya, berupa MCK umum yang bukan berasal dari bantuan sanitasi. Warga sekitar masih memanfaatkannya sampai sekarang. Baik untuk buang air besar, mencuci maupun sekedar untuk mandi. “Kita dari pihak RW tidak diajak komunikasi pembuatan sanimas. Jadi berfungsi atau tidak kami tidak tahu,” katanya kepada Radar Cirebon.

Ia pun menyayangkan minimnya komunikasi. Padahal bila ada pembicaraan dengan RW, setidaknya bisa dipikirkan solusi perawatan dan pemanfaatannya agar lebih optimal. “Jadi bangunan sanitasi itu urusannya BKM bukan RW,” tegasnya.

Sepengetahuan dirinya, bangunan itu berupa septic tank besar untuk menampung buangan dari MCK warga sekitar. Ada kurang lebih 5 ruang di dalam septic tank. Keberadaan sanimas ini di beberapa lokasi juga dikeluhkan. Misalnya di RT 04 RW 07 Kayuwalang, Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi. Fasilitas penampungan limbah kolektif rumah tangga tersebut, menimbulkan bau tidak sedap. Ini dirasakan hampir setiap hari.

Ny Beni, warga yang rumahnya hanya beberapa meter saja dari Sanimas mengaku tidak tahan dengan polusi udara tersebut. “Kalau sekarang agak mendingan. Kalau pagi sama sore. Itu menyengat sekali,” ungkapnya.

Selain menimbulkan bau yang tidak sedap, saat hujan turun air dari sanimas justru meluber ke kamar mandi. Kondisi tersebut membuatnya khawatir terserang penyakit. “Saya copot saja paralonnya. Saluran buangnya nggak ke situ lagi,” katanya.

Kondisi serupa juga dialami Wistianih. Keberadaan bak penampungan limbah itu, justru menimbulkan dampak buruk bagi dirinya dan keluarga. Sanimas yang seharusnya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, malah mencemari lingkungan.

Beberapa kali sanimas meluap. Terutama saat turun hujan. Arus balik dari saluran tersebut masuk ke MCK kediamannya. “Saya juga sudah dicopot paralonnya. Habis gimana, masa meluap terus,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Cirebon, pembangunan sanimas itu diperuntukan bagi 80 kepala keluarga pengguna di RT 04 RW 07 Kayuwalang. Bak penampungan seluas 4 X 11 meter itu dibangun sejak bulan Oktober 2018 dan baru digunakan Desember yang lalu. Saat ini, sudah ada sekitar 50 warga yang memanfaatkan sanimas. Selain itu, di atasnya juga dibangun Baperkam.

Koordinator BKM Mulya Lestari, Fredy Amingada selaku pelaksana pembangunan sanimas di Kayuwalang. Dirinya mengaku sudah menyosialisasikan kepada warga sekitar terkait dengan bau yang ditimbulkan.

Aroma tidak sedap tersebut disebabkan karena bakteri yang belum bekerja mengurai limbah organik. Diperlukan waktu sekitar 6 bulan bakteri itu berkembang biak dan perlahan bau yang ditimbulkan pun akan hilang. “Kita sudah sosialisasi ke warga. Mungkin ada yang masih kurang paham atau pemeliharaan grease trap-nya masih kurang maksimal,” ungkapnya. (gus)