Wednesday, Mar 10th

Last update:06:04:58 PM GMT

You are here: Nasional

Nasional

Amien Sarankan SBY ”Lepaskan” Boediono

E-mail Cetak PDF

MAJALENGKA – Mantan ketua MPR-RI periode 1999-2004 Prof Dr H Amien Rais, mengimbau kepada Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono agar berani mengambil tindakan untuk “melepaskan” Wapres Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani jika dalam proses hukum nanti kedua pejabat negara tersebut dinyatakan bersalah. Hal tersebut diungkapkan Amien Rais saat melakukan kunjungan ke Majalengka, kemarin (9/3).

“Jika presiden tetap mempertahankan kedunya maka gejolak unjuk rasa dari kalangan mahasiswa dan masyarakat serta kisruh politik di kalangan legislatif akan terus membara, sehingga program kerja yang akan dilakukan presiden kedepan akan terhambat karena sibuk menepis serangan-serangan tersebut,” ungkap guru besar UGM ini.
Amien mangaku, dalam paripurna DPR lalu publik telah mengetahui dengan jelas bahwa proses bailote bank Century dinyatakan cacat dalam pelaksanaanya. Menurutnya, secara sosiologis, 86 persen opini publik yang berkembang saat ini menginginkan agar kedua pejabat negara yang dinyatakan bersalah oleh DPR tersebut diganti.
Amien juga menyadari jika keputusan Presiden untuk mencopot kedua pejabat negara tersebut adalah sebuah pilihan yang berat, namun Amien yakin jika hal ini dilakukan maka opini publik yang juga menyudutkan Presiden akan sedikit mengendur sehingga bangsa ini akan kembali melakukan pembenahan secara optimal tanpa harus mengingkit-ungkit lagi permasalah kasus Century tersebut.
Amien mengatakan, di negara yang memiliki sistem demokrasi yang lebih matang seperti Amerika Serikat, Kanada, Jepang dan negara-negara Eropa, setiap pemimpin maupun pejabat negara yang sudah tidak dipercaya lagi oleh masyarakatnya dengan dibebankan tudingan-tudingan atas kesalahan yang dilakukan oleh pejabat tersebut maka sang pemimpin maupun pejabat tersebut akan dengan lapang dada mundur, meski tudingan dari masyarakat belum terbukti secara hukum.
Sementara itu, ketika disinggung mengenai sikap Fraksi PAN DPR-RI yang menaruh dukungannya kepada pembenaran bailout Bank Century. Amien mengaku jika pendapat PAN tetap konsekuen dengan membenarkan adanya bailout, hanya saja PAN juga membenarkan jika bailout yang dilakukan terhadap Bank Century terdapat penyimpangan dan penyalahgunaan kebijakan didalamnya. “Namun, pada saat dilakukannya voting yang berujung pada pemilihan opsi C oleh FPAN, itu semua tidak terlepas dari posisi ketua umum PAN sebagai orang terdekat presiden,” tambahnya.
Ia juga mengakui jika kebijakan yang diambil oleh FPAN pada waktu itu membuat PAN tersandung akibat kekeliruan yang dibuat. Namun, ia berharap PAN akan segera bangkit dan memperbaiki citra di masyarakat dengan melakukan kebijakan-kebijakn partai yang lebih berpihak pada masyarakat.
PAN ATAU MUHAMMADIYAH?
Sementara itu, teka-teki rencana Prof Dr Amien Rais MA yang akan kembali masuk dalam bursa pencalonan ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pada Muktamar ke 46 di Jogjakarta, April 2010 nanti belum terjawab secara pasti.
Dirinya mengatakan, apapun keputusan dirinya kedepan akan dikembalikan kepada orang-orang terdekat, yakni sara dari istri dan anak-anaknya.
“Saya tidak bisa menjawab apakah saya maju kembali menjadi ketua umum PAN atau ketua Umum Muhammadiyah, yang saat ini saya sibuk adalah bagaimana mempersiapan kader Muhammadiyah agar tidak lupa dengan PAN,” ungkapnya, kemarin (9/3).
Amien Rais mengatakan di hadapan media, dirinya pernah diminta kembali untuk memperkuat tim 13 dij ajaran PP Muhammadiyah yang akan datang. Namun, rumor ini bukan harga mutlak dirinya duduk kembali dan memilih PP Muhammadiyah. “Saya akan memutuskan pertengahan April mendantang,” kilahnya.
Ketika kembali didesak Radar, apakah milih PAN atau Muhammadiyah, Amien enggan untuk memutuskan sebelum pertengahan April.”Saya tidak mau berencana, semua PAN atau Muhammadiyah tergantung istri dan anak-anak saya,” tegasnya.
Amien mengaku Muhammadiyah memiliki konsep paten, tidak boleh merangkap anggota PAN dan menjadi pengurus Muhammadiyah. (azs/ung)

Membengkak Karena Kebutuhan Mendesak

E-mail Cetak PDF

CIREBON – Dua saksi dari eksekutif kemarin diperdengarkan keterangannya di sidang APBD Gate 2004. Adalah Eka Sambujo yang pada 2004, sebagai Kasubag Anggaran dan Dikman Mahmud, menjadi Kasubbag Perbendahraan. Pada persidangan kedua, Eka mengatakan terjadinya pembengkakan anggaran karena kebutuhan mendesak. ”Penyesuaian anggaran terjadi karena adanya kebutuhan mendesak. Waktu itu ada SE Mendagri sehingga perlu segera disesuaikan,” ujarnya, Selasa (9/3).

SE Mendagri dimaksud, adalah SE Mendagri Nomor 161/3211/ SJ Tanggal 29 Desember 2003 Perihal Pedoman Tentang Kedudukan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD. Sehingga sebagai sebuah kebijakan pemerintah pusat yang perlu segera diimplementasikan. Tanpa mengubah akhir total dari penggunaan anggaran DPRD yang digunakan dalam setahun.
Menurut Eka, jika awalnya anggaran DPRD sekitar Rp8,7 miliar, terdiri dari alokasi DPRD Rp6,4 miliar, kemudian sekretariat dewan Rp2,3 miliar. Berubah menjadi Rp8,8 miliar, terbagi sekitar Rp1 miliar untuk DPRD, dan Rp7,7 miliar pada sekretariat dewan. Selisih yang ditemukan hanya berkisar Rp35 juta, itu terjadi karena pada saat anggaran belanja tambahan sekretariat dewan mengajukan penambahan untuk keperluan biaya pegawai.
”Sebenarnya itu yang terjadi. Hanya pemindahan saja, harus dilakukan karena aturannya memang begitu. Dewan hanya diperkenankan untuk mencatat tunjangan penghasilan dewan, selebihnya, soal operasional dipisahkan ke Setwan,” paparnya.
Eka mengatakan, yang dipindahkan pada pos sekretariat dewan terdiri dari belanja pegawai Rp914 jutaan, belanja biaya jasa non PNS sekitar Rp5,4 miliar, biaya perjalanan dinas Rp843 juta, biaya pemeliharaan Rp344 jutaan, biaya operasi kendaraan Rp14 juta dan belanja modal Rp150 juta.
”Karena itu, angka-angka yang tertera dalam laporan sudah sesuai aturan,” bebernya dalam kesaksian yang menyidangkan terdakwa Haris Sutamin, Setiawan, Wawan Wanija, Citoni, Iing Sodikin, Ade Anwar Sham, Toha B Ana, dan Dahrin Syahrir.
Dirinya juga berpendapat, bahwa pertanggungjawaban anggota DPRD ditunjukkan dalam produk kinerja. meliputi produk Perda, Panmus bulanan, kinerja Pansus, hal tersebut tertera jelas pada pasal 79 ayat 1 dan 2 Kepmendagri 29 tahun 2002 tentang Tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah.
Sementara soal audit BPK dirinya mengaku tidak menerima laporan soal temuan kerugian negara, yang ada hanya menyinggung keterlambatan pembayaran pajak. Dan untuk lembaga pemeriksa, hanya dilakukan oleh Bawasda dan BPK RI. Sedangkan perihal Kepres 80 tahun 2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa tidak identik berlaku pada seketariat DPRD. Hanya merupakan pengelompokan pada kode rekening. ”Jadi perlu ditegaskan lagi, penyesuaian itu terjadi karena adanya SE,” terangnya.
Usai persidangan, Eko menyatakan meralat keterangannya yang telah dituangkan dalam BAP saat penyidikan Polda. Yakni tentang keluarnya anggaran senilai Rp900 juta untuk biaya reses yang dibayarkan pada bulan Juli.
Sementara itu, Kasubbag Perbendaharaan Pemkot Cirebon, Dikman Mahmud menyatakan penggunaan anggaran DPRD Kota Cirebon sebesar Rp3,3 miliar sebenarnya telah digunakan pada triwulan 1 dan 2. Sehingga pada bulan Juli sampai Desember tidak ada lagi surat perintah membayar (SPM).
”Rp3,3 miliar itu adalah anggaran yang sudah direalisasikan sampai dengan triwulan 1. Meski baru dicatatkan di triwulan 3, itu bukan duplikasi anggaran. Pada triwulan 3 juga, para anggota dewan 1999-2004 sudah tidak lagi jadi menjabat,” paparnya.
Dia menegaskan, dalam laporan keuangan tersebut yang terjadi sebenarnya bukan pembengkakan, tapi penyesuaian karena adanya SE Mendagri SE Mendagri Nomor 161/3211/ SJ.
Sementara itu, JPU Paryono SH menyatakan, BPKP yang sampai sekarang kelembagaannya masih berdiri, juga memiliki hak untuk memeriksa. Dan dalam laporan keuangannya, serta dijadikan dasar penyidik menetapkan status tersangka adalah ditemukannya kerugian negara sebesar Rp4,9 miliar.
Itu diantaranya terlihat dari biaya bantuan trasportasi Rp2,1 miliar, biaya bantuan hukum APBD 2001 Rp365 juta, biaya bantuan reses Rp980 juta, biaya lain-lain Rp202 juta dan masih banyak lagi. Total seluruhnya 26 poin.
”Perlu diingat, bahwa BPKP merupakan lembaga pemeriksa keuangan yang sampai kini masih eksis keberadaanya. Dan disitu jelas tertera ditemukannya kerugian negara,” tandasnya.
Terkait dengan pernyataan penasehat hukum bahwa JPU kurang memahami seluk beluk pembahasan APBD, menyerahkan sepenuhnya kepada pembuktian fakta di persidangan. ”Kita ngga urus soal itu. Yang kita kerjakan adalah pembuktian dakwaan dipersidangan dari keterangan saksi-saksi,” ucapnya di persidangan. 
Paryono juga menyinggung dalam waktu dekat berkas tersangka APBD Gate 2004 berikutnya akan dilimpahkan. Karena telah diperoleh kabar Idam Kholid, salah seorang tersangka, Senin malam meninggal dunia.
”Penyidik mungkin tinggal menunggu laporan resmi dari pihak keluarganya bahwa yang bersangkutan sudah meninggal. Tapi tetap, tersangka yang lain berkasnya dilimpahkan,” ungkapnya didampingi, anggota JPU, Agustian dan Subhan di kejaksaan.
Ketua Majelis Hakim Samir Erdy SH MHum, mengingatkan baik kepada Eka maupun Dikman untuk memberikan keterangan yang jujur dan tidak mengada-ada. Jika tidak, bukan tidak mungkin para saksi akan dipanggil kembali dan berubah statusnya. Untuk sidang ini, waktu persidangan akan berlanjut pada Rabu 17 Maret 2010 mendatang.
SIDANG DITUNDA
Pada sidang paginya, Ketua Majelis Hakim Irdalinda SH MH mengabulkan permohonan penasehat hukum untuk menunda persidangan karena Enang Iman Gana, salahseorang terdakwa tengah sakit. Penasehat Hukum terdakwa Wa Ode Nur Zainab SH mengatakan, berdasarkan Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana, jika ada terdakwa yang sakit maka persidangan ditunda demi hukum.
”Menurut KUHAP kalau sakit tidak bisa dilanjutkan. Karena persidangan itu prinsipnya harus dihadiri oleh terdakwa, terkecuali persidangan in absentia,” ucapnya.
Menanggapi keputusan penundaan sidang, Enang mengaku gembira. Karena dengan waktu yang tersisa menjadi harapan kesehatannya bisa pulih. Sekalipun sebenarnya agak enggan ke rumah sakit untuk melakukan perawatan. Karena mendapatkan perlakuan dari perawat yang kurang nyaman.
”Mentang-mentang saya pasien gratis. Kalau datang ke rumah sakit itu perawatnya pada manyun-manyun. Kaya yang ngga ikhlas gitu. Makanya kalau bisa sih saya pengen sembuh tapi tidak usah ke rumah sakit lagi,” selorohnya ditimpali gelak tawa rekan terdakwa yang lain diluar ruang sidang.
Untuk persidangan yang menyidangkan Jarot Adi Sutarti, Enang Iman Gana, Ahmad Djunaedi, Suyatno HA Saman, dan Safari Wartoyo, majelis hakim memutuskan akan dilanjutkan pada Jumat 19 Maret 2010.
KORBAN BERJATUHAN
Kader Partai Golkar Duddy Juharno mengaku prihatin dan berbelasungkawa yang sangat dalam atas meninggalnya Idam Kholid dari Partai PPP, salahseorang tersangka APBD Gate 2004. Menambah daftar panjang sejumlah nama yang telah pergi mendahului. Sebut saja Amin dari PDIP, Jauhari juga dari PDIP, Toni Panji Kusumah serta Agus Sompi dari Partai Golkar telah meningal dunia.
Dari pihak eksekutif, sejumlah nama yang telah meninggal dunia diantaranya mantan kabag keuangan Pemkot, Najaya, mantan kabag umum setwan Nur Fubiyanto, Jubaedi pegawai setwan, kepala bidang investgasi BPKP Provinsi Jabar Asep. Sedangkan yang sakit saat ini dialami Didi Sujadi, mantan Sekwan bersama dengan Suparman, antan kasubag verifikasi Pemkot.
”Memang kehidupan seseorang itu di tangan Tuhan yang maha kuasa. Tapi kan tetap saja, ada faktor pemicu. Nah berlarut-larutnya kasus APBD Gate inilah penyebabnya,” terangnya.
Kebanyakan dari mereka, kata Duddy, persoalan ini menjadi beban pikiran. Karena merasa tidak bersalah, tapi diproses secara hukum. Semua uang yang diterima adalah hak, jika memang dipersoalkan mestinya sejak awal dideteksi, bukan akhir-akhir waktu, apalagi sampai setahun kemudian.
”Padahal satu-satunya pemeriksa keuangan negara berdasarkan UUD 1945 pasal 23 E, BPK menyatakan tidak ditemukan kerugian negara. Dan jika ditemukan unsur pidana, pasal 14 UU 15 tahun 2004 jelas menyatakan akan langsung disampaikan kepada institusi yang berwajib. Dan itu tidak ada,” ungkapnya. (hen)

Bahan Bagus untuk Pidato SBY

E-mail Cetak PDF

SELAMA sepekan, sejak Sabtu lalu (6/3) hingga Jumat lusa (12/3), pemimpin redaksi Jawa Pos Leak Kustiya mendapat kesempatan untuk mengikuti program Senior Editors Meeting (SEM) di Sydney dan Canberra, Australia. Tahun ini, program yang diselenggarakan Australia-Indonesia Institute dan Australian Government Initiative itu mengundang enam editor dari media cetak dan televisi Indonesia untuk menjalin kerja sama dalam bidang jurnalistik dengan Australia.

Setelah tiga hari mengadakan serangkaian diskusi dengan para jurnalis di Negeri Kanguru dan berdialog dengan awak redaksi koran terbesar di Australia, Sydney Morning Herald (SMH) di Sydney, hari ini peserta SEM dijadwalkan mengikuti pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  (SBY) dan PM Australia Kevin Rudd di Canberra. Di ibu kota Australia yang hanya berpenduduk 300 ribu jiwa itu, Presiden SBY siang ini dijadwalkan menyampaikan pidato di gedung parlemen.
Dibandingkan Sydney yang kosmopolis, Canberra sepi dan dan lengang. Ibu kota Australia itu jauh dari bising dan hiruk-pikuk. Di beberapa sudut kota, jalan-jalan yang lebar dan mulus terasa agak mubazir karena tidak banyak kendaraan yang lalu-lalang. Mal dan pusat perbelanjaan bahkan sudah tutup pintu sebelum matahari terbenam.
Di Australia, Presiden SBY melakukan kunjungan kenegaraan ketiga setelah yang pertama pada 2005 dan kedua pada pertemuan APEC 2007 di Sydney. Dibandingkan dua pertemuan terdahulu, kedatangan SBY kali ini agaknya mendapat perhatian lebih besar dari masyarakat Australia.
Dalam dua hari terakhir, SMH dan harian The Australian memberikan porsi mencolok atas jadwal pidato Presiden SBY di gedung parlemen Canberra. Selama dua hari soal itu menjadi headline pada halaman internasional. Bahkan, pada edisi kemarin SMH menurunkan tiga angle berita dan dilengkapi artikel opini agak miring tentang hubungan RI dan Australia di masa lalu yang ditulis oleh redaktur internasional, Peter Hartcher.
Meski publik Australia menaruh banyak harapan positif atas hubungan Indonesia-Australia ke depan, beberapa persoalan krusial terkait penyelundupan obat terlarang (kasus Bali Nine), imigran gelap, terorisme, dan isu perubahan iklim akan menjadi hal-hal penting yang ditunggu langkah konkretnya oleh publik Australia. 
Persoalan terorisme masih menimbulkan banyak pertanyaan pers Australia. Keraguan apakah Polri betul-betul mampu mengatasi aksi terorisme menjadi topik hangat saat diskusi Senin lalu (8/3) di Sydney.
Lantas, saat acara makan malam yang diadakan di restoran Column, National Press Club, tadi malam (9/3), banyak peserta mengamati berita penangkapan teroris di Pamulang yang disiarkan televisi ABC. “Wah, Presiden SBY punya bahan pidato bagus untuk disampaikan di parlemen besok (hari ini),” kata seorang jurnalis Australia dengan nada bercanda.
Memang tak banyak pemimpin negara yang diberi penghormatan oleh Australia untuk menyampaikan pidato di gedung parlemen. Presiden SBY adalah orang ketiga setelah Lee Kwan Yew (mentor menteri Singapura) dan Hu Jintao (presiden Tiongkok). Yang keempat adalah Presiden AS Barack Hussein Obama yang akan berkunjung ke Australia bulan depan.
Tentang momen khusus ini, ada koran Australia yang menyebutnya sebagai kesempatan baik bagi Presiden SBY untuk refreshing setelah tiga bulan dihajar kasus Bank Century sekaligus bulan madu untuk masa pemerintahannya yang kedua. (*/dwi)

Gubernur Endus Sejak Setahun Lalu

E-mail Cetak PDF

JAKARTA - Gubernur Aceh Irwandi Yusuf memastikan bahwa Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tidak terlibat dalam terorisme di Aceh. Bahkan, dia menegaskan bahwa mantan anggota GAM dikerahkan untuk mensuplai informasi tentang aktivitas para militan.

“Kasus ini bukan orisinil kasus Aceh. Kasus ini datang dari luar. Beberapa orang yang ditangkap berasal dari Jawa, Pandeglang, Solo, dan lain sebagainya. Karena itu, saya minta Polri membersihkan sampah “sampah dari Jawa ini dari Aceh,” tegas Irwandi saat menggelar konferensi pers khusus di Hotel Borobudur kemarin (9/3).
Irwandi secara khusus menggelar konferensi pers kemarin (9/3) sebelum menemui Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri. Mengenakan kemeja biru langit, Irwandi didampingi mantan Panglima GAM Muzakkir Manaf. “Saya ke Jakarta menemui Kapolri untuk up date informasi,” katanya.
Irwandi yang juga mantan petinggi GAM ini mengaku sudah mengendus aktivitas para militan sejak setahun lalu. Aktivitas mereka saat itu hanya berlatih secara militer dan mendekati masyarakat Aceh. Irwandi lantas mengkoordinasikannya dengan Polri. Namun, Polri tak langsung menangkapnya. Sebab, kata Irwandi, aktivitas mereka belum jelas. Kalau ditangkap, bisa-bisa Polri disalahkan karena belum cukup bukti dan unsur pidananya.
“Secara intelejen kita sudah tahu. Tapi, info intelejen kan belum tentu faktual. Saya sudah koordinasikan, Polri bilang menunggu momen dan unsur-unsurnya terpenuhi dulu baru ditindak,” katanya.
Irwandi mengatakan, saat itu dia sudah mengetahui niat jahat para teroris. Para militan ingin menjadikan Aceh sebagai basis terorisme di kawasan Asia Tenggara. Mereka pun mulai masuk ke masyarakat Aceh dengan jalur kultural. Mereka berceramah dan mengajak masyarakat bergabung. Mereka juga menampilkan diri sebagai sosok yang santun dan relijius. “Mereka membawa isu-isu Palestina, Ambon, dan Poso, untuk merekrut anggota,” katanya.
Awalnya, mereka berlatih di kawasan Janto, Aceh Besar. Mereka berlatih tembak menembak dan latihan-latihan militer. Kawasan Janto sebenarnya dekat dengan kawasan transmigran dan markas TNI. “Tapi, mereka memilih tempat latihan yang dalam di hutan. Itu agar suara tembakan tidak terdengar,” katanya.
Ketika itu, kata Irwandi, paling tidak ada 50 orang militan. Mereka berasal dari Pandeglang, Solo, dan daerah Jawa lainnya. Ada juga dari mereka yang mengaku alumnus Mindanao, Filipina. Daerah Mindanano memang dikenal sebagai basis militan dari kelompok militan Abu Sayyaf dan Moro Islamic Liberation Front (MILF).(aga/pri)

Akhir Perjalanan Teroris Senilai 10 Juta Dolar

E-mail Cetak PDF

RIWAYAT perjalanan hidup Dulmatin akhirnya terhenti di ujung timah panas Polri di Tangerang. Padahal, sebelumnya, teroris yang kepalanya dihargai senilai USD 10 juta (Rp9,2 miliar) oleh pemerintah AS tersebut dikabarkan tertembak tiga kali.

Kabar kematian tersebut dipastikan oleh sebuah sumber kuat di kepolisian. “Sudah A1 (terpercaya, red) itu Dulmatin. Tes DNA-nya memang belum keluar, tapi kami yakin itu Dulmatin dari ciri-ciri fisiknya,” ucap sumber tersebut. Dia juga menuturkan cewek yang ikut tertembak tersebut adalah istrinya dari Pekalongan, si Ummu Aisah.
Pada Januari 2005 lalu, militer Filipina merilis kabar Dulmatin tewas dalam sebuah serangan udara. Namun, kabar tersebut tak bisa dikonfirmasi. Pada Agustus 2006, tentara Filipina merilis kabar serupa. Lagi-lagi tak bisa dikonfirmasi kebenarannya. Kemudian pada 16 Januari 2007, lagi-lagi dikabarkan Dulmatin tertembak di Jolo, Basilan.
Kali ini kabar itu tampaknya akurat. “Dia (Dulmatin, red) tidak mati, tapi tertembak dan sempat tertangkap. Fotonya ada,” kata sebuah sumber di kepolisian. Namun, tidak tahu bagaimana ceritanya, Dulmatin tiba-tiba lepas. Diduga kuat, ini merupakan bagian dari pertukaran tawanan antara kelompok militan dengan pemerintah. Di Filipina memang kerap terjadi seperti itu. Sejumlah militan Indonesia pun pernah mengalami hal serupa. Tertangkap, namun kemudian dibebaskan oleh MILF (Moro Islamic Liberation Front).
“Karir” Dulmatin di dunia militan memang cukup panjang. Dia terlahir pada 6 Juni 1970 di Petarukan, Pemalang dengan nama Joko Pitono. Anak keempat dari lima bersaudara tersebut lulus SMA pada 1992 dan merantau ke Malaysia. Tiga tahun kemudian dia pulang, menikah dengan Ummu Aisah, dan berganti nama menjadi Asmar Usman.
Di Malaysia inilah, awal persinggungannya dengan kelompok militan. Berangkat ke Afghanistan, dan sejak awal sudah bergabung dengan faksi Ali Ghufron dan Hambali di Jamaah Islamiyyah. Dia dipercaya terlibat dalam sejumlah serangkaian pemboman gereja antara 1999-2002. Termasuk salah satu otak Bom Bali I pada 2002. Dia mempunyai banyak nama alias, yakni Joko Pitoyo, Abdul Matin, Muktamar, Djoko, dan Noval.
Selanjutnya, aktif di Poso, sebelum akhirnya Dulmatin kabur ke Mindanao dan menjadi instruktur di Kamp Hudaibiyah. Di Filipina dia dikenal dengan nama Zaid Ali. Setelah pemerintah Filipina melancarkan all out war, MILF terdesak dan begitu pula militan Indonesia. Sejumlah pentolan JI asal Indonesia seperti Dulmatin, Umar Patek, dan Ali Fauzi kemudian kabur ke arah daerah rawa-rawa di SK Pendaton. Di sana di tengah rawa-rawa, sekitar 20 orang militan Indonesia membangun sebuah kamp sendiri.
“Tapi, kemudian berkurang satu per satu. Saya sendiri kini tak tahu bagaimana kondisi kamp itu sekarang,” kata Ali Fauzi.
Beberapa saat kemudian, Dulmatin kabarnya beralih ke arah Basilan. Di sana, kabarnya Dulmatin bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf, sebuah kelompok militan yang dengan visi yang condong ke Al-Qaedah. Sejak saat itulah, kabar pastinya tak pernah diketahui. “Terakhir ya 2007 itu,” tambahnya.
Sumber lain di kepolisian menyebutkan kembalinya Dulmatin ke Indonesia tak pernah diketahui secara pasti. Namun, yang jelas, keberadaannya sudah terendus sejak pemboman Marriott II pada 2009 lalu. “Memang masih ada Noordin Mohd Top, tapi keberadaan Dulmatin mulai terasa,” ucapnya.
Rupanya, Dulmatin memang benar-benar kembali ke Indonesia, dan menyusun kembali kekuatan. “Kami memastikan Dulmatin bersama satu nama lagi yang masih buron (berinisial Mt) adalah otak kelompok yang kini berlatih di Aceh,” tandasnya. (ano)

3 Peluru Habisi Dulmatin

E-mail Cetak PDF

Tewas Saat Chatting
dengan Donatur

JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri mendapat tangkapan besar kemarin (9/3). Seorang tokoh teroris yang buron selama bertahun-tahun tewas tertembak di Pamulang, Tangerang, Banten. Tokoh yang menggunakan nama samaran Yahya Ibrahim alias Muktamar itu diduga sebagai Dulmatin.

Perangkai bom utama pada kasus Bom Bali I (2002) itu tewas tertembak tiga peluru personel Densus 88 di warnet Multiplus, Jalan Siliwangi, Pamulang, setelah diburu sejak hari Minggu lalu (7/3). Jejak Yahya yang menjadi otak utama pengirim kader dan logistik latihan teroris di Aceh sempat terendus di Pandeglang sehari sebelum operasi di Pamulang.
Kepala Densus 88 Mabes Polri Brigjen Tito Karnavian menegaskan bahwa Yahya merupakan otak latihan militer kelompok militant di Aceh. “Dia biang kerok yang mengirim orang ke Aceh,” kata Tito.
Lantas, apakah benar Yahya merupakan samaran Dulmatin? “Yang jelas, dia (Yahya) tokoh besar dan punya nama besar (di kalangan kelompok militan),” kata alumnus Akpol 1987 itu.
Penggerebekan Yahya itu dimulai sejak Selasa subuh hari. Beberapa personel pendahulu dari Subden Intelijen Densus 88 Mabes Polri sudah membuntuti Yahya dari Pandeglang. Sebelum menuju warnet Multiplus, Yahya sempat mampir di rumah jalan Setiabudi nomor 15.
Setelah Yahya masuk ke Multiplus, tim pendobrak maju merangsek ke dalam. Manajer warnet Rinda Diana (31) mengatakan saat penggerebekan sekitar pukul 11.10 tiga polisi lengkap dengan penutup wajah dilengkapi senjata laras panjang masuk dan menyuruh untuk tiarap semua yang ada di dalam warnet. “Tiarap semua, ada teroris,” kata Rinda menirukan personel Densus itu.
Setelah itu, Rinda mendengar tiga kali letusan. “Seperti petasan, saya tidak berani naik ke lantai dua,” kata perempuan berjilbab biru itu. Dulmatin alias Yahya menggunakan bilik nomor sembilan dari 10 bilik yang tersedia.
Menurut Kadivhumas Irjen Edward Aritonang, saat hendak diringkus Yahya melawan. “Dia menembak satu kali dengan revolver berisi enam peluru,” katanya. Karena terancam keselamatannya, petugas melumpuhkan Yahya dengan menembak di perut dan paha.
Bekas tembakan dan selongsong peluru ditemukan di tembok lantai dua. Revolver yang digunakan Yahya berjenis Colt berukuran kecil. Revolver itu dipegang dengan tangan kanan.
Tim identifikasi dari Puslabfor Mabes Polri dan Inafis (Indonesia Automatic Fingerprints Identification System) langsung mengidentifikasi jenazah. Selain menggunakan data pembanding sidik jari dan mengumpulkan sisa lapisan kulit dan rambut, tim juga mengambil data di komputer yang sedang digunakan Yahya.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos (Grup Radar Cirebon) dari berbagai sumber, sesaat sebelum tewas ditembak, Yahya sempat chatting (berkomunikasi  dengan media internet) dengan seseorang berinisial “Abu Zakaria”. Mereka sempat menyinggung dana operasi Aceh.
“Kita akan kirim madu lagi ke Mekkah, antum punya stok berapa,” tulis Yahya sebelum meninggal sebagaimana ditirukan sumber Jawa Pos. Madu diduga kode untuk amunisi atau peluru dan Mekkah adalah kode untuk Aceh yang juga sering disebut Serambi Mekkah.
Saat ini, Abu Zakaria yang sedang berkomunikasi itu masih diburu polisi. Abu Zakaria ini diduga kuat adalah salah satu donatur yang mengirimkan suplai dana.  “Dia bukan orang asing, orang Indonesia, kami duga di Jawa Tengah,” katanya. Tadi malam pukul 21.00, satu tim Subden Intelijen 88 telah berada di kota itu.
Penggerebekan Yahya juga melibatkan saksi-saksi mata di sekitar lokasi. Diantaranya sepasang suami istri yang kebetulan sang istri sedang potong rambut di dekat Multiplus. Mereka ikut diinterogasi karena si lelaki ikut berada di ruangan lantai dua Multiplus. Statusnya adalah saksi.
Setelah melumpuhkan Yahya, tim mengejar dua orang pengawalnya ke rumah dr Fauzi di jalan Dr Setiabudi, Gang Asem, RT 03/05, Pamulang Barat, sekitar satu kilometer dari Multiplus. “Mereka berinisial R dan H, mereka juga melawan petugas,” kata Kadivhumas Edward Aritonang.
Menurut saksi mata warga setempat, Ade Setiawan (25) mengatakan, jika dia lihat kedua pelaku yang membawa tas hitam jatuh dari motor Suzuki Thundernya. Lalu saat ingin ditangkap, pelaku pria yang mengenakan kaos hitam, celana perempat dan menggunakan sandal jepit merogoh pistol dari kantong belakang. Sementara yang dibonceng meraih sesuatu dari dalam tas. “Yang kita takutkan itu tas isinya bom dan meledak,” katanya.
Setelah tersangka tewas, tim Gegana dengan mengenakan pakaian tertutup dan helm tertutup berusaha menyisir lokasi dekat kedua jenazah pelaku. Petugas juga menarik tas milik pelaku dengan tali.
Petugas Puslabfor Mabes Polri yang juga datang kelokasi kejadian melakukan penyidikan di lokasi tempat kejadian perkara. Jenazah pelaku kemudian dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk di visum. Sementara petugas gabungan juga terus menjaga ketat dan memberikan tanda garis polisi di dua lokasi kejadian karena warga ingin sekali melihat kejadian itu dari jarak dekat. 
Setelah itu, lima orang petugas Densus 88 masuk ke rumah berlantai dua yang berpagar warna cokelat itu dengan daun pintu yang sudah terbuka, sedang plafon juga hancur. Beberapa petugas yang menyisir seisi rumah juga nampak menenteng laptop, berbagai CD dan dua kantung plastik berisi buku-buku. Namun Edward Ariotonang memastikan tidak ditemukan senjata api maupun amunisi dan bahan peledak di dalam rumah tersebut.”Yang jelas mereka ini (para teroris yang tertangkap dan mati) merupakan pemasok senjata dan pemasok dana para teroris,” tegasnya.”
Dua orang pria ditangkap di rumah ini, kedua pria itu, DR alias H dan SB alias I saat digiring keluar rumah hanya mengenakan celana pendek tapa berbaju.
Warga sekitar mengatakan kalau rumah itu milik pria beranak tiga bernama dr Fauzi yang sering menggelar pengajian pada setiap hari Jumat.”Bisa 50-an orang, rata-rata berjubah dan berjenggot lebat, dia muridnya Abu Jibril,” kata ketua RT setempat Zaini. Dia mengatakan, kalau dr Fauzi dan istrinya bersama ketiga anaknya sudah diamankan di suatu tempat oleh jajaran Densus 88 Mabes Polri.
Secara terpisah, Abu Jibril, ayah Muhammad Jibril (tersangka peledakan JW Marriott 2009) membenarkan jika dr Fauzi adalah jamaah pengajiannya. “Dia sering datang tiap hari. Tapi aktivitas di luar pengajian saya tidak tahu. Yang jelas saya tidak mengajarkan terorisme,” katanya. (rdl/jpnn/ibl/kin)

Beras Picu Inflasi di Cirebon

E-mail Cetak PDF

Februari, Kota di Jabar Alami Inflasi
CIREBON - Komoditas beras memberi andil signifikan terhadap inflasi yang terjadi di Kota Cirebon pada Februari 2010. Pada pertengahan triwulan pertama 2010 tersebut, inflasi di Kota Cirebon mencapai 0,07 persen, dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 123,11 persen.

Selanjutnya...

Hape Esia Connect Diluncurkan

E-mail Cetak PDF

JAKARTA - Antusias masyarakat terhadap berbagai aplikasi pertemanan sosial seperti facebook atau instant messenger terus menggugah kreativitas Esia. Setelah hadir dengan Hape Esia Gayaku dan Hape Esia Online, Esia kembali menurunkan harga hape warna termurah dengan menghadirkan Hape Esia Connect yang sarat dengan aplikasi resmi pertemanan sosial.
Dengan harga yang paling murah dari yang pernah ada, hanya senilai Rp225 ribu (plus PPN), Hape Esia Connect akan memperkaya pilihan kaum muda untuk memiliki hape warna murah, keren dan canggih untuk bisa saling berhubungan melalui facebook atau Esia Messanger.

Selanjutnya...

Pembelian Melalui Kartu Kredit Direspons

E-mail Cetak PDF

Gramedia Siapkan Berbagai Program
CIREBON - Antusiasme konsumen TB Gramedia untuk memanfaatkan fasilitas kartu kredit dalam proses pembelian, boleh dikatakan konsisten tiap tahunnya. Terbukti, beberapa bank seperti BNI dan BCA memberi kemudahan bagi para nasabahnya untuk melakukan transaksi menggunakan kartu kredit.

Selanjutnya...

hal 1 dari 105